Masa dari waktu 0 kini, aku jadi bola. Rotasi imitasi pagi, nafas dengan sisa peluang meski bergilir 1 dari koleksi biak.
Waktu 1 aku bisa terbang, dipeluk pasir hangat bersama reuni. Mendung tak berselang, dan saat bangun lagi kami bersulang.
Waktu 2 kami tampak seram, ditambah aku yang jadi arsitek. Semua bilang mereka tersiksa, aku bilang ini karena kami diberi hati dijajah jati.
Waktu 3 aku jadi tau ia yang Ia jelma adalah aku yang terbagi banyak mereka. Aku jadi tau aku bagian serpih tugas memahami.
Dan berlanjut seperti kembali yang berada pada dulu, kali ini empati dibatasi. Aku punya kaki untuk jalan ke ujung sana. Daripada itu, aku akan jalan di padang dan akan satu-satu menggandeng.
Aku adalah penjahit, sambi duduk di kursi, mengawasi perang-perang bercanda. Aku suka membuat baju-baju lemah dari daun ke kapas ke kulit ke besi. Kadang yang berdarah kubuat sekarat, kubayar kancing-kancing. Tapi aku tak suka buat jas, dasi, dan kawan-kawannya. Mungkin sesekali karena terpaksa.
Tiap ujung panas, anakku datang membawa semen oleh-oleh waktu 2. Dia sudah muda dan sering lupa kalau aku belum saatnya dibentuk. Proses pemudaan, aku biarkan saja toh aku tinggal di atas pasir. Lalu ia pulang saat lelah atau lebih awal ketika tak sengaja kuhancurkan pedangnya.
Aku semakin muda, aku jadi lupa cara menjahit, anakku hilang, patung bekas cetakan tubuhku diatas pasir perlahan menumpuk, diganti jadi bayi-bayi yang suci. Aku pensiun jadi pengawas, saat ketahuan kalau aku sempat tertembak. Saatnya hari aksi, aku harus bergegas.
Tubuhku hilang, sayapku kembali. Aku pergi dari gurun. Aku pergi dari gurun. Aku pergi dari gurun. Aku pergi.
By Beta Ivana (X akl).
