Kanaya

61 4 0
                                        

Nicholas Sparks dalam bukunya The Note Book pernah bilang, “I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ye led a coomod life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten, but I’ye loved another with all my heart and soul, and to me this has always been anough.

Pikiran Kanaya melayang pada lelaki sederhana yang tidak pernah ia lupakan. Seseorang dengan pikiran nyeleneh yang mampu membuatnya terlihat berbeda, mungkin hanya dia manusia di bumi yang mampu merubah hal biasa menjadi sangat luar biasa.

Kanaya kembali menatap foto yang menjadi saksi bahwa perasaannya ikut pergi bersama Abimanyu. Perasaan yang sudah ia anggap menjadi rumah. Tepat di ruang nyaman yang diberikan Abimanyu ia menyandarkan mimpi-mimpi yang kerapkali menjadi doa Kanaya sebelum tidur.

Di foto yang nyaris berubah warna itu, sekitar empat tahun lalu, mereka sepasang beruntung yang saling menemukan. Mereka yang saling melengkapi antara kekurangan masing-masing. Kapan terakhir kali Kanaya bisa tersenyum selebar itu? Tentu saat bersama Abimanyu ia bisa merasa menjadi perempuan paling bahagia di bumi. Bukan, mungkin di Galaksi Bima Sakti sekalipun.

“Bi, kenapa kamu menyukaiku?”

Abimanyu mengangkat bahu, “Ya, kenapa sebagian orang masih menunggu senja jika hadirnya sesaat?”

Kanaya diam. Tenggelam bersama matahari di hadapannya, bedanya ia sudah tenggelam terlalu jauh pada Abimanyu. Sedalam yang ia sendiri tidak tahu.

“Jika senja bisa datang dan pergi seenaknya tanpa membuat orang membencinya, tentu kamu yang selalu di sebelahku bisa mendapat kesempatan disukai lebih banyak.”

“Disukai olehmu?”

“Aku dan langit.”

“Kenapa langit?”

“Di mana pun kamu berada, langit menggantikanku menjagamu, Ya.”

Kamu sendiri di mana, Bi? Katamu langit ikut menjagaku, tapi langit tidak pernah mau memberitahuku keberadaanmu. Malah, langit membuatku sedih, Bi. Ia bersama awan menjatuhkan rintik ke bumi. Kamu bilang tidak akan pernah membuatku kedinginan.

Kanaya merasa sepi di antara isi kepalanya yang berisik. Seperti yang Abimanyu katakana dulu, sepi sesungguhnya saat kamu berada di antara orang-orang, di bandara, di stasiun menunggu keberangkatan, dan pada pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban di kepalamu.

“Kenapa membawaku ke stasiun?”

“Alasannya sederhana, Ya. Karena aku juga suka stasiun.”

“Dan juga suka aku.”

“Itu berbeda, Kanaya. Aku menyukaimu karena selalu menghadirkan ramai walaupun kita hanya berdua.”

“Kalau stasiun?”

“Di sini aku menemukan sepi.”

“Abimanyu, di sini rame tau!”

“Kamu harus mencoba berada di keramaian, tetapi separuh dirimu memilih untuk merasa sepi. Dari sana kamu bisa memahami sepi itu sendiri. Sepi yang tidak menghakimimu dengan beribu kenangannya. Pun sepi yang mengharuskanmu meringkuk di sudut kamar. Di antara langkah kaki yang terburu-buru, wajah-wajah sedih yang akan ditinggalkan, atau orang-orang yang menunggu waktu meninggalkan sesuatu. Kanaya, kamu bisa belajar jeda antara keterburuan, memahami betapa waktu harus kamu jaga dengan baik. Suatu saat kamu juga akan meninggalkan kenyamananmu.”

“Bi, aku udah cukup kesepian dengan kepala yang setengah mati berisik.”

“Aku hanya ingin kamu berteman dengan sepi.”

“Sebentar! Kalimatmu barusan terlalu mengundang banyak pertanyaan di kepalaku.”

“Satu jawaban untuk satu pertanyaan.”

“Aku mengerti maksud kalimatmu, tapi meninggalkan kenyamaan seperti apa, Abimanyu?”

“Aku. Kelak jika aku pergi kamu sudah terbiasa dengan sepi.”

Kanaya menghela napas. Dulu ia tidak mengerti maksud jawaban lelaki itu hingga Kanaya dihadapkan pada kenyataan bahwa Abimanyu harus meninggalkannya. Berlayar ke dunianya sendiri tanpa menawarkan tumpangan untuk Kanaya menemaninya. Jika dulu Kanaya adalah tokoh utama di cerita Abimanyu, kini mungkin ia tidak mendapat peran apapun. Sekedar dialog apa kabar atau apakah kamu baik-baik saja, semesta tidak mengizinkannya. Jarak mereka sudah terlalu jauh. Bagi Kanaya yang keberadaan Abimanyu tidak bisa lagi digapai.

Jika sepi yang ia maksud bisa membawa arti tenang, mungkin Kanaya sudah berteman baik dengannya. Tidak lagi bertanya-tanya di mana Abimanyu berada asalkan ia bisa diizinkan mengetahui kabar lelaki itu.

Langkah membawanya ke Gunung Telomoya. Salah seorang teman dekat Abimanyu mengatakan kalau lelaki itu sedang berada di Mangelang. Mereka sesekali pernah bertukar kabar dan ia mengatakan akan mengunjungi Gunung Telomoya dalam beberapa hari. Betapa senang Kanaya mendengar kabar itu. Seseorang yang bisa datang dan pergi begitu saja dalam hidupnya tanpa penjelasan. Setidaknya Kanaya butuh kepastian untuk hubungan mereka ataupun dirinya sendiri. Abimanyu tidak pernah mengucapkan selamat tinggal, berarti hubungan mereka belum berakhir, kan?

Ketika Kanaya menghubungi nomor yang diberikan oleh Tirta, ia tidak bisa lagi dihubungi. Pertama kalinya dalam hidup Kanaya pergi seorang diri dari kota kecilnya, sepenuhnya bukan kota kecil kesayangan Kanaya. Salah seorang penghuni menyebalkan di kota itu mengubahnya bisa lebih menerima tempat singgah sebelum kembali ke rumah.

Tirta bersedia menemaninya ke sini. Ternyata Gunung Telomoya bisa didaki menggunakan motor, untunglah, walaupun beberapa kali motor Tirta mongok saat menanjak dan jalanan yang buruk mengharuskan Kanaya menahan pegal di punggungnya.

“Katanya kamu ada di mana-mana, Bi.”

“Benar. Di mana pun kamu berada aku juga ada di sana.”

“Berarti kita berbagi intuisi?”

Abimanyu mengangguk.

“Bi, di tempat seperti apa kemungkinan paling besar menemukanmu?”

“Di ketinggian dan matahari terbenam.”

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang berhasil membuatnya bertanya-tanya. Walaupun ada sedikit perubahan pada rambutnya yang kini lebih panjang dan mengenakan kaos putih dengan luaran jaket jeans berwarna biru gelap. Lelaki itu menemukan mata yang dulu sangat ia kagumi. Pandangan mereka bertemu.

Kanaya tersenyum lebar, begitu pun Abimanyu. Ia membiarkan tubuhnya bertemu dengan pelukan yang sangat dirindukannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 31, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Titik TemuStories to obsess over. Discover now