1-Gina

35 2 1
                                        

       Hari libur yang begitu cerah dan memikat hati. Memang dimana pun hari libur akan terus menjadi pujaan. Kecuali mungkin untuk kaum manusia kelewat serius hidupnya, hari libur menjadi momok bagi mereka.

       Memang benar, tiada yang bisa menolak nikmatnya tidur di dunia ini. Sebesar niat ingin bangun, tidak akan menang jika melawan nikmat dunia semacam tidur. Ya terkecuali jika alarm sudah bangun terlebih dahulu untuk mengganggu setiap insan yang berada di dekatnya.

       Benci, pasti benci. Mau gimana lagi? Alarm bunyi tandanya siapa pun harus bangun dan memulai aktifitasnya.

“Gina! Bangun! Kamu teh harus sekolah.” Suara ibu menggelegar tepat di dekat telinga. Itu cukup membuat saya muak akan pagi hari.

“Lima menit, Bu!” bukannya bergegas bangun, saya lebih memilih menenggelamkan kepala di bantal. Nikmat.

“Dasar budak teh! Bukannya bangun. Malah tidur lagi.” Saya meringis sakit dengan telinga yang saya usap sayang. Ibu menjewer telinga saya tanpa ampun, sepertinya memang saya harus segera bangun dan mandi. Mengingat hari ini sekolah.

   Berangkat sekolah, hal yang paling menyebalkan menurut saya. Pagi buta tepatnya 05.50 saya seorang diri harus berangkat menuju sekolah yang jauh di kota untuk menimba ilmu, sedangkan teman-teman sekampung saya sedang bersantai, bermalas-malasan karena jarak sekolah yang dekat. Saya sempat merutuki nasib sendiri, karena ibu dan bapak yang mengharuskan saya sekolah di kota tanpa kos ataupun asrama. Katanya sih biar ngirit. Dari mana ngirit yang ada capek tidak tergantikan setiap harinya.

       Dengan angkutan umum desa saya berangkat menuju sekolah. Dua kali naik angkutan tepatnya, jam enam kurang seperti sekarang, saya jarang satu angkutan dengan anak sekolahan, tapi ibu-ibu warung yang akan belanja ke pasar. Bayangkan saat orang-orang yang seangkutan dengan saya membawa tas belanja pasar sedangkan saya membawa tas punggung sekolah dan tas jinjing berisi bekal buatan ibu. Sepi dan bosan yang saya rasakan, karena saya tidak bisa mengobrol dengan siapa pun. Kalau saja, jika saya bertanya soal masalah sekolah, mereka akan menjawab dengan harga bawang merah dan cabai yang selalu naik tiap bulannya. Saat itu terjadi, saya akan turun paksa dari angkutan tanpa membayar ongkos, lalu berteriak what the hell sejadi-jadinya. Sayang, itu belum pernah terjadi.

“Geser atuh, Neng!” Ibu warung menegur saya dengan mimik menyebalkan khas ibu-ibu pasar. Padahal angkutan masih kosong, tinggal duduk sebelah daleman dikit saja susah banget, dasar ibu-ibu! Terpaksa saya harus mengalah dan menggeser duduk saya menjadi di paling pojok jok angkutan. Dimana posisi itu membuat seluruh anggota badan saya bergoyang tidak karuan saat memasuki jalanan yang jelek, sejelek wajah ibu warung barusan.

       Jalan demi jalan disusuri angkutan desa, begitu pun penumpang yang bertambah banyak menuju penuh. Ini hal yang sangat tidak asik, aksi tidur perjalanan saya akan terganggu oleh mulut-mulut berbisa milik ibu-ibu bawel tingkat dewa.
   
       Halo dunia, bisakah kau sembunyikan ibu-ibu cerewet untuk saya sebenatar saja. Saya akan bersyukur jika itu terjadi. Sekejap ibu saya dan ibu guru yang cerewet juga pasti akan menghilang dan menjadikan dunia ini tentram, aman dan damai.

"Neng atuh! Geser sempit!” Ibu warung di sebelah saya membentak. Kampret! Beraninya ngebentak, bukan sempit tempatnya, badannya aja yang gembrot segede kerbau. Makannya makan dijaga jangan asal masuk aja.

       Huh, astagfirulloh, ibu-ibu ngundang emosi saja. Lain kali harus dihajar kali ya biar gak seenaknya. Tapi kalo dihajar dosa, bikin mumet aja. Sekeras hati ngedumel, kendati saya tetap bergeser susah payah karena duduk saya sudah mentok sekali.

       Saya meliriknya sebentah, “Susah, Bu! Sebelah sana kosong.” Kata saya tidak kalah sewot. Sekejap lagi pasti ibu warung gembrot ini akan menyerbu saya dengan bisa tanpa racunnya itu.

        Ia memelototi saya, alisnya berkerut. Seperti nenek lampir saja, “Heh! Neng!” Astagfirulloh, keget saya. Benar kata Deddy dihitam putih waktu itu, kalau emak-emak memang serem semua.

“Kamu teh, ulah judes ka kolot teh, doraka siah. Daek kamu dikirim ka naraka?!” (Kamu itu, tidak boleh ketus sama orang tua, dosa tahu. Mau kamu dikirim ke neraka?!), bentaknya tanpa nafas, apalah daya saya, setelah ini saya harus berlaga manis pada ibu ini. Padahal wajah saya jika sedang manis, mahal harganya.

        Saya mengatur nafas dan menarik senyum termanis, “Maaf, Bu! Saya kelepasan, soalnya lagi kebelet buang air besar. Ini sudah tidak tahan.” Ucap saya asal dengan tangan yang sengaja memegang bagian perut, Semoga saja ibu ini percaya. Sepertinya benar-benar percaya, soalnya wajahnya berubah tenang. Untunglah.

       Ia tersenyum tipis pada saya, “Ya sudah, engke mah lamun angkat sakola teh miceun heula atuh, neng. Berabe bisi kaborosotan!” (Ya sudah, kalo nanti-nanti berangkat sekolah harus buang air besar dulu, susah, ‘kan kalau BAB di celana!). Terserah ibu sajalah, lagian saya emang suka BAB tiap shubuh, kok. Akhirnya saya hanya menjawabnya dengan senyum dan anggukan, malas habisnya kalau harus memperpanjang percakapan dengan ibu-ibu.


֍֍֍


       Akhirnya, angkot yang saya naiki sampai di sekolah, dengan tepat waktu tanpa kesiangan. Maklum masih kelas X semester 2, jadi saya harus patuh sepatuh-patuhnya sama tata tertib. Sekarang saja saya sedang berjalan menuju kelas, lalu saya akan duduk manis dan membaca buku. Supaya terkesan anak rajin.

        Koridor setengah ramai, sebelum sampai gedung kelas X, saya harus melalui gedung kelas XI dulu. Semasa saya di sekolah, saya tidak pernah mempunyai kenalan kakak kelas, yang saya kenal hanya teman sekelas saya, itupun hanya tahu nama mereka saja. Saya sudah tahu dan sangat sadar hidup saya ngeplat dan tidak berirama. Jadi tidak perlu mengatai saya cupu! Karena menurut saya, saya tidak cupu. Saya keren.

       Karena saya anti-sosial wajarlah kalau saya tidak bisa mengenali tiap orang yang berlalu lalang di koridor saat ini. Saya sih tidak peduli dan tidak mau peduli. Jadi, saya masih berjalan sekeren-kerennya tanpa memerhatikan sekitar, hingga mata saya menangkap sosok yang sudah pasti kakak kelas saya (karena bibir pink tua dan wajah pucat bedak) berjalan mendekati ke arah saya. Pirasat saya buruk.

“Hei! Dek,” dan pada akhirnya benar-benar buruk. Saya menunjuk diri sendiri untuk memastikan.

Dia mengangguk mantap “Iya, kelas sepuluh, ‘kan?” saya mengangguk tidak berdaya, dia pasti akan menyuruh saya. Memberikan tindasan manis di pagi hari ini, semanisnya tindasan tetap saja pahit.

“Anterin buku ini ke Gian, ya.” Habislah riwayat saya, ibu! Alhasil saya hanya bisa menampilkan ekspresi menanyakan kelas tanpa kode penolakan.

“Kamu ‘kan, kelas sepuluh, jadi ya harus,-”

“Kelas apa?” saya memotong, saya bukannya tidak ikhlas, tapi untuk menolak fakta bahwa kelas sepuluh harus patuh sama kakak kelas. Kalaupun semesta mencatat ketidak ikhlasan, memang tidak ikhlas, kok. Saya jujur.

       Dia mencolek dagu saya, menjijikan! “Kamu baik deh, kelas sepuluh IPS 2. Dia anak baru.” Masa bodoh mau anak baru atau anak bau juga, saya mengambil buku tebal dari gengaman kakak kelas songong itu, kemudian pergi tanpa pamitan.



֍֍֍


“Permisi, tolong panggil Gian! Ada titipan buku.” Kata saya tanpa gairah sedikitpun pada anak laki-laki di depan kelas X IPS 2.

“Gue Gian, ada apa?” laki-laki itu malah bertanya ada apa, jelas-jelas sudah saya bilang ada titipan buku. Telinganya ada tidak, sih? Tanpa basa-basi saya memberikan buku itu padanya, “tolong ulangi ucapan saya tadi!” lalu saya pergi meninggalkan anak baru berlogat gue itu.

     Niat dan gairah saya saat belajar bernilai setengah. Saya keseringan merasa setengah semangat dan setengah malas dalam belajar, terlebih lagi saat ini, Bu Yayah guru biologi yang sudah sangat tua sedang menjelaskan porifera. Selama dia mengajar kelas saya, saya tidak pernah mengerti apa yang dia jelaskan selama jam pelajaran. Tapi untung saja Bu Yayah tidak pernah mengadakan ulangan harian, saya tidak pernah tahu alasannya, hipotesis saya selama ini adalah Bu Yayah tidak mau terlihat bodoh dalam mengajar karena nilai siswanya yang dibawah rata-rata. Wkwkwk, lucu.

       Sekali lagi saya sebut saya anti-sosial karena saya tidak mempunyai teman dekat satupun. Dulu sempat ada, tapi beberapa minggu kemudian dia lebih memilih berteman dengan siswa yang lebih keren dari pada saya. Jelas lebih, karena dia cantik, pinter, dan kaya. Sayangnya, saya tidak pernah peduli akan itu.

       Sekedar informasi saja, walaupun sekolah saya ada di daerah sunda, dan mayoritas masyarakat memakai bahasa sunda, tapi—songongnya, para siswa di sekolah saya banyak yang pakai bahasa indonesia. Saya juga tidak tahu. Tapi yang penting, karena saya-- ya, walaupun tidak punya teman, setidaknya saya jangan beda-beda amatlah dari mereka-- saya harus ikuan dong. Dan saya kan murid teratur dan berjiwa nasionalisme jadi harus pakai bahasa indonesia.

        Lah, tapi—bentar,  sebahasa indonesianya siswa sekolah saya, tidak ada yang songong pakai gue-gue segala—ish, Gian-Gian tadi sombong amat pakai gue-gue segala.

Amit-amit deh, saya bertemu dia lagi—huhh.

“Gina, kumpulkan buku paketnya dan simpan di meja ibu,ya!”
Aish,  sumpek saya. Setiap pelajaran bu Yayah, saya kok merasa seperti babu sih. Tapi, ya sudahlah. Terima nasib. Tersenyumlah saya membalas titah paduka Yayah terhormat. Toh, saya juga bakal ditemani kacung forever di kelas ini, hihi. Ketua kelas, lah. Siapa lagi kalau bukan dia?



------------

Salam kenal guys, duh ini karya aku yang amatiran. Tunggu kisah Gian yaaa, hehe.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: May 28, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Deretan Manusia TIDAK LAKUHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora