Tentang Neru
Beberapa minggu ini Techi tak memberi kabar. Orang ini memang terkadang menyebalkan, mengingat dia memang merayakan natal bersama keluarganya sendiri. Dia memang sadis tak mengajak Neru ikut merayakan natal bersama. Tapi bagaimanapun juga Neru selalu mencintainya. Awalnya Neru tak pernah mengenal dia ini. Namun awal pertemuan kami saat Fuyuka mengajakku untuk menemui saudaranya. Dia melihatnya, tentu saja karena yang dimaksud Fuyuka adalah Techi
“Siapa gadis itu?” Techi menarik lalu berbisik ke telinga Fuyuka
“Oh, dia Nagahama Neru, sahabatku cantik bukan” Fuyuka menjawabnya datar, Techi melotot sambil menunjukan telunjuknya dibibir Fuyuka, Neru hanya heran melihatnya. Fuyuka menepis telunjuk Techi, diapun menatapku lalu tersenyum. Neru tersipu saat itu juga. Diapun memulai percakapan bersamaku.
“Halo aku Hirate Yurina. Senang bertemu denganmu” Sapanya, Neru tersenyum padanya sambil berkata
“Aku Nagahama Neru, senang juga bertemu denganmu”
Saat itu juga kami bercakap-cakap ringan. Yang aneh saat itu Neru merasakan sesuatu getaran saat dia menatap Neru. Hatinya rasanya menari-nari melihatnya. Inikah cinta pandangan pertama?
Lucu sekali jika Neru mengingat pertemuan singkat 6 Bulan lalu itu. Neru selalu tersenyum-senyum sendiri mengingat itu. Dari pertemuan yang tak disengaja berubah jadi cinta. Techi, lucu sekali.
“Drrtt… Drrtt..”
Tiba-tiba saja Neru mendengar getaran benda mungil diatas meja itu. Telepon genggamnya bergetar, siapa yang memanggilnya?
“Hirate Call” Tulisan itu tertera dilayar telepon genggamnya.
Neru meraih benda itu lalu ku sentuh tulisan “Answer” disana
“Hallo baby Neru” Neru dengar dia menyapaku hangat disana.
***
“Bagaimana hubunganmu dengan Techi?” Fuyuka menanyai sambil menuangkan coklat hangat ke cangkir yang ada dihadapan Neru
“Baik-baik saja, tapi akhir-akhir ini dia jarang menghubungiku. Kenapa ya?” Neru meneguk coklat hangat itu sedikit demi sedikit. Fuyuka sejenak terdiam berfikir.
Neru terus menatap coklat hangat yang berada didepannya
“Kenapa kau diam?” Tanya Neru ulang, Fuyuka sedikit gugup.
“Itu.. Euu.. Ahh dia terlalu sibuk iya” Jawabnya agak lama. Neru sedikit heran kepadanya. Namun Fuyuka sahabatnya, dia juga sepupu Techi, tak mungkin dia bohong.
***
Siang ini hawa cukup dingin. Salju di Barcelona masih tersisa disetiap sudut. Tak biasanya Neru ingin berjalan-jalan disekitar daerah sini. Dengan memakai sarung tangan, penutup telinga, jacket tebal dan sepatu bot ini cukup hangat untuk menghindari udara dingin yang berkejaran diudara .
Neru sendiri baru kali ini berjalan-jalan dimusim dingin.
Bulan ini Neru tak melihat bayangan Techi sama sekali. Neru benar-benar merindukannya. Tak biasanya Dia menjalani hubungan jarak jauh seperti ini.
“Huhh” Neru menghela nafas, terlihat asap dari mulutku keluar, mungkin karena dinginnya hawa siang ini.
“Memi ku mohon” Tiba-tiba suara yang tak asing ditelingaku terdengar. Suara itu seperti suara Techi, ya benar. Neru melirik ke sekelilingnya. Depan, belakang, kanan..
“Techi...” Ucapnyakaget, Techi terkejut melihat Neru, dia terdiam seribu kata saat itu juga.
“Sedang apa kalian disini?” Tanya Neru. Memi diam, Techi terlihat akan berucap namun tertahan.
“Jawab”
“Tidak ada apa-apa” Memi menyela.
“Non mentior (Jangan bohong)” Ucap Neru nada meninggi.
Mereka terdiam. Neru melihat Techi menggandeng tangan Memi sambil memegang sesuatu berwarna merah disana.
“Apa yang kalian lakukan disini? Jawab”
“Tidak ada” Ucap Techi.
“Honestum (jujur)”
“Aku bilang tidak ada!” Techi sedikit murka.
Neru kecewa mendengar jawaban Techi. Mengapa dia jadi begitu?
“Apa kau tak mencintaiku lagi sehingga kau berani menyentakku?” Lirih Neru padanya
“Imo (Iya)” Jawabnya, Neru kaget dan langsung menatapnya. Dia menatap Neru dalam-dalam.
Tatapan itu persis sama seperti tatapan ketika Neru pertama bertemu dengannya.
“Hah, kau bercanda? Non mentior! Indica mihi, si me amas! (Jangan bohong, katakan padaku kau mencintaiku)” Neru tertawa kecil padanya. Namun dia diam dan tetap menatapnya serius.
Sementara Memi hanya merangkul tangan Andrian.
“Non (tidak), kau salah numquam ego dilexi te (aku tak pernah mencintaimu)”
“Apa kau bilang? Seriuslah jangan bercanda!” Ucap Neru santai. Tiba-tiba dia menarik Neru kehadapannya. Mata Neru terbelalak, Neru benar-benar kaget, perlahan untaian kata mulai keluar dari bibirnya.
“Honestum nuquam ego dilexi te (Jujur aku tak pernah mencintaimu)! Aku tak bercanda” Techi melepaskan tarikannya perlahan. Neru masih kaget. Jantungnya berdetak 1000 kali/menit. Neru kaget.
Sementara dia tetap memandang mataku.
“Aku tahu kau mencintaiku! Jika tidak kamu tak akan menunjukan pandangan itu jika kau tak mencintaiku. Aku tahu” Neru menenangkan dirinya sendiri dengan perkataannya. Neru benar-benar tak tahu apa yang telah terjadi pada Techi.
“Non, aku hanya mencintai Memi” Seketika Memi terkejut mendengar itu.
“Aku salah orang. Seharusnya aku tak bilang cinta padamu hingga akhirnya aku sendiri yang menyesal” Timbalnya lagi, Neru benar-benar kaget, dia ingin sekali menampar balik Techi saat itu juga yang telah menampar hatinya dengan kata-kata tajamnya, Neru tak dapat menahan bendungan air dimatanya. Seketika Neru ingin berucap tapi Neru tak kuasa. Saat itu juga Neru berlari meninggalkannya.
‘Techi, mengapa kau tega melakukan ini padaku’ batin Neru
