Meminta di bawah mengasihi standar.
"Jadi satu aja gimana, pak?" Negoku.
"Satu setengah mentok, itu sudah tambah blok belakang,"
"1,3 gimana?"
"Ri, materai siap?" Bapak itu tengok samping kanan.
"Sudah pak,"
Meremas tangan Alfi sudah biasa bagiku, ah aku tidak segugup dulu. Bibirku ditarik pipi kanan dan kiri. Senyum.
Aku senang semuanya maju, tanah ini juga akan aku majukan. Syukur negosiasi dengan pemilik tanah lancar, bahagia.
Hai, sudah lama tidak bertemu.
Tiga tahun yang lalu ya? Masa anak remaja dimulai, drama berat dimulai. Semua berjalan sesuai kadar pencipta. Aku dikadarkan tidak mengambil arah Yogyakarta, masih di kota kelahiran. Universitas swasta tidak sesuai yang orang lain pikirkan. Aku baik.
Rumah produksi ibu-ibu juga baik, kedai? Ini yang menjadi trendi penduduk kota sekarang? Belum, tapi semua maju dengan kadarnya.
Niat awal baik akhirnya baik.
HARSH ¦
"Titip absen ya? Aku dateng tapi mepet,"
"Ke mana?"
"Beli alumunium foil, udah abis,"
"Bunda nunggu, masuk dulu!"
"Lusa aja, bye." Makanannya sudah dipegang, aku pamit pergi.
Tempat sekarang halaman batu rumah Mark. Aku gas motor tapi—nabrak.
"Emang gak direstu," dia menarik besi belakang motorku. Cibir saja terus.
HARSH ¦
"Jangan push terus, istirahat dulu,"
"Nggak, aku suka,"
"Suka sama maksa jangan disamain, abang sama kamu suksesnya beda," mulutnya penuh dengan daging tapi berbicara, "minum obat tenang emang solusi?" Lanjutnya.
Aku tidak bersuara, biar, dia sedang sensi.
"Ibu nuntut sukses cepat ayah nggak 'kan?" Aku balas anggukan.
"Ikut ayah, jalan kamu beda," katanya.
Aku masih sama, keras jika ada yang dicapai. Maaf jika banyak kesalah pahaman, kita sama-sama maju bisa?
Kalian tanya aku capek? Banget.
Demi menjadi yang disorot semua melakukan yang baik dari terbaik 'kan? Ya, aku sama. Aku mau jadi yang diperhatikan walau menolak dari luar, aku mau jadi yang dipandang walau bentuk saja, aku mau, kalian sama-sama.
