We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Atap Rumah Sakit Jiwa

23 2 7
                                        

Rangga Andita Pratama, seorang pria berumur 28 tahun dengan rambut hitam disisir rapih. Pekerjaan nya adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit jiwa di pusat kota. perkejaan nya ini sering sekali di pandang sebelah mata oleh masyarakat di sekitarnya.

Memang apa yang salah dengan bekerja dirumah sakit jiwa? padahal di tempat inilah Rangga menjadi lebih banyak bersyukur, dan di tempat ini juga ia banyak belajar tentang kehidupan dan bahaya nya stigma masyarakat.

Namun tentu saja menjadi seorang dokter dengan gelar spesialis kejiwaan bukanlah hal yang mudah. Terkadang Rangga ingin ikutan gila ketika beberapa pasien yang ia tangani sedang kumat, seperti sekarang ini.

Salah satu pasiennya yang menderita gangguan self-injury kambuh dan hampir membunuh dirinya sendiri di kamar mandi rumah sakit. Kejadian itu sukses membuat Rangga panik dan ketakutan. seharus nya Rangga bisa terbiasa dengan semua ini. tapi tetap saja, siapa yang tidak takut melihat nyawa yang hampir hilang.

karena itu langkah kakinya kini bergerak menuju atap rumah sakit. tempat favorit nya selama berkerja disini.

Atap rumah sakit memang tidak di desain untuk menjadi taman. hanya berupa lahan kosong dan gudang yang selau terkunci. tidak banyak pasien maupun pengunjung yang tau tempat ini, makanya tempat itu selalu sepi.

Seperti yang ia duga, atap rumah sakit itu sepi. hanya ada satu laki laki yang Rangga tebak adalah pasien karena laki laki itu memakai baju pasien dari instalasi Rawat Inap.

Tanpa menghiraukan si pasien yang duduk di tempat yang jauh darinya Rangga memilih untuk duduk di tempat favorit nya untuk menenangkan diri, di tempat yang cukup terlindungi dari matahari di waktu sore, namun Rangga masih bisa melihat pemandangan langit ibukota. Ia Duduk termenung, sambil mencoba menghentikan tangan dan kakinya yang gemetar.

suasana yang tenang dan sepi membuatnya terlarut dengan pikirannya sendiri. bagaimana jika tadi ia tidak menyadari keberadaan pasien yang tengah bersembunyi di kamar mandi, apa pasien itu akan meninggal di tangannya?

"sedang ada masalah ya, dok?"

Rangga membelakkan matanya dan berdiri dengan seketika. sejak kapan ada orang disampingnya? hampir saja ia melupakan status nya sebagai seorang dokter dan mengumpat keras keras. 

"eh maaf saya ngagetin ya..." senyum ramah nya kini terlihat seperti senyum yang tercampur rasa bersalah. Rangga tidak memeberikan reaksi apa apa, ia masih tetap berdiri di tempatnya. 

Rangga sedikit kaget karena wajah yang dimiliki oleh pasien di depannya ini mirip sekali dengan sepupu nya yang berumur 16 tahun. matanya masih mencurigai bahwa orang yang tengah tersenyum di depannnya ini bukan lah manusia, tak hanya mukanya yang kepalang mirip dengan sepupunya bahkan langkah kakinya juga tidak terdengar.

dulu ia pernah dengar setan bisa menyerupai muka orang yang kita kenal. orang di depannya bukan setan kan?

"oh iya lupa, saya jadi ga sopan gini. nama saya Bian, siapa nama dokter?" tanya Bian lalu kembali tersenyum ramah setelah menyadari wajah terkejut Rangga yang tak juga hilang. 

"nama saya Rangga" jawab Rangga sembari membalas senyuman ramah Bian. Rangga pun duduk di samping Bian. kembali menikmati pemandangan gedung gedung yang berdiri dengan gagah seakan mencakar langit ibukota.

"dokter sedang ada masalah ya? Saya tidak mengganggu kan?" Tanya Bian memastikan bahwa Rangga nyaman nyaman saja berada di dekatnya.

"nggak mengganggu kok. Tadi kaget aja Bian tiba tiba ada disamping saya" kata Rangga sambil menggeleng pelan.

"kalau ada masalah cerita aja dok, Nanti kalau dipendam terus bisa gila loh dok! atau mungkin malah jadi sakau kayak pasien di Instalasi rehabilitasi NAPZA."

Side Story Of lifeStories to obsess over. Discover now