Sinar matahari panas menyongsong tepat di atas langit. Seperti biasa saat jam kosong, kelas kami ribut luar biasa. Ya mungkin karena kami sudah kelas 3 SMA, dan kelas kami berada di lantai 1 ujung koridor yang letaknya jauh dari ruang guru.
_____________NARATOR___________
Well, Selamat datang di kelas 12 IPS 3. Biar kuperlihatkan isi kelas ini, di meja guru sana ada si pembuat onar, Ronal namanya. Dia sedang memasang musik di speaker kelas bersama beberapa teman dekatnya yang rebutan soal lagu apa yang berikutnya akan dimainkan. Di ujung kelas sana ada ketua kelas bersama sahabat-sahabatnya, entahlah apa yang sedang mereka bicarakan. Dibarisan depan, ada anak anak pendiam, bisa dibilang kuper (kurang pergaulan) sedang membaca buku, jarang ada yang mendengar suara mereka berbicara karena yah pendiam. Beberapa dari teman-teman yang lain yang mengajak mereka berbincang, mereka sering kali hanya membalasnya dengan senyuman atau gerakan kepala, misterius ya.
Eh, kamu lihat kemana? Oh, lelaki yang sendirian dibaris ujung sana? Biar kujelaskan nanti. Lupakan dulu tentang dia oke?
Nah, Sekarang lihat ketengah kelas, di sanalah 3 gadis bersahabat yang tidak pernah terpisahkan.
ELLA
"Eh woi, Ko Andi ke Ausi donk.." kata Nissa, salah satu dari trio gadis itu dengan wajah yang sedih karena ditinggal pacarnya kuliah ke Ausi.
"Wah serius lu, Niss?" tanyaku dengan nada tidak percaya.
"Iyalah serius jiirrr... Kalo ga serius ngapain gua sampe sedih gini cobaa" balas Nissa dengan tampang yang lebih sedih.
"Lah memang dia perginya kapan?" tanya Licia.
"Belum lama nih, 2 hari yang lalu. Tapi gua udah kangen pisanlah anjir. Mana sekarang dia dichat jarang aktif," jawab Nissa sambil melihat notifikasi diponselnya.
"Itu lagi sibuk kali, namanya juga baru sampe Ausi, pasti dia sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk kuliahnya di sana," balas Licia menenangkan sambil menepuk nepuk bahu Nissa, terlihat Nissa pun mengangguk kecil menyetujui perkataan Licia.
"Gila, ribet ya pacaran. Untung gua jomblo, ga perlu Ada kekuatiran apa pun," celetukku sambil menyederkan badan ke kursi dengan tangan dilipat, dan sedikit menunjukkan senyum sombong.
"Lihatin sampe lu punya pacar atau gebetan lagi, karma lu.. hahaha " ledek Nissa sambil tertawa kecil untuk membalas tingkahku barusan.
"Ga akanlah, gua sudah gamau jatuh cinta lagi ah, mending nunggu waktunya tiba, langsung aja gua nikah dengan lelaki 10 tahun lebih tua, biar ga drama coy" candaku dengan muka datar.
"Hahahaha Om om donk" celetuk Nissa, dibalas dengan tawanya Licia yang terbahak bahak. Melihat mereka tertawa aku pun ikut tertawa.
Waktu tak terasa berlalu. Bel istirahat pun berbunyi, dan teman-teman semua keluar dari kelas dan langsung menyerbu kantin, begitu pun aku, Licia dan Nissa.
"Gila, langsung penuh donk kantinnya" ujar Nissa dengan jengkel.
"Ya sudah, ngantri saja yuk" ucap Licia menenangkan sambil menarik tanganku dan Nissa menuju antrian.
"Ha, akhirnya setelah 10 menit ngantri, gua bisa makan juga, jir" ucap Nissa lega, sambil kami duduk di meja kosong kantin.
Tak lama kemudian seorang lelaki tinggi dari kelas 12 IPS 2, duduk dengan kami, namanya Theodore.
Dia adalah pacar Licia, sejak kami semua kelas 3 SMP. Kadang kuiri melihat mereka yang terlalu goals.
"Hey gais," sapa Theodore pada kami namun matanya menatap mata Licia dengan senyuman hangatnya.
Senyuman itu dibalas Licia dengan manis, seketika Licia seperti teringat sesuatu dan berkata
"Eh gais, nonton yu hari ini. Ada film baru lho. Action Thriller."
"Wah, boleh tuh," jawab Nissa sambil mengunyah makanannya seperti orang yang sangat kelaparan.
"Sorry, tapi hari ini gua ada latihan tenis meja. Ga enak sama team kalau ga hadir, bentar lagi pertandingan," ucapku lemas, sambil menyuapkan nasi kedalam mulut.
Mendengar ucapanku Nissa pun serentak berkata "oh iya gua juga harus nabung, jir. Gua skip dulu deh ya,"
"Yah, bukannya lu udh gamau tenis meja ya?" Tanya Licia padaku dengan heran sekaligus kecewa.
"Semester 2, sepertinya gua baru bisa keluar ekskulnya karena satu dan lain hal."jawabku.
"Oh ya, mungkin kalian bisa manfaatkan waktu ini untuk ngedate ?" Ledek Nissa sambil tersenyum konyol kepada Licia dan Theodore.
"Kalian ga seru ah.." jawab Licia dengan bibir monyong khasnya.
Melihat tingkah Licia, Theodore tersenyum senyum sendiri sambil menyantap makanannya.
Such a cute couple!!
"ANJIIIRRR" teriak Nissa tiba tiba dengan mulutnya yang penuh makanan. Setelah melihat sesuatu diponselnya.
"Kenapa?" tanya kami bertiga secara berbarengan.
Nissa menyodorkan jam diponselnya pada kami.
"1 MENIT LAGI BEL MASUK, JIR. Pelajaran guru killer, si Yong MAKANAN GUA MASIH BANYAK LAGI" jawab dia panik, dan segera memasukan semua makanannya kedalam mulutnya.
Sementara itu aku dan Licia langsung bergegas kembali ke kelas, meninggalkan Theodore yang masih santai di kantin karena dia berbeda kelas dengan kami.
"TYENGWUEUHSIN GUUEAAW (TUNGGUIN GUA)" teriakan Nissa dari kantin, terlihat dia berlari kecil mengejar kami. Sepertinya dia baru selesai memasukkan makanannya ke mulut dan belum sempat menelan.
Sesampainya di kelas, tepat ketika Bel akhir istirahat berbunyi,
"Untung, tidak telat" ucapku dengan napas yang tersenggal karena capai berlarian.
Licia mengangguk.
"Woee dajal, ga nungguin gua ah"
Teriakan kecil terdengar dari belakang kami, itu Nissa yang baru saja sampai kelas. Kami saling memandang dan tertawa karena sikap lucu Nissa yang panikan.
Pelajaran pun kembali seperti biasa, membosankan hingga hampir seluruh kelas mengantuk. Namun karena ini pelajaran matematika Pa Yong, sang guru killer. Tak ada satu pun yang berani tertidur. Aku pun salah satunya yang berjuang mati matian untuk tetap menjaga keseimbangan karena ngantuk parah.
Serasa seabad telah berlalu, akhirnya bel pulang berbunyi.
Aku pun berpisah dengan Nissa dan Licia, Lalu langsung beranjak ke gor indoor di lantai 2, untuk mengikuti ekskul tenis meja.
NARATOR
Di sinilah awal mula, hati patah yang terkunci diketuk kembali....
To be continue
BINABASA MO ANG
Jatuh Cinta Lagi
Teen Fictionseorang gadis bernama Ella kembali jatuh hati setelah merasakan pedihnya hubungan lamanya. "Akankah dia berbeda? aku terlalu takut untuk menjalin hubungan lagi. Tapi hati ini tidak bisa menyangkal bahwa aku telah jatuh hati padanya," ....
