BELAJAR DARI IKAN

2 0 0
                                        

Belajar dari Ikan
(Ramadhan)

Pagi merekah. Air laut yang sedari tadi malam menghantam dasar bale-bale pinggir pantai, kini mulai meninggalkan mulut darat. Perahu-perahu nelayan terlihat miring karena sudah tak mendapatkan sandaran yang pas. Ikan-ikan kecil yang bersembunyi dalam jejeran terumbu karang, terlihat melompat-lompat di sisa genangan. Sepasang ikan badut kecil seperti sedang berbulan madu di sela-sela terumbu karang yang terlihat layu diterpa sinar fajar. Bintang-bintang laut berjejalan memenuhi bibir pantai, layaknya kaum buruh yang sedang berdemo di depan gedung DPR minta upah dinaikkan. Adalah bintang laut biru, berkaki panjang dan tubuh kenyal merupakan jenis bintang laut yang paling aku sukai. Sesekali aku akan mengangkatnya untuk kemudian ditaruh di kepala untuk kujadikan mahkota. Maka saat itu, aku naik di batu karang dan bersabda layaknya Raja Maja Pahit yang konon ceritanya melarikan diri ke desa ini.
“Inang Amang, sambutlah kepala suku baru kalian!”
Maka mereka akan tertawa geli melihat usikku. Mereka adalah orang-orang pantai yang setiap pagi buta turun ke pantai menjemput rizki pemberian Tuhan yang disediakan di hamparan pantai ini. Ibu-ibu membawa embernya untuk segera dipenuhi dengan kima (kerang laut), kehe, udang, kepiting, tripang dan gurita. Sementara para bapak membawa laras panjang senapan kayu atau panah ikan untuk menembak ikan yang bersembunyi di balik batu karang. Sebagian orang kampung akan turun ke sini setiap meti kering (air laut surut).

Seorang siswa, remaja berkulit hitam, berambut kriting, dengan bulu kulit berwarna pirang, berbadan tegap, dan berperut sispek, baru saja naik dari laut setelah tadi malam melaut bersama nelayan dari Makasar.

"Pak Guru!, Pak Guru!"
Ia meneriakkan julukanku, guru. Sambil menganggkat tangan yang penuh dengan ikatan ikan, ia berlari kecil menuju arahku.
"Dapat banyak ko Tiyas?" Tanyaku menyambut
"Banyak guru, ini sa (saya) bawa kasi guru masak di rumah" jawabnya sambil menyorongkan satu ikat ikan besar-besar ke tanganku.
"Trimaksih tiyas e" terimaku tersenyum.
"Itu ikan, guru kasi mama tua masak buat sebentar siang, di perahu sa (saya) masih ada banyak ikan, kita bakar dengan teman-teman dong. Ara, Roki, Kader dengan Sahrul su nunggu di tambatan. Mari guru ikut sa!”

Tiyas mengajakku bakar-bakar ikan hasil tangkapannya.

***
Dengan gontai, aku mengganti baju, celana dan tidak lupa kamera poketku untuk mengabadikan momen-momen dengan anak didikku. Tiyas menunggu di depan pintu. Kami berangkat.
Sesampai di tambatan perahu, anak-anak pantai menyambut aku.
"Guru laju gea, tite taing bohu sekali kaing kia" (guru cepat, kita sudah sangat lapar ini) teriak Roki.

Aku hanya senyum dan terus melangkah. Sambil melihat sekeliling, sebelum sampai di tempat mereka menyiapkan ikan dan perapian, mataku tergoda dengan sebuah papan ucapan selamat datang. Tulisanya berbunyi "SELAMAT DATANG TAMBATAN PERAHU DI DESA PANDAI" Hahaha aku tertawa geli.
"Dasar orang kampung tidak pandai berbahasa Indonesia" umpatku dalam hati.
Aku memanggil anak-anak, "Anak-anak, kesini semuanya”, seruku sembari mendekat ke papan selamat datang itu.
Aku bertanya pada mereka, "Tahukah kalian arti kalimat ini?"
Sejenak mereka membaca dan berpikir. Beberapa menit berselang. Tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak "hahaha" alamat paham.
"Yah begitulah" kataku, "Masa yang DATANG TAMBATAN PERAHU?"
Mereka kembali tertawa geli.
Begitulah caraku mengajari mereka. Ini lebih asik. Tak perlu lagi ruang tembok yang luas, bercat warna-warni, berderet bangku dan meja, serta berpapan tulis lebar, meski memang gedung sekolah di tempat ini belum dibangun. Cukup bagiku, pantai ini, tanah ini, hutan ini, dan gunung di sana, sambil membakar ikan, Bahasa Indonesia yang baik dan benar, aku ajarkan.

Namun, bukan itu yang menjadi kebangganku. Justru sebaliknya. Aku lebih bangga dengan mereka. Merekalah sebetulnya guru, guru bagiku. Nantinya, merekalah yang mengajari aku bertahan hidup. Guru yang mengajari aku menumbuk padi, membuat minyak kelapa, menembak ikan, budi daya rumput laut, dan yang paling menarik adalah berburu rusa.

***
“Ya sudah, ayo bakar ikan”.

Seperti telah terbentuk organisasi kecil-kecilan. Tiyas berubah menjadi ketua panitia. Dia mengomando pekerjaan bakar-bakar ikan yang padahal tidak ribet-ribet amat.
“Ara, ambil parang, dengan Roki pi (pergi) potong pisang” perintah pertamanya
“Kader dan Sahrul, panjat kelapa” perintah keduanya
“Aku membuat bara api” pemimpin mengambil bagian
“Guru bikin sambel” pintanya dengan nada rendah
“Sambel ala Lombok ya Pak” teriak Roki

Ah, suasana ini mengingatkan aku pada acara Si Bolang yang biasa tayang pukul 13.00 Wib. Si Bolang kini telah tiada, ia tak lagi terlihat, sebab listrik tidak berkenan masuk siang di kampung ini. PLTD hanya berbaik hati setengah-setengah. Ia mengatur listrik 12 jam perhari mulai pukul 18.00 – 06.00. Kecuali hari Jumat dan Minggu diberi bonus setengah hari sampai pukul 12.00. Sebab, Masjid dan Gereja buka.

***

Kampung yang dimaksud pada cerita ini adalah Desa Pandai, Kecamatan Kabir, Kabupaten Alor, NTT.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 01, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BELAJAR DARI IKANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang