MUQODDIMAH

29 4 2
                                        

Bagi pengikut ajaran yang dibawa oleh manusia sempurna, Muhammad bin Abdullah, ramadhan adalah bulan suci. Di pesantren umumnya mengadakan pengajian kitab kuning khusus pada bulan suci ini. Biasa disebut pondok ramadhan atau kilatan.

Beberapa orang yang beruntung dan mempunyai cukup sangu biasanya menitipkan putra-putri mereka ke sebuah pesantren selama sekitar 17 hari. Malam lailatul qodar, dimana itu adalah saat awal mula turunnya kalam Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril. Mengunjungi Nabi Muhammad yang tengah menyendiri di gua Hiro. Kala itu Muhammad sampai menggigil kali pertama menerima wahyu.

Haq, kakak kandung Amira dua tahun lalu dikirim ke sebuah pesantren tahfidz. Memiliki fasilitas madrasah pagi, sekolah umum, mengkaji sains.

Haq berangkat sejak ramadhan untuk menyesuaikan dengan lingkungan pesantren, juga sekolahnya ada kegiatan. Mengaji kitab juga Qur'an, belum efektif KBM (kegiatan belajar mengajar).

Sejak itu kediaman yang dihuni Amira menjadi kurang hidup, sebab ditinggal pergi oleh patner dua puluh empat jamnya dalam sehari. Namun siang hari hingga menjelang sore kediaman itu ramai oleh anak-anak yang mengaji, belajar membaca Qur'an pada ibunya. Dan beberapa remaja mengaji kitab pada bapak.

Sebelumnya  bapak tidak membuka pengajian. Tapi karena beliau ingin berjuang menghidupkan agama dan mentashorrufkan ilmunya, tersetujuilah ide dari seorang tetangga. Bapak hanya mengajar kitab kuning dasaran yang kecil, karena itu adalah pondasi awal untuk hal-hal besar setelahnya, begitu terang Bapak saat Amira bertanya di suatu malam.

Sore hari bapak khusus mendidik anaknya sendiri. Haq dan Amira. Ditambah seorang lagi, Rafi. Total ada tiga yang harus dididik spiritualnya setelah pagi hari berlelah-lelah dengan pelajaran umum.

Itu dulu saat Haq masih di rumah. Saat Haq telah diberangkatkan ke pesantren, tinggallah Amira dan Rafi yang harus dididik khusus bapak, agar mereka tidak tersesat saat menyusuri jalan kembali.
Ba'da maghrib Rafi masih di rumah Amira untuk belajar bersama, karena mereka satu kelas. Itu saat hari biasa, lain ketika bulan ramadhan tiba.

Untuk ramadhan ini, sore Bapak hanya membacakan makna kitab, maknani. Malam usai tarawih Bapak menugaskan mereka berdua untuk diskusi memahi teks yang tadi didikte maknanya dalam bahasa jawa.

Sebelum masuk bulan ramadhan Bapak telah mencarikan kitab ke sebuah pondok di kabupaten sebelah, Kediri. Memilih sebuah kitab yang disampulnya bertuliskan tema "Cerita-Cerita yang Mebakjubkan," sebuah kisah kisah inspiratif pendorong semangat anak Adam untuk beribadah.

Ba'da ashar Rafi telah siap mengenakan baju taqwa abu tua, sarung goyor biru laut, dan tak lupa songkok hitam bertengger apik di kepalanya. Serta mengenakan parfum aroma misk demi memuliakan ilmu yang akan dikaji.
Rafi mendekap kitabnya di dada dekat dengan hati, melangkah dengan mantab menuju majlis ilmu.

Di rumah, Amira sudah menyiapkan tiga dampar: satu untuk Bapak, satunya lagi untuk dirinya, dan yang lain untuk Rafi. Juga menggelar karpet agar tidak masuk angin.

Tak lama Rafi datang dengan senyum yang memperlihatkan dua ceruk di pipi, wajahnya berseri karena air wudlu. Penghormatan ketika mengaji adalah dalam keadaan berwudlu, suci.

Bapak telah usai dari wiridnya ba'da sholat, mengambil kitab di atas rak buku dan kitab lain. Tersenyum hangat sebelum mulai mengaji.

Suara Bapak lembut namun tegas, jelas di dengar. Dimulai dengan membaca basmalah lalu mengirim alfatihah pada Kanjeng Nabi, para ulama' terdahulu, para leluhur yang telah mendahului, juga kepada pengarang kitab yang akan dipelajari.

Dikatakan dalam pembukaan bahwasanya cerita-cerita yang akan dituturkan diambil dari sebuah kitab karya Syeikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby, dimana kitab itu adalah langka. Sedangkan Kyai Ahmad Yasin bin Asymuny hanya menyuplik dan mengurutkan beberapa bab diantaranya: keutamaan basmalah, keutamaan mendirikan sholat malam dan siang, kebenaran ibadah, ibadahnya orang-orang sholih, keutamaan taat, bagusnya kontinuitas, menjelaskan karomah (kemuliaan) dan tawakkal kepada Allah, menjelaskan keadaan orang-orang pilihan Allah (waliyullah), menjelaskan berbuat baik pada kedua orang tua, juga lain-lainnya yang akan dijelaskan. Bathin Amira saat Bapak perlahan membacakan makna jawa di pembukaan kitab.

"Menarik juga ini," gumam lirih Amira sambil mengangguk-nganggut singkat dan melirik sekilas ke arah Rafi.

Ternyata Rafi juga sedang melihat kearahnya. Rafi tersenyum tipis saat mata mereka tak sengaja saling tatap.

Amira buru-buru menatap kembali kitabnya, membubuhkan tinta hitam di bawah tulisan Arab tak berharokat sebelum tertinggal menuliskan makna per kata.

"Sial! Kenapa harus barengan gitu liatnya?" Rutuk Amira dalam hati, namun senyumnya juga tak hilang dari wajah segarnya walau sedang berpuasa.

"Ingat, Ami! Ini sedang puasa, jaga mata!" Umpatnya menasehati diri sendiri masih dalam hati.



Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Malam 1 Syawal 1441 H

Ahad, 24 Mei 2020. 00:17

Membasuh HatiStories to obsess over. Discover now