Ica, seorang wanita yang berprofesi sebagai editor, tiba-tiba dibuat terkejut oleh kedua sosok makhluk aneh nan misterius yang meminta bantuannya untuk menunjukkan kepada mereka bunga-bunga yang selalu bermekaran di bumi.
....Sepertinya ini sudah t...
Before you guys reading this first story of mine, pls appreciate me easily just by press the vote button and give me a comment if u interested with dis story. Thanks before and ⤵️
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hai kalian para makhluk bumi yang membaca ini! Apa kabar? Aku harap kebahagiaan selalu mengelilingi kalian ya. Oh ya tujuan awal aku menyapa kalian yang lain dan tidak bukan tentu saja untuk memperkenalkan diriku terlebih dahulu sebelum memasuki kisahku eumm.. kisahku yang mungkin bisa dibilang cukup menyenangkan dan menarik yang nantinya akan diceritakan disini, jadi kalian harus bersabar ya sebelum memasuki kisah kehidupanku ini! Aku harap kalian akan selalu menantinya.
Namaku Rycca Tavisha, biasanya sih dipanggil Ica, ya walaupun aku tidak terlalu menyukai nama panggilan tersebut, sih, tapi Ica adalah nickname yang easy to say isn't it? Baiklah langsung saja ke awal kisah bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka yang bukanlah makhluk hi--- Tidak tidak... Mereka tentu saja hidup tapi bukan sebagai.... Ya bukan seperti kita yang berada di planet setelah merkurius dan venus ini.
Hari itu, adalah hari pertama aku berjumpa dengannya, hari yang diawali seperti biasa olehku. Ya.. dimulai dengan aku menutup pintu apartmentku, hanya berpamit dalam hati karena aku memang tinggal seorang diri di apart ini, by the way aku adalah seorang editor di sebuah perusahaan buku yang berlokasi di DKI Jakarta, sebelum bekerja disini aku tinggal bersama keluargaku di Dago, Bandung. Apalah daya, rezekiku berada di kota lain yang mengharuskan aku merantau ke Ibukotanya Indonesia. Entah apa alasannya, aku tidak terlalu peduli dengan kesendirian ini, aku masih bahagia hidup melajang! Toh aku juga sama sekali tidak pernah merasa kesepian. Yeah, cause i like to being single. Being single is one of my pride.
Setelah turun dari lift, aku bergegas menuju ke Stasiun Sukakamu seperti biasa, tidak lupa aku mampir terlebih dahulu ke Betamart untuk membeli roti lapis dan susu matcha kesukaanku. Ke Betamart sepertinya sudah menjadi rutinitasku setiap pagi sebelum pergi menuju ke kantor naik kereta api tanpa tut tut tut.
Sepuluh menit berlalu, kereta tujuanku pun tiba, langsung saja tanpa ba bi bu aku menempati kursi penumpang yang kosong sebelum direbut oleh orang lain. Aku hendak menenangkan diriku di tengah kebisingan yang ada di dalam kereta ini dengan mendengarkan lagu berjudul Psycho by Red Velvet melalui headset tentu saja. Namun belum sampai headset sebelah kiri menyentuh telinga bagian kiriku, aku dibuyarkan oleh percakapan bodoh kedua siswi yang duduk tepat di sampingku, "Kamu percaya ga sih kalo alien itu ada?" ucap salah seorang siswi yang memakai hiasan di wajah super menor, "Emm... aku gak tau, sih, tapi kayaknya alien emang ada di Kutub Timur, Din!" Jawab temannya itu sambil berseru kecil. Tak mau ambil pusing, lantas aku berkomentar mengenai percakapan bodoh mereka lewat dalam hati saja 'Cih bodoh sekali! Alien itu gak mungkin ada di alam semesta, apalagi di Kutub Timur. Lagipula kutub itu cuma ada dua yaitu utara dan selatan tau! Percuma saja orang tua kalian menyekolahkan kalian tapi anak-anaknya berbuat hayalan mengenai adanya Kutub Timur di dunia ini. Kalian sudah terbutakan oleh cerita-cerita fiksi tentang alien apa bagaimana, sih?' Akhir-akhir ini, tanpa disadari aku jadi lebih sensitif akan hal-hal yang tidak sengaja terdengar melalui kedua indera pendengaranku, detik itu juga rasanya moodku hancur lebur hanya karena percakapan konyol yang dilontarkan oleh kedua siswi tersebut.
Untungnya, kereta berhenti di stasiun yang aku tuju dengan cepat, pintu-pintu pun mulai terbuka. Kulihat kedua siswi itu pun ikut turun di stasiun ini juga dan turun dari sebelah pintu kanan kereta, tak sudi melewati pintu yang sama dengan mereka, aku lebih memilih melewati pintu sebelah kiri. Aku pun melangkah, "Mbak awas jatoh, pintu sebelah kiri rusak!!" Ucap seseorang yang terlambat, bersamaan dengan diriku yang terjatuh.
Warna-warni adalah objek pertama yang aku lihat saat aku sadar setelah pingsan entah sejak kapan. Belum juga aku fokus dengan objek yang berada di sekelilingku ini aku sudah dibuat terkejut oleh kedua objek lain yang tiba-tiba datang menghampiriku. Tak ada satu menit salah satu dari kedua objek itu pun menepuk pundakku sambil berkata "Hoi manusia, namaku Adjetz. Panggil saja aku Jetz, untuk kedepannya kami membutuhkanmu," ucapnya yang berada tepat di hadapanku tersebut diiringi dengan muka cuek nan dinginnya. Tak lama, makhluk aneh yang satu lagi menghampiriku, kalau boleh jujur wajahnya cukup, oh tidak, tapi sangat tampan, walaupun dia aneh sih, "Jetz, bukan begitu caranya menyapa manusia! Kita disini membutuhkan bantuannya jadi berbaik hatilah padanya!" Ucapnya dengan tegas, lalu berpaling dari arah makhluk yang dipanggil Jetz ke arahku sambil berkata "Hai gadis manusia, aku dan Jetz adalah alien yang baru saja sampai disini, untuk mengetahui dunia manusia," Aduhh kejutan bodoh macam apa lagi ini setelah kedua siswi dengan percakapan bodoh mereka itu. Dengan entengnya aku langsung menjawab "Alien gak mungkin ada! Kalian pasti hanya orang gila yang tergila-gila dengan alien. Iya, kan? Ngaku aja deh!!" Ucapku dengan amarah yang sepertinya sudah berada di titik puncak. Tak pikir panjang aku pun menarik kedua benda yang terlihat seperti bando yang berada di atas kepala salah satu dari mereka yang berparas tampan. Aku menarik bando tersebut dengan keras namun tidak bisa dilepas. Aku pun menariknya lagi, seketika benda yang terlihat seperti bando tersebut menjadi panas dan menyengat kedua tanganku dalam sekejap. Sesosok yang bernama Jetz itu menepak tanganku sampai tanganku terlepas, "Hentikan! Antena alien itu sama saja dengan bokong manusia. Bukankah tidak sopan memegang bokong alien lain? Ah maksudku orang lain. Lagipula jika kau bersikeras untuk menarik antena kami kau akan tersengat listrik yang lebih parah dan akan terbakar menjadi abu," Jelasnya.
Aku langsung terdiam sambil menggosok tanganku yang tadi sempat tersengat benda yang namanya antena bersamaan dengan wajahku yang memerah menahan rasa malu. Aku melirik sekilas ke arah salah satu dari mereka yang baru saja tadi kutarik antenanya, wajahnya pun sedikit memerah, kami terdiam untuk beberapa saat sampai pada akhirnya sesosok makhluk yang katanya alien ini membuka suaranya lagi dengan pelan dan tenang, "Namaku Fathunus, panggil saja aku Fath. Kuharap kamu mau membimbing kami tentang dunia manusia, setidaknya mungkin hingga daun mulai menguning dan berguguran. Untuk saat ini, maukah kamu mengantar kami untuk melihat bunga yang bermekaran? Di planet kami tidak pernah ada yang seperti itu. Seperti apakah itu?" Ia berkata sambil tersenyum lembut dan tulus kepadaku, tidak seperti alien satunya lagi yang bernama Jetz. Lantas, aku pun tersenyum sambil berbicara dari dalam hati 'Hm.. Bunga yang bermekaran ya? Kurasa itu seperti senyummu, Fath.'