Bukankah sudah aku bilang untuk menunggu. Kuharap kau benar-benar menungguku. Perjalananku sudah dekat. Beberapa langkah lagi mungkin aku akan sampai. Malam ini, tepat sewindu aku berlalu, meninggalkanmu. Kota ini semakin ramai saja. Gerimis juga. Tapi mengapa sepanjang jalan ini tak kudapati langkahmu, di gang-gang yang sempit, ditumpukan sampah, di emperan toko, tetap saja tak ada dirimu. Kembalilah, aku sudah pulang.
*
Aku menyusuri jalanan di gang sempit yang basah, sejak bertahun-tahun berpisah, kota ini banyak berubah, segalanya tak lagi sama. Satu persatu kenangan itu berkejaran dalam ingatanku. Aku melihat Kinan dan Lintang kecil tengah berlarian di jalanan ini, menyaksikan Kinan menanggung beban sendirian, dan hal-hal lain yang membuat ulu hatiku perih.
*
Sejak kepergian Ibu pada pagi yang masih dini, dan Bapak yang tiba-tiba menghilang pada senja kala yang buta. Hidup kami tak lagi sama seperti hari kemarin. Hujan dan badai saling bersahutan. Sedang kami tak lebih tua dari seperempat usia tanah ini, tak punya payung jika sewaktu-waktu hujan yang kejam itu datang tanpa diundang, tak punya topangan jika sewaktu-waktu badai yang riuh itu menerjang. Maka biarlah aku memilih menyimpan badai dan semua hal yang menyakitkan dalam hatiku, seorang diri saja, Lintang tak perlu tahu.
Pagi masih buta. Tapi aku sudah terjaga dari mimpi dan cita-cita yang telah ku kubur paksa malam tadi. “Biarlah yang tersisa sekarang hanya harapan untuk hari esok, tak ada yang harus aku sesali, Tuhan tidak sejahil itu”.
“Kemana sepagi ini? Mencari Ayah?” ucap Lintang yang masih mengusap mata.
“Ada yang ingin pergi tanpa ingin dicari, dan waktu kita terlalu sia-sia hanya untuk sekedar meratapi mereka yang telah pergi” kataku,
Ia yang kecil tak mengerti apa yang maksud yang tersembunyi, memang seharusnya tidak usah mengerti, karena terkadang ada hal-hal yang dimengerti lebih berpotensi menyakiti. “Kakak pergi dulu, baik-baiklah disekolah”, ucapku, kemudian berlalu.
“Pulanglah tepat waktu”
*
Aku berdiri di sisi trotoar ini, menenteng setumpuk koran sembari menunggu lampu berwarna merah. Kupandangi mereka-mereka yang berseragam rapi, dengan sepatu mengkilat dan tas kulit dengan harga selangit. Aku tak melihat ada bayangan diriku diantara mereka, semuanya begitu getir untuk seseorang yang telah mengubur masa remajanya. “ Siapa aku berani bermimpi seperti mereka”, batinku mengucap pilu.
Memang dahulu aku pernah punya impian, kelak aku ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, menjadi penulis terkenal, aku juga ingin punya rumah kayu disebuah desa yang asri di Yogya. Sebuah rumah dengan tanaman dan halaman yang luas, dan sebuah pendopo untuk kegiatan berkesenian, entah untuk latihan menulis atau membaca puisi, atau sekedar bermain wayang dan hal menyenangkan lainnya. Tapi itu dulu, sebelum kukubur mereka dalam-dalam.
“Korannya Pak, korannya Buk”, setiap yang aku tawari koran terkadang mereka hanya mengangguk sambil mengucapkan maaf tidak untuk kali ini, ada juga yang langsung menyuruh pergi tanpa sempat aku tawari. Selesai menjualkan koran, aku beralih pada pekerjaan yang lain. jadi tukang cuci piring di restoran kecil pun aku tidak masalah, setidaknya semua kebutuhan Lintang tercukupi. Semua pekerjaan siap aku lakoni, sekalipun menjadi buruh bangunan aku ikhlaskan, karena seperti yang sudah aku katakan setelah kepergian Ibu dan Bapak yang tidak dapat kutawar, hidup kami berdua tak lagi sama seperti hari kemarin.
Hari semakin tua, dan malam ini semakin larut saja. Badanku juga sudah tidak enak lagi rasanya. Aku ingin pulang, tapi lagi-lagi kota ini kedatangan tamu yang tak diundang, sangat lebat sekali, tetapi tidak lebih riuh dari badai yang aku simpan dalam-dalam.
“Mengapa hujan yang begini saja harus aku hindari, dalam dadaku sudah lebih riuh dari ini” ucap batinku, lalu aku melangkahkan kaki pulang, meninggalkan emperan yang selalu setia jadi tempat persinggahan.
“Kakak mengapa baru pulang jam segini?” tanya Lintang padaku, “Aku takut sendirian”
“Aku harus giat bekerja, supaya uangnya bisa untuk sekolahmu, dan juga diluar sedang hujan” . Aku melihatnya begitu pucat dan suhu tubuhnya juga tidak seperti biasanya.
“Kamu panas sekali, kamu juga pucat”, aku begitu cemas melihat keadaannya, memang semenjak kecil ia sangat lemah, rentan sekali terserang penyakit. Kali ini aku sangat takut sekali dia kenapa-kenapa.
"Aku tidak apa-apa kak, mungkin kelelahan saja, dan aku juga merindukan Ibu, Bapak dan Kakak yang pergi begitu lama, aku takut sendirian” terangnya dengan senyum kecil. Aku hanya terdiam. Aku kira yang paling terluka atas situasi ini adalah diriku, tetapi hari ini Lintang menyadarkanku bahwa ia juga korban yang terluka parah.
“Bajumu basah, gantilah segera, jangan membuat lantai basah” Lintang membuyarkan lamunanku.
*
Hari-hari berlalu dengan beratnya, kesukaran demi kesukaran sendu berlalu, tak ada hari yang meneduhkan seperti senyum Ibu. Kondisi Lintang semakin hari semakin melemah. Memang beberapa waktu yang lalu, ada keluarga yang berbaik hati memintanya untuk mereka, rela menanggung penghidupannya. Tapi, saat sekarang Lintang adalah seluruh hidup yang aku punya. Ia tidak boleh jauh, apalagi pergi.
Tapi malam ini ia begitu lemah dan semakin bertambah, mukanya pucat, tubuhnya semakin kurus, ia begitu kesakitan, bagaimana caranya membawa Lintang berobat, sedang aku tak punya apa-apa. Jika bisa, ingin saja aku bertukar raga dengannya, biar aku yang menanggung semua sakit yang ia alami.
“Kak, aku tidak apa-apa, tidak perlu menangis” ia tersenyum padaku.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Perih sekali mendengar kebohongannya yang manis. Untuk badai dalam hatiku, kumohon jangan turut riuh malam ini, Lintang sedang tidak baik-baik saja, begitupun perasaanku.
Larutlah apa yang seharusnya. Waktu hanya akan berjalan dengan semestinya. Simpan segala riuh ini dalam mimpi yang paling dalam. Kunci ia rapat-rapat. Jangan ingatkan aku. Tapi ada saja kisah yang tak diduga. Aku pikir Lintang akan membaik, tapi malah semakin memburuk. Tak ada jalan lain, hanya rumah sakit saat adalah tujuan yang paling tepat saat ini. Aku tidak berpikir panjang lagi.
Keadaannya tidak baik. Pengobatannya begitu mahal. Maka kutempuh saja jalan yang tak paling aku ingini. ia harus baik-baik saja. Aku ikhlas meski begitu sesak. Akhirnya aku membiarkan ia pergi bersama mereka yang mampu merawatnya.
“Tetaplah baik-baik saja, suatu saat nanti aku akan kembali, jangan pergi, tunggu aku di sini”, ucapnya
“Aku janji akan tetap di sini, menunggu hari yang baik itu datang, dan melihatmu pulang”. Itulah kali terakhirku melihatnya, sebelum ia benar-benar pergi bersama kehidupan barunya, pergi yang sangat jauh menuju tempat yang berbeda.
“Semoga kau dan hidupmu baik-baik saja”.
Aku membuka pintu rumah dengan pelan. Begitu sepi dan kelam. Mungkin setelah Lintang pergi, kesunyian sudah mulai merambat, ia menyelinap masuk melalui pintu, jendela, ventilasi udara dan lainnya. Aku sendiri saja kali ini. Menyusuri perjalanan ini seorang diri. Ingin rasanya pulang, tapi Lintang bilang ‘tunggu aku’.
*
Aku sudah pulang. Hidupku kini baik-baik saja dan semakin sehat-sehat saja. Aku kembali padamu. Tapi sepanjang jalan ini, langkahmu pun tidak aku temui. Kinan, kau dimana?, bukankah sudah kubilang untuk tetap menungguku. Kinan, berbaliklah, aku sudah kembali.
BẠN ĐANG ĐỌC
Wanita yang Menyimpan Badai Dalam Hatinya
Truyện NgắnKehidupan begitu berat bagi pundak kecil mereka. Badai yang datang menerpa, ia simpan dalam hatinya, biarlah hujan yang sedih menggantikan derasnya air mata Kinan. Takdir tak begitu baik bagi Kinan dan Lintang, setelah kepergian Ibu pada pagi yang m...
