Dokter

251 18 6
                                        

Kaki pemuda itu terasa sangat berat sekali saat dia menelusuri lorong bangunan yang sangat dia benci.

Matanya menatap lurus ke depan tapi ada suatu perasaan khawatir yang terlihat jelas di sana. Dia memasang wajah tanpa ekspresi yang sangat terlihat serius.

Sudah terhitung berkali kali sejak dia turun dari mobil mewahnya itu, sesekali dia membetulkan jasnya yang padahal terlihat sangat rapih.

Pemuda bule itu mencoba melonggarkan dasi. Oh, bukan karena dia tidak terbiasa mengunakan dasi, namun entah mengapa dasinya terlihat seperti tali kekang yang sangat menyiksa. Dia seperti tercekik hingga ingin muntah darah atau mati saja sekalian.

Tubuh pemuda itu bergetar dan panas dingin, jangan lupakan kakinya terasa seperti jely kumay jely eak iklan .ga .

Lalu diapun juga berpapasan dengan para manusia yang mengangguk sopan dan terlihat hangat pada dirinya, hingga dia mencapai lift itu, kemudian naik ke lantai yang terlihat cukup sepi.

Bibirnya yang terbiasa menyunggingkan senyuman indah sekarang tidak terlihat lagi senyuman itu.

Perjalanan melewati lorong itu terasa seperti berabad abad lamanya . Dia berdiri di depan meja cokelat kayu yang cukup besar yang terdapat vas bunga yang juga terletak di depan pintu putih.

Dia mencoba membaca papan nama yang terdapat di pintu itu, sesekali mendengus sebelum matanya terfokus pada sosok dibalik meja tersebut.

Pemuda itu berdiri di depan seorang perawat. Dia memandangi perawat itu dengan raut wajah sulit diartikan dan di baca. Dia tidak tahu harus memberikan ekspresi seperti apa sekarang ini saat melihat perawat itu.

Perawat itu tersenyum tidak nyaman sekali saat di perhatikan pemuda itu mungkin karena pemuda itu memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dia pun semakin merasa sangat canggung, ketika pemuda di hadapannya menatapnya bingung.

"Ehem!" perawat itu berdehem agar menyadarkan pemuda dari acara melamunnya.

Pemuda itu merubah raut wajah bodohnya yang bisa di bilang manis. Dia tersenyum manis manis cangung . "Eung jadi bagaimana perawat?" tanya pemuda itu.

" Perawat Chanyeol."

Sang perawat yang merasa di panggil pun memandangi pintu di belakangnya kemudian mengangguk perlahan. " Dokter Oh ada di dalam Tuan Kris," ucap Perawat Chanyeol.

Kedua dari mereka hanya saling menatap ragu. Kemudian tersenyum.

"Oh, terima kasih Perawat Chanyeol," ucap Kris.

"Iya, silahkan," Ucap Chanyeol sambil tersenyum manja.

"...."

"...."

Keadaan hening pun melanda di antara kedua orang ini . Mereka berdua hanya saling menatap dengan cangung satu sama lain sampai berabad abad kemudian .ga .

Perawat Chanyeol berdehem lagi saat Kris tidak melakukan hal apapun.

"Kenapa anda diam saja tuan?" tanya Perawat Chanyeol, keheranan.

Kris pun tersadar jika dia telah melakukan tindakan bodoh yang tentu saja bisa memalukan keluarga Wu.

" Kkkkk, " Kris tertawa canggung

" Oh, Jika begitu aku masuk dulu ke dalam," Kris mencoba melangkah pergi menuju pintu putih di depannya.

" Aku masuk dulu ke dalam. Sampai jumpa lagi perawat Chanyeol," ucap Kris.

Perawat Chanyeol memandang Tuan Kris gugup saat memegang knop pintu mencoba menawarkan bala bantuannya.

"Apakah perlu saya bantu bukakan Tuan?" tawar Perawat Chanyeol.

Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: Jun 28, 2020 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

My DoktorWo Geschichten leben. Entdecke jetzt