Perkenalan

14 2 1
                                        

Ini adalah ceritaku. Terlahir dari keluarga sederhana dan tinggal di desa. Nama desaku adalah harapan, karena orang-orang bebas meminta apapun pada tuhan. Disana aku tinggal bersama ayah dan ibu tiriku. Ya, ibuku telah tiada sewaktu aku masih kecil dan ayahku menikah lagi dengan gadis cantik dan baik hati. Sampai saat ini aku tidak memiliki adik, hingga hari-hariku mulai bosan dibuatnya. Belum lagi orang tuaku selalu bekerja diluar desa yang menyebabkanku harus tinggal sendiri dirumah. Rumah yang sudah seperti teman dengan pernak pernik didalamnya. Mereka memang tidak bernyawa, tapi bersama mereka dan kesunyianlah imajinasiku berkembang pesat.

Adzan subuh selalu lebih dulu membangunkanku daripada mentari pagi. Karena itu adalah panggilan perintah dari tuhan yang tidak boleh dibantah. Seperti pagi pada umumnya, aku bersiap mandi dan sembahyang subuh. Aku hampir lupa memperkenalkan siapa aku lebih detail. Sekarang aku kelas 12 di salah satu smk yang lumayan populer. Namun jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh membuatku harus berangkat lebih pagi. Diperjalanan aku tak pernah bosan hanya duduk di jok motor dengan tangan berpegang pada stang. Aku selalu menikmati perjalananku ke sekolah bersama dengan mentari pagi yang masih malu-malu menampakkan diri. Ditambah dengan harummya hunga yang baru bermekaran dan dinginnya embun yang menetes di dedaunan. Aku selalu mengobrol sendiri ditengah jalan, sesekali membuat puisi mengenai karya tuhan yang indah ini

Setiap orang tak selalu menjadi teman
Kita harus menyapanya agar bisa berkawan
Begitupun dengan alam yang mempesona
Harus disambut dengan riang gembira

Begitulah kira-kira gambaran mengenai puisiku. Tapi sayangnya aku hanya bisa mengucapkan kosa kata sekali saja. Aku tidak bisa mengingatnya lagi untuk sekedar ditulis untuk cerita suatu saat nanti. Aku membiarkan kosa kata itu mengalir begitu saja meski tak pernah kembali. Karena lucu saja, jika diperjalanan aku harus berhenti sejenak hanya untuk menulis apa yang aku katakan.

Mengenai sekolah, aku takan bercerita panjang lebar. Bukan tidak ingin, tapi aku sering lupa kejadian dengan begitu detailnya. Aku mengambil jurusan perbankan syariah dengan murid berprestasi sejumpah 36. Seperti biasa aku selalu mematuhi aturan yang diberlakukan. Kecuali untuk jam kosong, aku lebih sering mengobrol dengan teman, memainkan gadget atau menyanyi bersama. Di sekolah pun aku mengikuti beberapa ekstrakulikuler, rohis dan English club. Karena selain belajar bahasa inggris, aku pun ingin lebih mendekatkan diri kepada tuhan. Di luar sekolah pun aku tertarik dengan satu eskul bernama saka bhayangkara. Semacam kolaborasi antara pramuka dan kepolisian. Aku memang selalu tertarik dengan hal yang menarik meskipun dari sekolahku hanya aku yang mengikuti eskul itu sampai ditengah jalan.

Akan ku ceritakan kehidupanku dengan kata demi kata hingga membentuk sebuah kalimat dan berakhir dengan paragraf. Pertama aku akan menceritakan lebih dalam mengenai diriku. Mungkin pertama kali yang orang lihat dari diriku adalah pendiam. Entah fakta atau bukan tapi aku mengakuinya. Saat orang tuaku bekerja, aku memang selalu menghabiskan waktu sendirian di hari libur dan pulang sekolah. Begitupun di sekolah, aku tidak pernah menyapa terlebih dulu pada siapapun terutama yang tidak aku kenal. Mentok-mentok aku hanya akan bicara pada teman smp ku yang saat ini satu sekolah bersamaku di smk. Awalnya aku mencintai kesendirian ini dengan aroma keheningan yang menenangkan dan detak detik jam dinding yang membuatku fokus pada imajinasiku. Semenjang alu tinggal sendiri, aku lebih sering menghayal. Nanti akan ku ceritakan hayalan-hayalan konyolku yang membuatku tertawa setelah sadar.

Dari sd aku memang suka bernyanyi dan sampai sekarang aku menjadikannya sebuah hobi. Sesekali aku bersenandung dengan diiringi musik sambil merapikan rumah. Itulah caraku agar bahagia dan tidak membosankan. Mungkin imajinasiku juga terhubung ke otak, hingga menghasilkan kosa kata yang terlontar dari bibir begitu saja. Entah datang darimana kosa kata itu, mereka mengalir sebagaiman mestinya. Mungkin itu kujadikan hobi kedua karena setiap waktu luang dengan kesunyian, aku selalu melontarkan kata-kata yang berbau puitis menurutku. Kadang akupun membuatkannya untuk teman-temanku yang sengaja memintanya. Lebih sering aku menuliskannya dalam gadgetku, mengenai alam, rindu, kebucinan dan arti hidup.

Mawar tetaplah mawar dengan harum serta duri ditangkainya
Ia tidak bisa menjadi melati yang harum meskipun kecil bentuknya
Aku tetap akan menjadi diriku dengan bakat yang aku miliki
Aku tidak bisa dipaksa menjadi orang lain yang segalanya lebih tinggi

ya, dulu sewaktu aku tidak tahu artinya bersyukur, aku selalu melihat orang lain sampai aku ingin seperti mereka. Dengan harta yang berlimpah, paras yang cantik, teman yang banyak dan bahagia setiap hari. Tapi semakin hari aku semakin gelisah dibuatnya. Pada akhirnya aku menyadari arti bersyukur dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata menjadi diri sendiri itu jauh lebih baik dibanding harus berpura-pura menjadi orang lain. Begitupun dengan mencintai diri sendiri dan menerima apa adanya atas pemberian tuhan.

AKUStories to obsess over. Discover now