Ditatapnya dengan saksama wanita yang tertangkap di dalam pantulan cermin buram terkena percikan air. Suram, nyaris tak ada gurat-gurat kehidupan terpapar di sana. Retina hitam yang kehilangan binar, seolah mempertegas maha dahsyat gulungan ombak kepedihan, yang mengalir dan merenggut rona bahagia dari kedua pipinya.
"Yang hilang cuma perasaan, kok!" yakin Merlya kemudian ia memutar keran, sedikit menundukkan punggungnya ke arah wastafel, dan langsung membasuhi wajahnya dengan air secara brutal. Setelahnya, ia kembali mengangkat pandangan. Sembari menekan-nekan ujung telunjuknya di permukaan kaca, Merlya mengeluarkan ultimatum untuk dirinya sendiri. "Selagi aku nggak kehilangan diriku sendiri, selama itu pula aku nggak kehilangan apa-apa."
Masih dengan muka basah, rambut dicepol berantakan, Merlya melangkah keluar dari kamar mandi. Kakinya terhenti tepat di ujung single-bed kemudian menghempaskan diri. Telungkup, sesak dan sesal berkolaborasi dengan baik menguasai panggung hatinya. Rasa-rasanya, waktu lima pekan ke belakang belum cukup baginya menumpahkan racun dan emosi.
Merlya memilih menutup rapat-rapat kedua kelopak matanya, dan berharap tak akan berlama-lama memelihara kekecewaan atau mungkin saja Tuhan berbaik hati sesegera mungkin mengirimnya ke alam dimensi lain.
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Hai 😁 saya kembali. Ini cerita baru yang pertama kali setelah lima tahun berlalu hiatus dengan ide² baru. Hope you like it. Please vote n komen ya.... Thanks @nana_neeh
YOU ARE READING
After You
ChickLit"Ternyata perasaan kehilangan itu, ya hanya perasaannya aja yang hilang. Selama aku nggak kehilangan diri sendiri, aku nggak kehilangan apa pun," ujar Merlya santai. ... tapi kenyataannya? siapa yang bisa menjamin bahwa nggak ada luka di balik ka...
