the beginning

7 1 0
                                        

Mika POV:
Aku masih ingat jelas hari itu. Saat itu Tanggal 02-Mei-19.
Awal mula dimana aku sadar kalau hidup ku ini di penuhi akan kepalsuan.
Awal mula di mana aku tau bahwa untuk berharap pun aku tak layak.
Saat itu aku terbangun seperti biasa, jam setengah lima, lalu turun ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi. Aku sudah terbiasa bangun cepat dan mempersiapkan sarapan sebelum ke sekolah sejak umur 14 tahun. Ibu bilang supaya aku bisa menjadi gadis serba bisa.

Setelah selesai, aku pun mulai membersihkan diri dan bersiap siap untuk ke sekolah. Setengah jam berlalu dan semua aktivitas ku selesai.
Aku pun turun lagi untuk sarapan bersama keluarga ku. saat aku turun menuju meja makan, ayah, bunda, nenek, dan Lily sudah bangun dan menikmati sarapan pagi buatan ku.

"Pagi ayah, pagi bunda, pagi Lily, pagi nenek.." sapa ku basa basi pada mereka

"Pagi" jawab mereka serempak tanpa memandang kearah ku.

Aku hanya tersenyum kecil melihat nya. Sudah biasa bagi ku di cuekin begini.
Aku lekas mengambil sarapan ku yang sudah kupersiapkan di Tupperware biruku dan botol air minum berisi susu putih.

Oh iya, sebagai pengingat guys,.. aku tidak pernah sarapan dengan keluarga ku. Alasan nya sih gk masuk akal. Kata bunda sih karna di ruang makan cuma ada 4 kursi jadi gak cukup buat semua nya. Aku pernah saranin buat beli kursi ke bunda tapi nenek langsung nyerocos bilang kalo itu hanya buang buang duit doang, padahal keluarga kami cukup terpandang.

Kalo beli kursi doang gak bakal bangkrut keluarga Alexander.

Pernah juga nenek pulang ke rumah utama, jadi kursi yang biasa di tempati nenek kosong. Aku berencana duduk disana, tapi ayah langsung bilang kalo aku sarapan di tempat lain aja. Pas aku tanya kenapa., Ayah langsung bilang kalo dia en'nek liat muka aku. Dari situ aku sadar kalo ternyata dari awal mereka gak suka makan bareng aku.

Sedih sih, tapi aku positif thinking aja, mungkin ayah lagi banyak masalah di kantor makanya ngomong nya gitu.

"Ayah, semuanya...mika berangkat duluan y, permisi"

Aku pun segera berangkat ke sekolah yang berjarak 2 km dari rumah ku. Dan ya, aku harus jalan kaki. Ayah gak pernah mau nganter aku keskolah, gak tau kenapa. Padahal Lily tiap hari selalu diantar jemput. Lily juga satu skolah sama aku. Harusnya berangkat sama juga gak papa kan. Tapi ayah selalu nolak ngantar aku.

Kenapa jalan kaki?

Kenapa gk naik angkot aja??

Alasan nya karena uang saku ku pas pasan. Kalo tiba tiba ada pungutan atau kepentingan sekolah kan bahaya. Minta ke ayah atau bunda juga gak bakal di kasih. Katanya biar sama kayak Lily. Nyatanya aku pernah liat Lily di kasih uang tambahan sama ayah, sama nenek juga. Aku jadi Bingung sebenarnya kenapa aku selalu di bedain sama lily.
Apa karena Lily anak paling kecil??

Di sekolah
"Huft... Akhirnya sampe juga"

"Oih!! Lo jalan lagi ika?"

"Lebih baik jalan via, biar sehat..."jawab ku seadanya pada Olivia, sahabat ku semenjak duduk di bangku smk. Orang nya sih suka ceplas-ceplos gitu, tapi asik kok.

"Gua jadi heran sama Lo ika, katanya keluarga Alexander itu kaya, tapi gaya hidup Lo jauh dari kriteria kaya. lah, Adek lo Lily si primadona sekolah baru sesuai di sebut seorang Alexander"

"Hahahaha,
Ika sih lebih suka gaya hidup begini via, dah biasa Ika mah."

"Serah Lo deh,.."

Jam pelajaran pun berlangsung, materi yang membuat banyak otak jadi buntu, tapi justru kesenangan bagiku. Mengerjakan soal debit kredit ini membuang sedikit beban pikiran ku. Aku asik dengan laporan keuangan di depan mataku itu ditemani dengan sebuah benda yang di penuhi angka angka yang membantu ku menghitung jumlah uang yg tak nyata adanya.

"Hadehhh...nyesel gue masuk nih jurusan. Itung duit org sampe milyaran, y duit kita sendiri kagak ada. Kan kurang kerjaan "ujar Olivia dengan unek unek nya begitu jam pelajaran selesai. Aku hanya merespon nya dengan kekehan kecil.

"Ika ... Kantin yuk" ajak Olivia kemudian

"Gk deh, ika bawa bekal."

"Oalah ika... Lo slalu aja bawa bekal, rajin amat sih, y udah deh gue ke kantin dlu y, jangan rindu. Berat biar mang kasep aja"

Aku terkekeh mendengar Olivia. Ini lah yang membuat ku senang dengan nya, dia tak sadar jika tingkah nya itu sangat menghibur diriku.
Mika POV end

Kaki kecil itu melangkah santai menuju roof top sekolah itu. Disanalah dia biasanya menikmati bekal yang seharusnya menjadi sarapan, kini menjadi makan siang nya. Dia mulai memakan sepotong sandwich buatan nya pagi ini.

"Selamat makan!"

"Oih!! Bisa diam gk sih! Makan y makan! Gak usah pake teriak! Bising tau gk?!"

Suara bariton itu cukup mengejutkan gadis yang tadinya hendak menikmati makannya. Dengan segera dia berbalik mencari asal suara berat itu. Suara itu berasal dari seorang pria yang sedang duduk di pinggir tembok pembatas roof top itu dengan santainya. Disisi lain, gadis yang bernama mika itu membelak kan matanya terkejut dengan apa yg di lakukan pria itu.

"Hati hati!! Awas lo bisa jatuh! Bahaya!"

Tanpa pikir panjang mika segera meletakkan bekalnya dan berlari kearah pria yang bahkan tak di kenalnya. Keselamatan seseorang lebih utama. Itulah yang di pikirannya saat itu.

"Turun!" Ucap mika Sembari menarik pria itu sehingga tanpa sengaja jatuh menimpa tubuhnya yang mungil. sesaat mika tertegun dengan iris mata hazel itu.

"Em... Bisa geser gk?" Seru mika gugup

Pria itu pun beranjak dari tubuh mika dan berdiri dengan tangan di lipat didepan dada.

"Maksud Lo apa asal narik narik org ha?!"

"Ello sih..bahaya tau gak, kalo Lo hilang fokus trus jatuh kan bahaya!! Di tolongin bukan nya bilang makasih malah marah marah gak jelas gitu"

"Asal Lo tau y!! Lo dah ganggu gue banget tau gak! Emang otak gue kayak Lo, bisa ilang fokus!! Baru hari pertama gue dah sial banget!!" Ucap pria itu dengan nada tinggi nya, tak sadar bahwa gadis yang duduk itu tengah menahan air matanya agar tak keluar

"Iya!! Ika emang bawa sial!! Maaf dah buat Lo sial!! Maaf banget,. permisi" segera mika berlari meninggalkan pria bermata hazel itu kebingungan.

"Ini pasti bekal gadis sial itu,.."
"Mika Alexander, jdi Lo seorang Alexander." Batin pria itu ketika melihat Tupperware biru yang tertempel nama pemilik nya pada tutup nya.

TBC
Gumawooo yeorobun 😚😘

Hello Pain!Where stories live. Discover now