Get home safe

5.1K 464 37
                                        

Dua puluh dua tahun, usia yang cukup muda bagi Mark untuk menyadari bahwa ia tidak begitu berguna hidup di dunia ini. Ayah Mark yang notabenenya hanya seorang single parent sepertinya sibuk untuk mengurusi segala macam tetek bengek perusahaan besarnya itu, membiarkan—atau lebih tepatnya tidak peduli—dengan hidup seorang Mark Lee. Sang ayah melepasnya hidup mandiri dengan setumpuk uang dan apartemen serta sebuah mobil mewah.

Mark tidak pernah peduli dengan hal tersebut. Ya, ia tidak peduli. Ia lebih memilih menghabiskan uang ayahnya yang tak akan pernah habis itu dengan berluntang-lantung di kota Seoul, memamerkan kekayaannya selepas lulus dari SMA.

Kuliah? Mark tidak—belum—pernah berpikir ia akan mengambil perkuliahan setelah lulus dari SMA. Bersenang-senang terlebih dahulu melepas masa SMA adalah saat-saat terbaik saat ini.

Mark begitu tidak peduli dengan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Ia selalu beranggapan hidupnya tidak begitu penting—sangat tidak penting malah. Sampai ia bertemu seorang pemuda manis dengan mata bulat dan kulit madunya yang sangat indah.
.
.
.
.
Mark mendengus sambil memandang ke sekelilingnya yang ternyata cukup sepi. Mark berdiri sambil menyandar malas di dinding stasiun kereta bawah tanah. Menunggu ternyata cukup menyebalkan, ia meninggalkan mobilnya dan lebih memilih kereta bawah tanah untuk menghindari kemacetan jalanan Seoul yang pagi ini tertutupi oleh salju.

Mark menjatuhkan puntung rokok kesekiannya yang ia hirup ke tanah, menginjak itu sambil sedikit melamun lalu menyalakan rokok yang baru. Mark adalah seorang perokok berat yang lebih memilih sebatang rokok dibandingkan dengan sepiring makanan. Padahal dirinya tahu rokok tidak sehat—sangat tahu.

Dua tahun yang lalu ia mengetahui jika ayahnya membenci seorang perokok. Sang ayah membenci seorang perokok dan ia yang membenci sang ayah. Ini bisa menjadi alasan pertama mengapa dua tahun belakangan ini Mark sudah mulai merokok tanpa henti.

Mark masih tenggelam dalam pikirannya, tidak menyadari seseorang yang berdiri agak jauh di sampingnya tengah terbatuk-batuk dengan keras. Hal itu menyentak pikiran Mark untuk kembali lagi ke dunia nyata. Dengan cepat Mark melempar sisa rokoknya yang masih menyala ke tanah dan mencoba menghilangkan asap-asap dari rokoknya. Mark melongokkan kepalanya untuk melihat dengan jelas sosok yang masih terbatuk-batuk itu.

Dalam detik itu, Mark tidak berharap jika hatinya tiba-tiba berhenti berdetak.

Pemuda yang terbatuk keras ikut melongokkan wajahnya yang sedikit pucat untuk menatap wajah Mark yang sepertinya tiba-tiba membeku. Mark tersentak ketika pemuda itu menundukkan kepalanya dan dia batuk lagi, sangat menyakitkan kali ini.

Mark sangat panik ketika menyadari batuk itu tak berhenti setelah beberapa kali. Tangan mungil pemuda itu mencengkram dadanya dan tangan lainnya menutup mulutnya, masih terus terbatuk.

"Maaf maaf, kamu gak apa-apa?" Mark melangkah mendekat berpikiran mungkin ia dapat membantu dan setelah itu ia akan meminta maaf karena telah merokok di tempat umum yang membuat pemuda manis ini terbatuk—sampai ketika sang pemuda manis mendorongnya menjauh dengan tangannya. Membuat Mark diam seketika tanpa ekspresi untuk mencerna apa yang barusan terjadi.

Ini adalah sebuah penolakan pertama yang pernah Mark terima dalam hidupnya. Pemuda itu baru saja menolak Mark yang berniat ingin membantunya!

Mark terus mengumpat dalam hati mengutuk apa yang salah pada dirinya, ia hanya mencoba membantu. Mark melirik lagi ke arah pemuda tadi yang masih terbatuk, ia melihat pemuda tersebut meraih tas punggungnya dan merogoh ke dalam mencari sesuatu.

Kemarahan Mark hilang seketika saat pemuda itu telah menemukan sebuah inhaler dari tasnya, mendekatkan benda tersebut ke mulutnya dengan tangan gemetar. Mark bahkan tidak berani bergerak sedikitpun dan sedikit berdoa agar benda tersebut dapat berguna dengan baik. Mark menyaksikan pemuda itu menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Terus menerus seperti itu sampai akhirnya helaan nafas pemuda tadi kembali normal, pemuda itu tampak lebih baik sekarang dan entah kenapa Mark ingin berterima kasih pada siapapun itu yang telah menemukan inhaler.

Walk you home | MARKHYUCK AU [Completed]Stories to obsess over. Discover now