Important 1

34 3 2
                                        

Angin malam menyeruak, mengundang hawa dingin yang menusuk kulit, menembus pori-pori. Bulan masih nyaman berada pada tempatnya, menggantung indah, meski bumi tetap memilih menjadi gulita. Kaca bening mempertunjukkan keindahan langit hitam, binting-bintik putih terang, beserta kapas abu-abu yang senantiasa bergelantungan. Entah sejak kapan aku sukarela berdiri sambil memikirkan banyak hal, membayangkan angan-angan, namun entah kenapa juga sekarang malah terasa menyenangkan.

“Malam guys! Kembali lagi bersama Aldric Prasetya di 109,9 Radious. Aku bakal nemenin kalian selama dua jam kedepan. So, let’s have a nice night!”

“Kemarin aku ketemu sama anak kecil. Dia nunduk aja, jadi aku coba buat bertanya, “Kamu kenapa, Dek?”. Dia dongak dan menjawab, “Bang, emang yang boleh punya cita-cita cuman orang kaya aja ya?”. Yang kaya pasti tinggi cita-citanya, yang miskin udahlah enggak usah ketinggian mimpinya. Aku enggak tahu sejak kapan mindset itu tertanam dalam otak manusia, yang mampu menghancurkan semangat kita untuk merangkai cita-cita dalam sekejap saja. Tapi, yang harus kalian tahu, Albert Einstein enggak bisa menciptakan teori Relativitas cuman dengan punya miliaran dolar. Boleh atau enggak boleh, kamu sendiri yang bisa menentukan mau mimpimu tercapai atau tenggelam oleh mindset yang entah dari mana asal muasalnya”

Aku tahu. Sejak suara dalam radio itu mengudarakan tentang berbagai opininya. Tentang bagaimana seharusnya orang bermimpi, bagaimana seharusnya orang merangkai cita-cita, bagaimana seharusnya seorang pemimpi tidak menyerah dengan berbagai mimpi buruk yang kadang berbonus air mata. Dan kutemukan jawaban dalam suaranya yang bermain dengan frekuensi udara. Dengan menatap impian itu dan tak membiarkannya mundur walau seinci saja.

“Oke, aku bakal muterin lagu yang pas buat kalian mengawali eksekusi dari rangkaian impian yang sudah kalian tebar di permukaan angkasa. A Million Dream by Hugh Jackman and Michelle Williams"

A million dreams is all it’s gonna take

A million dreams for the world we’re gonna make

Lagu itu mengudara lewat lubang-lubang kecil dari radio, mengalun memenuhi ruang udara dalam kamarku.

“Canggih! Enak banget lagunya, pas buat orang tipe-tipe kayak lo”, suara itu muncul setelah bunyi decitan pintu menabrak gendang telingaku.

“Dan enggak pas buat orang tipe-tipe kayak Kak Rudy”, sahutku. Halus namun menyakitkan. Kulihat ia berakting memegang dada sambil megap-megap menarik napas.

“Sebenernya enggak pedes amat sih, tapi nyesekin banget dah”

“Langsung aja, mau ngapain ke sini?”, tanyaku.

“Tidur, dah malam”

Tepat setelah kalimat itu tuntas, aku dorong tubuhnya ke luar kamar dan dengan sigap mengunci pintu kamarku.

“Woy, adek laknat banget?!”

                                 •••

Aku hirup udara pagi dengan perlahan, berniat menyimpannya, meskipun tercampur dengan bau ikan ibu-ibu pasar. Menerawang pemandangan jalanan melalui beberapa jendela kecil dari dalam angkutan kota. Mengabaikan Kak Rudy yang tak henti berceloteh.

“Tadi malam gue diputusin Dia”

“Dia siapa?”, tanyaku.

“Ya Dia, pacar gue, eh udah mantan”

“Terus?”

“Padahal rencananya gue hari ini yang mau putusin dia. Yang bener aja gue diputusin duluan”

“Ya udah sabar, udah terlanjur juga”, sahutku. Aku segera turun dari angkot sebelum Kak Rudy curhat pasal cinta dan aku tak bisa memberi wejangan apa-apa.

Kulangkahkan kakiku meninggalkannya sendirian. Tidak lama, karena setelah berita kejombloannya menyebar, cewek-cewek seantero sekolah pasti akan menggelayuti lengannya manja sambil memohon-mohon agar Kak Rudy menerima cintanya. Gaya cewek kekinian yang membuatku lelah. Datang terlalu pagi membuatku memutuskan untuk ke ruang OSIS terlebih dulu. Menyegarkan pikiran sekaligus mengerjakan beberapa proposal. Aku nyalakan speaker kecil lalu memutar lagu-lagu yang kuperoleh dari dua jam mendengarkan radio hampir setiap malam. Sejujurnya aku suka berorganisasi, yang tak kusuka adalah keharusan untuk bersosialisasi. Keharusan untuk memahami orang-orang yang kadang tak segan merendahkan orang lain.

Awal setelah pelantikanku menjadi ketua OSIS, rasa bingung menguasaiku. Pertanyaan seperti kenapa aku harus masuk ke organisasi? Kenapa aku mau menerima keharusan untuk bersosialisasi? Kenapa aku mau terjebak di sini? Benar-benar membuatku kacau, menentukan benar atau salah atas pilihan yang sudah aku tetapkan. Lalu aku sadar, sudah terlanjur. Telat bila aku menjawab semua pertanyaan itu. Hanya satu jawaban yang bisa aku ajukan, apa yang aku pilih maka itulah yang harus aku jalankan.

                                   •••

Sebenarnya ini udah pernah aku publish pakai akun yang @illiaaprillia. Karena memori hp-ku penuh, jadi aplikasinya aku hapus. Dan saat masuk lagi, aku lupa sandi akunnya. So, aku buat akun baru dan cerita ini bisa publish lagi.

Cerita ini bakal beda banget sama yang di akun sebelumnya karena aku buat banyak perubahan. Alasannya? Aku lebih srek aja sama yang ini.

Aku harap kalian suka😊

Pejuang Mimpi

Illia Aprillia

One Important ThingStories to obsess over. Discover now