1.

8 2 0
                                        

"AYAHHH!! BANGUNN! KAU TELAH BERJANJI PADAKU BAHWA KAU TAKKAN MENINGGALKAN KU SENDIRIANN! KAU JUGA BERJANJI AKAN SELALU DISAMPING KU! APA BUKTINYA? BANGUN  AYAHH! APA KAU TEGA MENINGGALKAN KU?! AYAHH!"

"ARGHHH" 

Seorang gadis tersentak bangun dari tidurnya.

"Sial! Mengapa mimpi buruk itu selalu saja menghantuiku?" gadis itu bangkit dari tempat tidurnya menuju dapur untuk mengambil segelas susu. Gadis itu duduk di meja makan sambil meneguk susunya.

"Mengapa rentetan kejadian itu terus menerus masuk kedalam mimpiku? Aku sangat lelah. Padahal kejadian itu sudah 7 tahun berlalu. Apakah diluar sana ada yang sama denganku? Atau bahkan ada yang lebih parah?" gadis itu kembali menuju kamarnya, namun ia terhenti di suatu kamar yang membuat hatinya kembali sakit. Ia masuk kedalam dan kemudian ia duduk ditepi ranjang.

"Ayah, kau tahu? Aku sangat sangat merindukanmu. Mengapa kau sungguh tega meninggalkan ku? Kau bilang kau ingin berjuang melawan penyakit mu! Tapi apa yang ku dapatkan? Kau pergi?" gadis itu terisak dalam kesunyian.
.
.
.
.

"Nona, bangunlah. Ini sudah pukul 8:30. Kau tidak ingin pergi sekolah?" Seorang wanita paruh baya membangunkan ku. Padahal baru kali ini aku tidur dengan nyenyak.

"Aku sudah pernah bilang padamu, bahwa kau tidak boleh masuk ke sini! Mengapa kau sangat lancang?" Gertak ku keras. Aku sangat tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kamar ini. Kamar ayahku. Termasuk Bibi Martha. Walaupun ia sudah bekerja sebelum ayah meninggalkan ku pergi.

"Maafkan saya nona. Saya lancang."

"Huftt.. Yasudah kau boleh keluar sekarang. Dan maafkan aku sudah membentakmu, Bibi Martha. Aku sangat tidak suka siapapun masuk keruangan ini. Dan peringatkan kepada Maid disini untuk jangan pernah masuk ke kamar ayah atau kalian semua akan kupecat." angkuhku.

"Baik nona, saya permisi. Hmm.. Sarapan mu sudah disiapkan oleh Ara." Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk pergi kesekolah. Ini sudah sangat telat. Apalagi ini pelajaran Sir. Jack. Guru yang sangat kubenci. Apa lagi ia adalah wali kelas ku.

Setelah selesai mengganti pakaian, aku turun kebawah mengambil sarapan ku dan membawanya keruang tv, sambil menonton film kartun yang pemainnya adalah spons dan bintang laut. Terkadang aku iri dengan persahabatan mereka. Bisa kah aku menjadi salah satu dari mereka?

Karena aku terlalu menikmatinya, aku sampai lupa kalau aku terlambat. Habis lah aku kali ini. Pasti Sir Jack akan menghukum ku mencari buku di perpustakaan. Aku buru buru mengeluarkan motor dan helm ku untuk bergegas pergi ke sekolah dan tidak lupa aku memakai "topeng"  ku.

Aku hadir kesekolah tepat pukul 9:26. Seperti yang kubilang, pelajaran Sir. Jack sudah dimulai. Ketika aku mengetuk pintu, sorot matanya sangat menakutkan.

"Maaf nona, bisa kah kau memberi tahu ku sudah pukul berapa sekarang?" matanya yang tajam menusuk mataku. Aku hanya mengangguk, dan sambil melihat ponsel ku.

"Pukul 9:26, sir."

"Kau telat berapa jam Steice?"

"Hmm,, Aku sangat buruk dipelajaran matematika. Tapi mungkin sekitar ehmm, berapa ya? Mungkin sekitar 15 menit dari jam 7:00." jawabku sambil tersenyum. Gelak tawa sekelas muncul dan membuat sorot mata tajam Sir. Jack mengalih ke arah mereka. Dan saat itu juga mereka terdiam.

"Ya seperti yang kau bilang, kau sangat buruk di matematika mu. Sebagai hukumannya, berlari lah keliling lapangan sebanyak 15 kali seperti katamu tadi. Jika kau tak bisa menghitungnya, siap kan pena dan tulis lah di telapak tanganmu. Karena kau sangat buruk di pelajaran itu." gelak tawa sekelas kembali muncul dan aku hanya memberikan tatapan sinis kepada Sir. Jack.

"Ada apa dengan matamu, Steice? Mengapa kau memandang ku sinis? Ingin ditambah?"

"Tidak tidak"

"Yasudah, tunggu apa lagi? Jalan kan sekarang!" Bentak Sir. jack

"Apakah tidak ada pengurangan Sir?"

"Pengurangan? Baik lah akan aku kurangkan menjadi 20."

"SIRR"

"Selamat berjuang." Ucap Sir. Jack dengan senyumnya yang menjijikan.

"Mari kita lanjutkan pembelajaran kita"
.
.
.
.
.
.

Author POV

"Demi tuhan! Mengapa lapangan ini begitu luas? Padahal aku baru berlari 4 putaran. Apalagi keringat membasahi tubuh ku. Dasar guru gila." teriak Steice yang begitu frustasi akan hukumannya.

"Kalau seperti ini aku bisa saja pingsan tak sadarkan diri. Dan tak ada yang mengangkat ku ke ruang kesehatan. Pasti itu sangat memalukan." desis Steice.

"Lebih baik aku pergi ke kantin untuk membeli beberapa snack dan soda" Steice bergegas pergi ke Kantin sambil bersiul siul ria.

"Wahh snack ini sangat lezat, mengapa sedari dulu tak terbeli olehku. Tapi sayang, kalau tersedia kemasan besar akan kuborong semua. Tetapi semua kemasannya kecil." Saat Steice menikmati makanannya,

"Apa yang kau lakukan disini Nona Steice terhormat?" 

Steice tampak terkejut akan Pertanyaan orang tersebut. Steice berbalik dan menjawab,

"Emm,, a-aku s-sedang membeli p-pensil I-iya Pensil " Jawab Steice gugup.

"Apakah sekarang pensil sudah berganti bentuk menjadi cairan, Steice?"

Steice kembali mencari alasan yang tepat.

"Emm, pensil itu menghilang. Jadi aku memutuskan  untuk mencarinya. Ketika aku mencari, haus ku muncul dan aku membeli sebotol soda untuk menghilangkan dahaga ku." Jawab Steice cepat.

"Wahh Steice, alasanmu tidak bisa ku tebak. Aku kira kau akan menjawab soda itu pemberian teman mu. Ternyata tidak. Kau bagus dalam berbohong. Jika saja ada  perlombaan berbohong, mungkin kau akan jadi pemenangnya." Jawab Sir. Jack

Sang empu hanya tersenyum tersipu malu, tak berniat menjawab Sir. jack.

"Lalu, apa hubungannya hukuman mu dengan pensil? Apakah berlari membutuhkan pensil" Steice kembali bungkam.

"Sir, kau tahu kan aku sangat buruk dalam pelajaran hitung menghitung. Jadii aku berinisiatif untuk membeli pensil untuk mencatat sudah berapa kali aku berlari."

"Apa kau sudah gila, Steice? Kembali jalankan hukuman mu! Jika kau belum melakukannya, jangan pernah berpikir kau akan masuk ke kelas! Aku kan memantau mu, Steice. Jangan lupa habis kan soda mu agar kau tak kehausan saat menjalankan hukuman mu nanti. Oh iya, jika kau sudah menyelesaikan hukuman mu, temui aku" ucap akhir Sir. Jack.

Steice menghela nafas kasar. Ia berfikir, mengapa guru gila itu bisa berada di kantin? Padahal  jam pelajarannya belum selesai. Jangan jangan ia membeli cemilan?

PERSONALITYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang