Teruntuk tiga ; satu , alam. Dua ,manusia. Tiga , ibuku yang setengah malaikat sekaligus tuhan nyata dan tuhan-tuhan kecilku di dunia ini.
Di persenggamaan kali ini kita akan ditemani 3 batang rokok dan segelas kopi dengan berisi dialektis pemikiran di dalamnya, yang sudah di aduk sedemikian hangat.
Mungkin dirimu bertanya-tanya kenapa selalu ada si perusak paru-paru menemani di setiap cerita . Tapi tunggu, berikan sedikit waktumu agar kusampaikan sebuah pembenaran. Bagi-ku dia bukan perusak , namun penyambung kehidupan.
Kenapa bisa? "Tanya mereka yang membencinya".
Jika sebelumnya kita berbicara kehidupan yang tak tuntas, mungkin sebatang rokok adalah gambaran sebuah kehidupan demi keberlangsungan cerita ini kepadamu. Filosofisnya ketika sebatang rokok di hidupkan itulah awalan dari kebermulaan sebuah hidup, dan ketika dia merambat mulai habis perlahan-lahan disitu lah kuncinya. "Kau bebas memilih untuk mengakhiri dengan berhenti di tengah perjalanan atau mengikutinya dan menempuh jalannya hingga akhir". Hidup memang selalu memberikan pilihan-pilihan yang tak masuk akal.
Kalaupun kau mengkhawatirkan diri yang ulung ini, tak perlu.
Karena tubuhku di ciptakan tuhan dari kekuatan galaksi yang tak akan hancur hanya dengan beberapa batang rokok.
Yaa, cukuplah pengenalan mengenai itu. Soalnya kita bukan promosi iklan yang menyebabkan kebahayaan dan kesengsaraan bagi kemaslahatan umat,sebab kebaikan tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya. Walau pandangan pun tak harus disudutkan.
Hari ini tepat dimana sebuah perayaan para pejuang buruh seluruh dunia, mendapat sambutan hangat berupa ucapan dan untaian kata yang begitu di agungkan hingga ke pelosok negeri. Demi mengenang mereka pejuang yang ditindas oleh para kapitalis.
Hari ini dilakukan untuk memperingati kematian para tenaga kerja demonstran karena pengeboman di haymarket , Chicago. Seperti yang dikatakan Pramoedya ananta Toer mengenai para buruh "Arwah-Arwah mereka menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir".
Cukup sudah mungkin sedikit untaian untuk kenangan para pejuang , tapi perjuangan tak boleh hanya sekedar cukup hingga detik ini. Karena sampai titik darah penghabisan pun kita akan tetap berjuang , Tan Malaka juga bertutur "Hidup itu adalah perjuangan". Berjuanglah dalam segala hal saudara-saudaraku, karena banyak mereka yang kelaparan dan tertindas diluar sana. Apakah kita harus menunggu Soe Hoek Gie hidup kembali hanya untuk memberi makan seorang pengemis yang kelaparan?
Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur , ucap Soe Hoek Gie suatu ketika.
Benar saja, aktivis tersebut tidur dalam keabadian di gunung sumeru.
Dan sungguh hidup penuh dengan bahaya seperti Soe Hoek Gie atau cristopher McCandless jauh lebih baik dari pada hidup aman tapi terpenjara dalam penjara kota.
Ya kita di penjara, tidak percaya?
Baiklah, kau bisa saja pergi pergi mengejar impianmu sekarang juga , atau hanya sekedar ngobrol berbicara detik ini juga.
Tapi dirimu memilih untuk berbaring di kamarmu yang hangat, membaca tulisan ini dengan kenyamanan.
Kau lupa bahwa di luar sana ada petualangan yang menantimu, untuk hanya sekedar menjadi manusia...
Untuk membuatmu sadar bahwa dirimu bukan mesin yang harus bekerja, kuliah, lalu MATI.
Kurasa kita punya kesadaran penuh akan hal ini.
~~~~ SEMOGA~~~~
Terlalu panjang dan hikmat mungkin salam hangat pembuka akibat penghormatan terhadap mereka yang berjuang . Tapi yaaa, kebenaran takkan pernah mati.
Akkhh sudahlah, mari kita lanjutkan...
Kali ini aku hanya mengajakmu berwisata masuk dalam persenggamaan terhadap rekan yang kini telah melunturkan jalan sunyi-nya. Terlalu berlobang dan terjal mungkin kancah hidup seorang pejalan . Atau apa yang dikatakan beliau hanya semata-mata bersembunyi di balik perasaan nya sendiri.
--Hahahaa--
Ya kali ini kita akan berbicara sebuah kebenaran secara empiris , sebut "Socrates" . Hanya saja berbau perasaan.
Jika dikatakan idealis, sangat idealis sosok pejalan . Bahkan ada beberapa murid yang mengikuti jejak tempuhnya. Dan kini jalan sang guru telah luntur dan sang murid pun belum tau entah bagaimana nasibnya.
Tapi kuyakin sang murid dan seorang simpatisan di dekatnya akan tetap konsisten menempuh jalan "maha-guru" itu.
Terbersit di dalam akal, sang pejalan kenapa bisa demikian , jika kalian bertanya-tanya. Mungkin dia bisa dikatakan sufi, jika Rumi masih hidup. Sebab dia resah dan patah hati akan kehidupan ini. Hanya saja patah hatinya ini terhadap banyak hal terutama terhadap perasaannya yang tak pernah berani dia ungkap-kan dari hati kecilnya.
Semenjak keterjebakan dalam zona segitiga "illumunitai" yang ku namai . Sudah ada prediksi masa depan , bahwa ada dua orang rekan juang yang sepertinya selalu saling terbuka dan saling tak terbaca jika mereka telah bersua.
Namun, diri yang tak berdaya ini hanya mencoba untuk tak menghiraukan prasangka . Dan ternyata, hioptesa (karena tak dapat di katakan teori, mungkin lebih ke konspirasi) berujung sebuah titik temu. Alih-alih tempat peraduan terhadap suka-lara dan kini jadi tempat berawalnya sebuah cerita , sebab ada kata "kita" di antara mereka.
Ahh, betapa bahagia membayangkan jika bertemu dengan "Saga" dan "Siska" , nama yang ku-curi dari sebuah ide dalam novel impian yang akan di terbitkan oleh seorang pejalan .
Izin kupakai, Mahaguru ...
Berbagai teori berada dalam akal jalan seorang pejalan , jika di dalam sebuah dunia persilatan . Mungkin dia seorang pendekar bertangan kosong, sebab selalu ada ketajaman pemikiran dalam jawaban di setiap pertanyaan yang terlontar terhadapnya.
Terkadang kau dapat menemuinya dalam keadaan seorang tirani, sufi, aktivis, sejarawan bahkan filsuf dan kafir sekalipun. Terlalu sunyi mungkin jalan yang kau tempuh wahai pejalan, sebelum bertemu dengan Siska yang kini jadi sang pujangga, sebagai alasan yang mungkin akan menjadi peremuk intelektualitas nantinya.
Di pelantaran keheningan keyakinan ada sesuatu yang mulai tumbuh, sebab jika pejalan sempat berbicara hati, tak lagi hanya sebatas syariat dan hakikat namun sudah mencapai level makrifat, Canda pejalan di kala keheningan.
Sepertinya betul katamu , sebenci dan sekesal apapun kau terhadap sosok hawa yang menyukaimu di masa lalu mu. Tak tau kedepannya, ntah kau akan termakan omongan-mu sendiri atau tidak. Dan kebenarannya, yaaa..
Tak usah di pikirkan , karena masa lalu adalah milik sejarah, masa depan adalah milik tuhan, dan yang kita miliki adalah masa kini. Dan masa kini-mu mahaguru telah menjadi milik si "Siska" , kita namai saja seperti kesepakatan di awal dalam novel impianmu.
Semoga tetap terbina kader yang di rawat maha guru, agar tak berpengaruh ke hal lain yang dirimu sendiri telah tau akan resikonya. Dan yang sudah kau resahkan akan hal itu sebelumnya.
Seperti percakapan antara Plato dan Aristoteles tentang sebuah mawar cantik yang di cari di sepanjang taman yang indah, Ingatlah mereka.
Karena katamu , kita sebagai insan sedang berada dalam sebuah perjalanan yang tak menawarkan pilihan dengan banyak kemungkinan.
Nanti, kan kusambung dan selalu kutulis lunturnya jalan sunyi seorang pejalan. Dan mungkin , akan kurintis "Jalan kaki seorang penyair" ; yang berjalan perlahan, mempelajari sejarah dan menikmati setiap moment yang ada.
Kepada khalayak umat pesanku. Jangan pernah lupakan, setiap pencapaian dan hal-hal baik harus dirayakan dengan secangkir kopi .
Panjang umur pertemanan, panjang umur perjuangan, panjang umur hal-hal baik.
#MerawatKader#AgarTerbina
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kaki Seorang Penyair
Fiksi UmumCerita lunturnya jalan sunyi seorang pejalan
