Bandara memang tempat yang paling menyakitkan untuk beberapa orang. Tetapi, bandara bisa menjadi tempat paling menyenangkan untuk insan yang saling bertemu setelah sekian lama. Yaa, memang bandara bisa menjadi tempat yang menyenangkan dan menyakitkan dalam satu waktu.
"Kita masih tetep bisa temenan kok, La. Kita bisa skype, email, telepon, kamu gausah khawatir. Kamu juga masih bisa nyusulin aku kesana kalo lagi liburan, aku juga usahain biar bisa sering liburan ke Indonesia kok" Katanya
Aku menunduk, semakin mengubur pandanganku darinya aku tidak mau menatapnya. Namun, bersikap egois disini tidak akan membuat dia tetap disini, aku tidak boleh seperti ini. Aku mengangkat kepalaku agar bisa menatapnya dan tersenyum, "Jaga diri baik-baik loh! Kamu sendirian tau disana, sering-sering hubungin aku ya? nanti aku kangen sama kamu tau! Cerita apapun yang kamu alamin disana ok?" ucap ku menghibur diriku sendiri, namun gagal. Air mataku jatuh.
Dia menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. Mengusap punggungku menenangkan. Aku hancur disana, dipelukannya, aku akan merindukan tempat dimana aku melepas semua masalahku. Rumahku pergi. Kalian boleh bilang aku berlebihan, namun nyatanya aku tidak bisa hidup jauh darinya, terlalu sulit untukku.
"La, udah dong nangisnya, kalo kaya gini terus aku jadi mikir buat batalin semuanya deh." katanya, aku menggeleng. "Nggak! kamu harus tetep kuliah disana! katanya kamu mau bikin aku bangga? semangat belajarnya!" ucapku.
pemberitahuan terdengar bahwa penerbangannya sedikit lagi akan berangkat, ia izin untuk check in. Aku menatap punggungnya yang semakin lama menghilang. Aku menunduk, menatap converse lusuh ku yang sengaja aku tidak cuci. Rumahku benar-benar pergi, Dia pergi.
———
6 bulan pertama tanpanya hidupku sangat berat, meskipun dia menepati janjinya agar tetap menghubungiku tetap saja kita memilikki kesibukan masing-masing yang sangat menyita waktu. Terlebih waktu kita untuk bersama sangat terbatas. Siang melakukan aktivitas, walaupun malam kita akan Video Call. Tetap saja rasanya kurang jika tidak ada kehadirannya disini bersamaku bukan?
2 bulan setelahnya dia mengunjungiku disini, hanya 2 minggu. Lalu dia kembali lagi kesana.
Ya, dia mengambil beasiswa di Sydney, Australia. Itu mimpinya yang dari dulu dia ceritakan kepadaku. Dia berhasil mendapatkannya, disatu sisi aku bahagia dia bisa menggapai mimpinya dan disisi lain aku merasa sedih karena dia meninggalkanku disini, dia. Sahabat kecilku yang selalu ada disampingku, dia cinta pertamaku. Dia tidak pernah mengetahui terhadap rasaku kepadanya, karena aku tidak mau menghancurkan persahabatan yang sudah kita rangkai sejak lama.
Tahun pertama aku berhasil melewatinya, dia tidak pernah mengingkari janjinya untuk tetap menghubungiku.
Pada tahun ke-2, semuanya baik baik saja. Namun, tidak biasanya ia tidak menghubungiku seperti ini. 1 Tahun, ia untuk pertama kalinya mengingkari janjinya. Ia menghilang. Aku menunggu balasan e-mail nya, skype pun tidak pernah dijawab olehnya.
Jadi skenario apa lagi yang akan dia buat, cerita apalagi yang akan dia bacakan untukku kali ini. Apapun itu alasannya, rasa kecewaku sudah terlalu besar kepadanya.
continue...
***
GUYSSSS ini cerita pertama yang aku buat! tolong kritik dan sarannya yaa, semoga aku selalu punya ide buat selalu update tentang cerita ini. aku gak berharap banyak karena kemampuan menulisku juga sangat sangat tidak ada apa apanya dibandingkan penulis hebat diluar sana. aku hanya menyalurkan hobi ku yang senang menulis ini. Enjoy!
YOU ARE READING
LOST
Teen FictionMungkin kehilangan seseorang itu bisa dianggap biasa, tapi tidak bagiku. Bisa bayangkan kehilangan orang yang sangat kalian sayangi? melanjutkan hari-hari hidup kalian tanpa sosok orang yang tadinya selalu ada. Lalu kalian harus terbiasa menjalani h...
