Tentang senyuman pertama Lee Haechan yang menggemparkan seantero sekolah.
Tersangka, Shin Ralyn, murid baru yang tanpa takut mati menatap sepasang iris hitam pekat yang terlarang ditatap.
Haechan tersenyum untuk gadisnya.
***
@Keenad
Gadis dengan rambut hitam sepunggung itu mengerutkan kening. Heran menatap gadis berwajah blasteran yang baru tiga jam yang lalu ia kenal dan resmi menjadi temannya.
Sepasang mata didepan Ralyn masih tak berhenti bergulir kesana kemari, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka.
Pasalnya pembicaraan ini sangat penting, rahasia, jangan sampai ada yang tau, terutama orang itu.
"Ada apa sih sebenernya, Som?"
Somi menempelkan jari telunjuknya kebibir merah alami Ralyn, membuat gadis beriris coklat terang itu nyaris mengumpat.
"Gue normal, anjir!"
"Shutttt. Diem bangsat! Nanti ada yang denger."
Ralyn memutar bola matanya malas.
"Kalau Lo lupa, Lo barusan ngajak bolos di hari pertama gue menginjakkan kaki di sekolah ini dengan alesan 'Yaelah nggak papa, Lyn. Sekalian aja lurus kekantin lagian bentar lagi juga bel. Bu Seulgi nggak akan curiga karena kita tadi udah izin ke toilet. Jadi sans, oke?' cih."
"Dan lagi. Dikantin ini cuman ada kita berdua. Lo cerita sambil teriak-teriak pun nggak ada yang nguping Somi cantik tapi tolol"
Somi terbahak, mulut licin teman barunya ini mirip sekali dengan seseorang.
"Aih jadi kangen." Somi tersenyum menerawang langit di balik jendela kaca kantin.
"Gajelas, Lo. Balik aja deh gue."
"Eitt jangan. Yaudah deh gue ceritain."
Tarikan Somi kembali membuat gadis yang tengah menekuk wajahnya kesal itu kembali duduk.
"Jadi..."
Somi sengaja menggantung ucapannya, yang lagi-lagi berhasil menciptakan kerutan di kening Ralyn.
"Jadi apa? Apa?"
Ralyn diluarnya memang berlagak galak, tapi sebenarnya tak lebih dari remaja kepo yang benci dibuat penasaran.