Prolog

24.4K 1.1K 30
                                        

TRAILER ADA DI MULMED

Menikah

Satu tahapan dalam kehidupan yang dinanti setiap orang. Bertemu seseorang, bersatu dalam ikatan halal, lalu membina rumah tangga. Berbagi peran, menghapus ekspetasi dan belajar adaptasi. Menyempurnakan agama, meraih pahala, juga meraih surga bersama. Kalam-kalam Allah, ucapakan Rasulullah jelas mengatur tentang satu ikatan halal yang bahkan kewajibannya mengalahi ikatan darah.

Namun, membangun sebuah pernikahan impian dengan seseorang, merealisasikan segala visi misi, juga mengazamkan diri sebagai seorang istri tidak lagi terbayang bagi perempuan berusia dua puluh empat tahun yang sedang serius di balik layar laptopnya. Baginya, menikah hanya membuatnya berpeluang untuk terluka. Berhubungan dengan laki-laki membuatnya berkemungkinan untuk tersakiti.

"Gema!" perempuan itu menarik tangannya yang berada di pelipis lalu menoleh ke arah samping. Ke arah seseorang yang memanggil namanya dengan sedikit menaikan nada suaranya.

Seseorang dengan celana chino berwarna cream dengan polo shirt berdiri dengan membawa sebuah tab di tangannya. Laki-laki berkaca mata itu menyodorkan tab ke arah perempuan yang masih belum mengeluarkan sepatah kata pun itu. Menurut saja, perempuan itu memperhatikan layar tab yang berisi grafik yang turun terjal ke bawah. Jari telunjuknya menggeser pelan dan bibirnya menggumam.

"Kenapa ini bisa lolos? Memang nggak kamu cek?" suara laki-laki yang berdiri di sampingnya itu kembali terdengar. Perempuan yang dipanggil Gema itu menghela nafas sebelum mengembalikan tab kepada pemiliknya dan beranjak dari duduknya. Memundurkan badannya, perempuan itu mulai bersuara.

"Gimana mau dicek kalau dari Marketing nggak ada yang minta Acc ke Gema, Kak? " Perempuan itu menatap sepasang mata di balik kaca mata tersebut sedetik sebelum melarikannya asal. "Gema baru tau tadi pagi, itupun laporan dari para content spesialist. Ini..." perempuan itu menunjuk layar laptopnya. "Gema udah koordinasi sama anak marketing buat tarik produknya dulu."

"Astaga, anak marketing nggak minta Acc kamu dulu?" tanya laki-laki itu terkejut. Gema menggeleng, sedang laki-laki di sampingnya berdecak.

"Tapi harusnya kamu inisiatif pantau, Gem."

"Lho, nggak bisa gitu dong, Kak. Pertama, staf marketing posting bukan di jadwal yang udah kita tentukan. Kedua, konten yang dipakai nggak mengikuti SOP. Ketiga --"

Gema mendengus kesal ketika laki-laki itu membalikan badan keluar dari ruangannya di saat kalimatnya masih menggantung. Sebelum menutup pintu, suara laki-laki itu tambah mengundang sebal.

"Lima belas menit lagi, aku tunggu di ruang meeting, Gem!"

Memijat pelipisnya, Gema mendudukkan kembali tubuhnya. Dahinya dia taruh di atas meja yang penuh berserakan. Sungguh, bukan dia sekali. Perempuan itu terbiasa rapi dan tertata, tapi gara-gara laporan yang dia dapat pagi tadi tepat saat dia baru sampai di kantor membuatnya kalang kabut secepat mungkin bertindak sebelum efeknya semakin jauh.

Tidak lama, sebuah tepukan dan berakhir usapan terasa di bahunya. Perlahan dia mendongak dan menoleh.

"Sabar, kantor lagi terguncang gara-gara hal ini."

Ah, Gema tidak sadar bahwa sejak tadi dirinya menjadi pusat perhatian. Perempuan itu mengedarkan pandangannya dengan tangan yang terlipat di atas meja. Empat orang kawannya tersenyum dan mengacungkan tangan berbentuk kepalan ke arah atas. Isyarat agar Gema kembali bersemangat.

Bersamaan dengan itu, satu pesan masuk ke ponselnya. Nama seseorang yang membuat terluka dan patah hati seumur hidupnya. Membuat perempuan periang bernama Gema menjadi pemurung paling ulung.

Ayah
Mba Gema, Ayah udah kirim maem siang ke kantor ya. Semangat kerjanya!

Tanpa membalas, Gema memilih bangkit membawa serta laptop juga note berisi catatan-catatan penting miliknya. Perempuan itu tidak berniat membawa serta ponselnya. Biar saja, biarkan otaknya fokus terhadap masalah yang pasti akan menguras pikirannya ketika meeting berlangsung.

Satu jam berlangsung, Gema sudah mulai memainkan bolpoinnya. Mencoret asal di lembar kosong notenya. Meskipun tidak terlihat menyimak, telinga Gema sudah dipastikan terpasang dan on mendengarkan kalimat-kalimat penjelasan yang diujarkan oleh head marketing di seberangnya. Fokusnya bermain bolpoin buyar ketika lengan Gema di senggol seseorang. Siapa lagi kalau bukan Aishee, salah satu staf IT. Perempuan berkaca mata itu berbisik dengan tubuh bergeser mendekat ke arah Gema yang mengangkat sebelah alisnya.

"Mata Kak Er nglirik ke kamu terus," kata perempuan itu melirik laki-laki yang dia maksud. Mata Gema pun melirik seseorang yang duduk sembari melipat tangan di depan dada dengan punggung bersandar penuh. Satu-satunya orang yang duduk di paling ujung depan meja. Benar saja, ketika Gema melirik tepat ketika laki-laki itupun melirik ke arahnya. Dan empat pasang itu saling bertemu lalu berpisah dua detik kemudian.

"Masih marahan ya kalian?" bisik Aish lagi sembari pura-pura mencatat. Gema memicing. "Ngarang! Siapa yang marahan sih, biasa aja. Layaknya atasan dan bawahan. Gitu aja..." ujar Gema sembari mengabaikan pandangan Er yang berhenti padanya.

"Ah masa? Udah tau kali, Gem semua juga. Kak Er tuh beda setelah gosip itu berkembang."

Gema menoleh. "Gosip apa?"

"Kamu yang nolak Kak Er nikah."

Astaga. Sudah hampir satu bulan berlalu, tapi ternyata belum pudar juga berita itu. Gema mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki yang ada di ujung meja. Laki-laki yang sedang menjelaskan solusi untuk permasalahan yang sedang mereka hadapi. Laki-laki dengan tubuh tinggi, tegap, dan kulit kecoklatan itu adalah seseorang yang satu bulan lalu dia minta mundur. Mundur akan niatnya untuk serius kepada Gema.

Ya, sebesar itu efek yang ditimbulkan oleh fakta yang terungkap satu tahun lalu. Fakta yang mengaburkan semua harapannya. Karena baginya, semuanya sama saja. Makluk berjenis laki-laki berpeluang seperti Ayah yang menghancurkan perasaannya.

Katakan saja, Ayahnya adalah orang yang bersalah karena membuat hubungan pernikahan hilang dari kamus hidup Gema.

Laki-laki dan penghianatannya.

"Gema!"

"Ya?"

Lamunannya buyar, Gema tersentak dengan sebuah suara. Matanya mengejap sekali lalu mengarah kepada Er sudah berdiri disusul orang-orang lain.

"Cek konten yang dipunya marketing, kalau sudah oke langsung Acc ." Setelah laki-laki itu menghilang keluar ruangan.

Bersambung...
Gema hadir untuk yang tidak bisa move on dari Bundanya hehehe
Sekuel bukan sih, Jem? Katanya nggak mau bikin sekuel, gimana sih!

Baca cerita ini nggak harus baca SUS dulu ya.

Btw, ada yang bisa nebak nggak siapa nama panjangnya Kak Er? Erlangga atau Er siapa?

SATU RUANG DOA (SELESAI)✓Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora