1
Remang-remang cahaya mentari pagi menembus jendela tak bertirai di sebuah rumah berlantai lima yang dihuni oleh seorang bocah bernama Kisut.
Di rumah sebesar itu, Kisut dulunya hidup bahagia bersama abang dan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai astronot. Namun, kebahagiaan itu lenyap secara sempurna ketika pamannya datang membawa kabar bahwa kedua orang tua Kisut menghilang setelah tersapu bebatuan ruang angkasa.
Kisut menghabiskan hari-harinya di lantai satu, karena tangga menuju lantai dua ambruk setelah kayunya digerogoti rayap tak bersayap. Abangnya menikah dua tahun yang lalu dengan seorang wanita transgender penyuka lelaki, meninggalkan Kisut seorang diri di rumah lima tingkat itu. Kisut mendapat uang bulanan dari abangnya, tetapi uang yang dikirim hanya cukup untuk menghidupinya selama dua hari. Selebihnya, dia mencari uang dengan berjualan kuah bakso di sekitar perumahan tempat dia tinggal.
Suatu hari, sebuah tragedi yang mengenaskan terjadi. Kisut baru saja pulang dari berdagang, ketika dia menyadari kunci rumahnya hilang. Di kantong baju dia mencari, bahkan sampai ke kantong tetangga, namun tak juga dia dapati kunci rumahnya. Dia memeriksa ke gerobak miliknya dan wajahnya tercebur di kuah bakso yang mengepul.
Kini, bukan hanya namanya yang jelek, namun juga wajahnya.
Kunci rumah miliknya tak pernah ditemukan, begitu juga makna dari kehidupannya yang absurd itu. Selama beberapa hari setelahnya, dia tinggal di teras rumah. Beralaskan tanah dan beratapkan langit, berkawan dengan sepi di setiap malam yang sunyi.
Tetapi, penderitaannya itu segera berakhir ketika pada suatu malam, hujan turun dengan deras.
Amat deras.
Semua tetangga menutup pintu dan jendela, berkemul dalam hangatnya kebersamaan keluarga. Kisut yang malang hanya bisa melolong, entah pada siapa dia meminta tolong. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli, seakan-akan seluruh dunia menjadi tuli. Hujan yang tak diizinkan sampah-sampah untuk memasuki saluran air, kini mulai menjilat-jilat kaki Kisut, berupaya menjadi kawan di tengah malam yang suram.
Suasana bertambah parah ketika halilintar dengan ganasnya menyambar pohon kelapa di teras rumah Kisut. Pohon itu seketika tumbang bagai tentara yang tewas ditebas pedang. Kisut berteriak. Kisut menjerit. Namun, suaranya yang jelek tenggelam dalam derasnya hujan malam.
Purnama seakan mengulum senyum, setelah sekian lama, akhirnya anak yang malang itu bisa minum.
Selamat malam, Kisut.
2
Nampaknya malaikat maut pun enggan menarik jiwa yang bau ketuban. Meski sabun yang dipakai Kisut beraroma pandan, bau ketuban tetap menempel pada diri Kisut yang kurang perhatian.
Sejak kecil, ketika teman-teman Kisut ikut orang tua mereka ke luar kota, Kisut malah ditinggal pergi ke luar angkasa. Pekerjaan mereka sebenarnya mudah, hanya harus menyapu bebatuan di planet Jupiter. Sayangnya, nasib buruk menghampiri mereka. Suatu hari, malah mereka yang tersapu oleh bebatuan di planet yang besar itu.
Mereka hilang tanpa jejak, meninggalkan Kisut dan abangnya yang tengah berjualan rujak.
Dan kini, tubuh kurus Kisut terombang-ambing di tengah ombak banjir. Arus menggiringnya ke danau. Danau yang jauh dari rumah bertingkat lima miliknya.
Kisut masih sanggup berteriak, meski sebenarnya sudah pingsan. Mungkin ketika jiwa sudah tak mampu menolong raga, raga akan berusaha menolong dirinya sendiri, sebab raganya tahu bahwa Kisut tak mampu berenang.
Jangankan berenang, mandi saja dia jarang.
Beruntung, sebuah batang pohon tumbang dan mengapung, meski sempat menimpa kepala Kisut hingga berdarah dan bernanah. Akhirnya, raga Kisut segera menggapainya dan menjadikannya pelampung.
YOU ARE READING
KISUT (2020)
Non-Fiction[FIKSI] Sendirian dalam sunyi, Kisut tinggal bersama sepi. Ibu dan Bapak telah pergi, Tak akan pernah kembali. Berjuang seorang diri, Kisut menjalani hidup penuh tragedi. Sendiri Sampai Mati. Started: 25/5/20 Published: 8/6/20
