"ROSA!!!"
Teriakan itu membuat sang pemilik nama menengok ke belakang, untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Ratnasari Meisie Ningrum, ialah orang yang memanggilnya. Ratna memiliki tubuh yang tidak terlalu kurus dan tinggi, rambut panjang yang selalu di ikat dengan model kuncir kuda, dan memiliki raut muka tegas. Dan Rosalina Sekar Zanna yang biasa dipanggil Rosa, ia adalah teman yang paling dekat dengan Ratna. Tubuhnya kurus dan pendek, rambutnya keriting ter-urai, matanya selalu memancarkan keceriaan. Ratna dan Rosa sudah berteman sejak mereka masih kecil. Letak rumah mereka berdampingan sehingga mereka menjadi akrab sekaligus menjadi teman bermain.
Ratna dan Rosa memiliki dua teman laki-laki yaitu, Gilang Lakeswara yang biasa dipanggil Lang dan Gandhi Manggala yang biasa dipanggil Ndi. Mereka berempat mempunyai julukan RaGa RoGi yang dimana itu adalah gabungan nama dari mereka.
"Kenapa sih Rat, kok kamu teriak-teriak?" Tanya Rosa yang sedang bingung karena Ratna memanggilnya dari kejauhan sambil berteriak.
"Hehehe, maaf. Aku cuma mau kasih tau, kalau aku sudah menemukan peti buat simpan barang-barang kita nanti." Jawab Ratna yang diselingi kekehan, karena merasa bersalah setelah berteriak nama Rosa dengan lantang.
"Mana coba? Aku mau liat." Jawab Rosa antusias.
"Ini." Ratna memberikan ponselnya kepada Sekar sambil menunjukan barang yang akan di beli lewat online-shop yang kini sedang nge-trend.
"Bagus bukan? Tapi aku khawatir kalau nanti barangnya tidak sesuai." Komentar Ratna.
"Iya bagus. Tenang aja, aku sering kok beli barang-barang online-shop, ya.., walau terkadang ada yang tidak sesuai, tapi kan tidak semua toko online-shop seperti itu." Jawab Rosa untuk meyakinkan Ratna bahwa tidak semua online-shop itu menipu.
"Ya sudah kalau begitu kita beri tahu Gilang sama Gandhi, tidak mungkin kan, kalau hanya kita berdua yang memutuskan untuk membeli peti ini." Jelas Rosa yang kemudian mengajak Ratna untuk membahas ini bersama kedua temannya yang lain.
Kini, Ratna sedang menunggu ketiga temannya untuk membahas peti yang akan mereka beli untuk menyimpan barang-barang mereka nantinya. Sudah 15 menit Ratna menunggu teman-temannya yang belum juga datang, mereka berempat ini sebenarnya satu sekolah namun karena kelas mereka yang berbeda jadilah jarang bertemu, mungkin karena mereka sibuk dengan tugas dan ekskul masing-masing.
Ratna yang mulai bosan menunggu kehadiran teman-temannya menggerutu tidak jelas, pasalnya setiap mereka ingin berkumpul orang pertama yang menunggu adalah dirinya. Sedangkan jika dirinya telat maka, ia akan mendapat protes dari teman-temannya.
"Mereka ini lama banget, udah bikin janji selalu telat."
"Kalau aja aku yang telat pasti dapat ceramahan, apa lagi sama Gandhi. Bisa-bisa sampai besok ceramahnya kalau aku yang telat."
"Punya teman kok pada tega semua." Celoteh Ratna, yang tanpa ia sadari sedari tadi ada orang yang sedang mendengarkannya.
"Oh.. jadi kamu dendam nih sama Gandhi?"
"Loh!! Kamu kok sudah disini Lang, kamu jalan apa terbang kok nggak ada suaranya?" Tanya Ratna yang terkejut akan kehadiran Gilang.
"Kalau ada sua—"
"Hai maaf ya telat." Potong Rosa saat Gilang ingin menjawab pertanyaan Ratna.
Ratna yang mendengar penuturan Rosa langsung melangkahkan kakinya menuju rumah pohon yang menjadi tempat dimana mereka berkumpul. Sedangkan Gandhi, ia datang setelah Rosa, mereka mendiskusikan apakah mereka setuju untuk membeli peti tersebut atau ingin mencari peti yang lain. Karena Rosa dan Ratna sudah setuju sejak awal untuk membeli peti itu, alhasil membuat Gilang dan Gandhi juga ikut menyetujuinya. Kami semua setuju untuk membeli peti itu dengan alasan, menarik. Menurut mereka, peti itu tidak terlalu menyeramkan dan tidak terlalu mahal untuk uang mereka yang tidak terlalu banyak.
Setelah mendiskusikannya, mereka menyempatkan untuk bermain walau tidak terlalu lama. Melihat langit yang mulai gelap, mereka ingat untuk segera menyelesaikan tugas sekolah untuk esok hari. Sehingga mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
1 Minggu Kemudian...
Peti yang mereka tunggu akhirnya datang, dan kebetulan hari ini bertepatan dengan hari minggu akhirnya mereka memutuskan untuk berkumpul dan melihat peti tersebut. Mereka ber-empat pun membawanya ke dalam rumah pohon. Jangan salah, rumah pohon yang mereka miliki letaknya tidak terlalu tinggi seperti rumah pohon lainnya. Peti yang mereka beli tidak terlalu berat, jadi mudah untuk membawanya. Sesampainya mereka di dalam, tampak semuanya mulai penasaran. Apakah peti yang mereka beli itu sesuai yang mereka pikirkan?
"Lang, kamu buka plastiknya, ya? Ini guntingnya." Ucap Gandhi kepada Gilang sambil memberikan gunting.
"Iya." Jawab Gilang singkat, ia mulai membuka kertas yang membungkus peti.
Mereka tampak terkejut karena peti yang berada di gambar dengan yang diterima itu nampak berbeda, tapi sebenarnya sama hanya saja, yang difoto tampak sudah lama dan jarang dibersihkan. Sedangkan yang ada dihadapan mereka tampak indah dan cantik. Lebih tepatnya lagi, peti itu terlihat unik.
"Ini beneran petinya? Kelihatan berbeda." Ucap Rosa yang kebingungan.
"Iya ini petinya, langsung buka aja. Nanti kita langsung masukan saja barang-barang kenangan kita." Jawab Ratna santai. Berbeda dengan Sekar yang masih kebingungan.
"Ndi, buka petinya, kita mau ambil barang yang akan dimasukan." Sambung Ratna kepada Gandhi.
Gandhi segera menuju peti dan membukanya, namun raut wajah Gandhi membuat ketiga temannya bingung akan ekspresi itu.
"Tongkat?" Katanya dengan lirih.
"Kalian ada beli tongkat juga? Buat apa?" Sambung Gandhi yang bertanya kepada ketiga temannya.
Dengan cepat, mereka segera beranjak untuk melihat tongkat yang dimaksud oleh Gandhi. Ke-empat sahabat itu nampak heran dan juga kebingungan. Pasalnya, kemarin saat membeli peti ini tidak ada yang mengusulkan untuk membeli tongkat juga. Sebenarnya tongkat milik siapa ini?
Gilang mencoba untuk mengambil tongkat yang ada di dalam peti itu, "Tongkat ini lumayan berat."
"Hmm, apa peti ini masih layak kita pakai?" Tanya Ratna sambil memegang peti.
"Hey, kamu pikir ini peti mayat? Ini hanya sebuah peti berisi tongkat, kok." Sanggah Rosa sambil memukul bahu Ratna.
2 Jam berlalu, mereka masih saja berpikir bahwa pemilik tongkat itu pasti sedang mencari tongkatnya. Gandhi meletakkan tongkat itu ke dalam peti kembali.
"Sebaiknya kita telepon online-shop yang menjual peti berisi ini kepada kita. Mungkin saja, penjual itu memberikan hadiah bonus berupa tongkat. Daripada kita bingung terus seperti ini." Usul Ratna.
Gandhi, Rosa, dan Gilang mengangguk. Ratna memulai menelepon penjual online-shop itu. Berdering sejak 3 menit, tak ada jawaban. Nomor yang anda tuju salah. Padahal, jelas-jelas nomor yang mereka tuju itu benar. Sebelum mereka membeli barang itu, mereka juga sempat bertelepon untuk memastikan bahwa pembayaran sudah ter-verifikasi. Ini aneh menurut mereka.
"Coba cek akun online-shop nya, apa masih ada?" Pinta Rosa.
"Kok nggak ada?!" Jawaban dari mulut Ratna membuat semua saling bertatap mata.
"Jangan-jangan.. kita ditipu." Ucap Gandhi.
"Sebentar, ada yang mengganjal. Coba kalian lihat bagian bawah peti itu. Tertulis jelas kata Peti Berisi. Mungkin yang dimaksud peti berisi itu adalah tongkat itu. Ya! Tongkat itu jawabannya." Jelas Gilang sambil membalik peti.
Ratna mengambil tongkat itu "Maksudmu? Kita akan tau ditipu atau tidaknya lewat tongkat ini?"
"Iya!" Jawab Gilang dengan paras sombongnya.
Mendengar pernyataan dari Gilang, semua teman yang mendengarkannya tertawa. Itu sungguh mustahil. Apa hubungannya tongkat dengan hal ditipu oleh online-shop?
Lalu, apakah pernyataan dari Gilang itu benar?
Jangan lupa untuk ikuti kelanjutannya, ya!!!
ŞİMDİ OKUDUĞUN
RaGa RoGi || Bukan Sekedar Tongkat
FantastikTak disangka bahwa barang yang kami beli lewat online ini, membawa suatu keajaiban hingga membawa kami ke dunia sihir. Oh, tidak! Kami tersesat. Lalu, apakah kami bisa keluar dari sini? Bisa! Namun, kami harus mencari bahan ramuan ajaib untuk kelua...
