Prolog

20 3 0
                                        

Malam yang gelap, udara yang sangat dingin, tidak membuat sosok A.H bangkit dari tempatnya. Ia malah memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya dikursi taman. Matanya terbuka menatap langit malam tak terasa air matanya menetes dibalik topengnya itu. A.H tak sadar seseorang dibalik pohon membawa pistol.

Sosok itu pun mengarahkan pistol itu kearah A.H. Dia pun menembakan pistolnya dihitungan ketiga.

"Satu,"

"Dua,"

"Dan... tiga,"

Dor...

Peluru itu mengenai perut A.H bagian kiri membuat ia meringis.

"Angrrr... ini sudah dimulai," ucap A.H pelan.

Dor...

Satu tembakan lagi berhasil mengenai tubuh A.H, ia hanya tersenyum tidak melawan ataupun mengeluarkan senjata.

"Haha.... apa hanya itu kemampuanmu, hanya berdiam diri haha..." ejek pria itu senang.

A.H hanya diam menatap pria itu, tatapan yang sulit diartikan.

"Greden...! liatlah ketua misteriusmu. Telah kalah hahaha.... dia hanya diam saja haha....," ucap pria itu tertawa senang.

"Sekarang... serang!!" Perintah Pria itu.

Aku lemah... karena kamu, batin A.H.

Disitu mulailah pertempuran, A.H yang sadar dari lamunanya terkejut dengan replek ia pun berteriak. "HENTIKAN!"

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan menegang. Sampai akhirnya A.H kembali bersuara.

"M.M kau boleh membunuhku! Tapi jangan mereka!" Ucap A.H.

"Sudah lah... jangan banyak omong. BUNUH A.H SEKARANG," perintah M.M.

A.H hanya dia saat tembakan, sayatan dan pukulan mengenai tubuhnya. Ia malah tersenyum kearah anggota Greden seolah-olah ia mengatakan 'aku tidak apa-apa, kalian tenang saja.'

Langit malam, bintang dan bulan menyaksikan itu semua. Senyuman kekuatan yang A.H berikan kepada anggota Greden. Mereka yang ikut menyaksikan itu, hanya diam mematung karena sosok A.H yang sangat mereka banggakan sedang berjuang melawan maut.

Darah dimana-mana, A.H masih diposisinya berdiri dengan darah yang menggalir disekujur tubuhnya. M.M merasa heran kenapa A.H masih saja diam dengan tubuh yang belumuran darah.

"HENTIKAN!" Printah M.M.

Merekapun menghentikan aksinya, A.H yang tidak sanggup lagi menopang tubunya pun terjatuh dan terduduk ditanah.

"A.H!" teriak histeris anggota Greden.

A.H menoleh menatap mereka dan senyuman tipis terukir diwajah yang berlumuran darah. A.H pun berucap, "A-aku ti-tida-k a-pa - apa, k-kali-a-n te-tenang sa-ssaja."

Mereka membalasnya dengan anggukan terpaksa. M.M mendengar suara lemah A.H terdiam. S-suara itu..., batin M.M.

MisteriusStories to obsess over. Discover now