"serenadely beautiful, as usual" Egi tersenyum menepuk bahuku. Sekali lagi, aku mematut diri di cermin. Maxy dress sutra berwarna hitam berpadu dengan kalung mutiara yang menjuntai hingga punggungku. Aku berputar dua kali memastikan tidak ada panty line tercetak digaris pinggulku. Aku tersenyum menghadap cermin. Binar mata yang terpantul disana, aku mengenalinya, binar mata jatuh cinta. Sekarang atau bahkan sepuluh tahun yang lalu, semuanya tidak berubah sedikitpun. Segalanya tetap sama. Aku masih mencintainya, Malvino Prasetya. "Rin, dress nya terlalu emak-emak deh buat lo" "Dress tadi terlalu ngejreng, Gi. Electric pink in my tenth anniversary? yang bener aja lo" "Daripada hitam-hitam seperti mau ngelayat? atau jangan-jangan, sebenarnya hubungan kalian yang sepuluh tahun itu sama suramnya seperti pemakaman? "Ey lo mau ngasih saran soal percintaan sama gue? Lo? yang bahkan nggak bisa kencan sama cowok lebih dari satu bulan? Seriously". Aku hanya melirik jenaka. "Rin inget, kita ini masih dua delapan, masih muda. There are so many fish in the sea. Bisa dipancing, dibakar, digoreng, dipepes" "Jadi kita sekarang lagi ngomongin ikan?" Aku terkikik. "Maksud gue, lihat diri lo. Sepuluh tahun. Dalam waktu selama itu lo bisa nikah bahkan bisa punya empat anak kali". nyinyir Egi pedas. Kupakai stiletto hitam bertali pengait, bertabur kristal bening yang melingkari pergelangan kaki. "Nggak nyangka ya Gi, udah sepuluh tahun". Ada kebanggaan tek terjelaskan menelusup, menjelma menjadi senyum diwajahku. "Gue aja heran. Kalian bisa bertahan selama ini". ujar Egi menghela nafas. "Dan lo engga sekalipun ngerasa bosen? Dia pacar pertama, orang pertama yang cium elo. Apa perasaan lo engga pernah sedikit pun berubah?" Aku menggeleng. Sekali lagi, aku menatap cermin dengan bangga. Sepuluh tahun. Entah sudah berapa ribu hari. Hanya ada nama Malvino yang bergema menggaung kepelosok rongga tubuhku. He's my first and definitely will be my last. No doubt. "Do you actually believe he's the one?". Aku menatap Egi yang duduk dipinggir tempat tidur melipat dress pink menyala yang tadi ia sarankan padaku. Aku tak bisa bohong. pertanyaan itu berkali-kali melintas. "Have you ever been falling in love, Gi?" " Dua puluh sampe tiga puluh kali". Egi memutar bola matanya. " Maksud gue, bener-bener cinta. Bukan sekedar cowok yang lo temui di kafe, flirting sebentar lalu jadian. Seorang pria yang melengkapi hati lo. Tepat begitu lo melihat senyumnya, lo yakin akan menghabiskan seluruh sisa hidup lo sama dia. Mengabdi, mencintai, menikah lalu punya anak. Menua bersama-sama. Pernah gak lo berfikir sejauh itu? If you do, then he's the one". Egi menghela nafas panjang. Dia menaikkan kacamata lebarnya. Bibir merah tuanya mengerucut. Dia membuka mulut seperti hendak ingin menjawab, tetapi ada sesuatu yabg dia tahan. Aku tau dia tidak setuju dengan semua pendapatku. "okay, okay I got it. Jadi apa rencana kalian malam ini?" "A very special dinner, Decent luxurious food. A little wine. A lot of laughter" "Gitu doang? How boring. Please tell me that you're giving up your virginity tonight". " Kalaupun gue mau, Gi, dia yabg nggak mau. Dia bilang, cinta gak selalu berahir di ranjang. Cinta berawal dari hati dan akan selamanya di dalam hati".
"Dia bilang gitu? Is he straight?"
"Egi!!!!". Aku menonjok lengannya dengan ringan. Handphone-ku bergetar di meja rias. Nama Malvino terpampang disana, lengkap dengan foto
kami berlatar pemandangan pantai. Aku butuh seper sekian detik untuk menarik napas sebelum menjawabnya. Selalu begitu. Jantungku berdetak tak karuan tiap kali hendak berbicara dengannya. Mirip remaja belasan tahun yang lagi jatuh cinta. Menakjubkan, bahkan setelah sepuluh tahun, deg-degan itu masih ada.
"Rin," suaranya terdengar dingin dan tenang, "maaf, sayang. Aku nggak bisa jemput kamu. kamu bisa berangkat sendiri kan? lansung ke restoran dan tunggu aku disana. Aku nanti nyusul".
"Kenapa, Mas? semuanya baik baik aja kan?" Raut pucat mulai menyerapiku. Egi tiba tiba melirik di ujung matanya.
"Ini Auro minta ditemani sebentar sebelum mamanya pulang. Kirana masih kena macet. Kasihan Auro kalau dia aku tinggal sendirian sama babysitter-nya."
Senyum dan binar bahagia itu langsung menguap dari wajahku. tiba tiba lenyap seperti ditelan bumi. Egi menoleh lebih dalam seakan bisa membaca apa yang terjadi.
"Nanti setelah Kirana pulang, aku langsung jalan,oke?"
"papaaaa.... ," aku mendengar suara Auro menggil Malvino.
"Iya sayang, Auro habisin dulu susunya. Nanti kita main lagi. Papa nelfon dulu ya?"
"Rin?" Panggil Egi sambil menyentuh bahuku.
"Airin?" Malvino ikut memanggil di ujung telepon.
"I'm okay. Don't worry" ujarku lirih seakan menjawab keduanya. Air mata menggenang siap tumpah. Aku terlanjur melayang di nirwana terbuai mimpi dan cinta. Hanya satu kata papa dari mulut balita dua tahun, murni dan polos, memaksaku menelan kenyataan.
"see you there"
Aku tertunduk. jangan nangis, jangan nangis Airin please. Eyeliner-ku tidak boleh luntur. Make-up ku terlalu sempurna. Kencanku belumlah berantakan, hanya sedikit perubahan rencana. Tidak ada pangeran yang akan menjemput tuan puteri, itu saja, sisanya masih tetap sama, kami masih bisa bahagia. Egi seakan bisa menangkap kegelisahanku. Dia menangkupkan kedua tangannya ditanganku yang gemetar. Satu pelukan hangatnya merengkuhku. Aku menahan diri, susah payah merasa lelah tak tertahan, untuk tidak terseret perih yang menderas. "Sekali lagi coba jawab pertanyaan gue" Egi melepaskan pelukannya, Ia lurus menatapku. "Are you sure he's the one? Malvino?" Mulutku ingin terbuka, ingin menampik kata-katanya. "Pernah nggak, sekali aja, lo minta dia memilih?" tanya Egi ragu. "Airin Kanaya atau Istrinya?".
Aku tercenung. Tubuhku terasa beku. pernahkah aku memikirkannya? Berjuta-juta kali, jawabku dalam hati. Tak terhitung lagi. Untuj pertama kalinya aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.
To Be Countinue...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.