OhmFluke's Fanfiction by pyro-icy
Pairing: OhmFluke, parents!KaoEarth, WinFluke
Warning: 15 years old gap for Ohm and Fluke
..
..
..
"Aku pulang!"
Pintu depan terbuka dan menampilkan sesosok remaja tanggung berseragam Sekolah Menengah.
Hari ini lagi-lagi ia pulang lebih lambat dari biasanya.
Karena sebentar lagi acara kelulusan, Fluke -si remaja- ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sekolahnya. Dia dan beberapa siswa kelas akhir bersikeras ingin terlibat sepenuhnya di acara terakhir mereka nanti sebagai siswa. Karena itu beberapa hari ini ia pulang terlambat.
Si Ibu bisa memaklumi itu, anaknya memang selalu terikat secara emosional dengan suatu hal, baik itu kepada seseorang maupun benda tertentu. Jadi tidak masalah membiarkan Fluke pulang terlambat agar ia bisa ikut membantu persiapan acara kelulusan atau sekedar berkumpul dengan guru dan teman-temannya.
"Selamat datang! Mae di dapur, sayang!"
Fluke berlari-lari kecil ke asal suara. "Mae menyiapkan makan malam?" tanyanya.
"...eh, sendirian? Dimana bibi Nak?" imbuhnya setelah mendapati Ibunya hanya sendirian berkutat di dapur.
"Tadi pagi bibi Nak menelpon dan mengeluh sakit, jadi Mae menyuruhya istirahat. Agak menyusahkan sebenarnya tanpa bibi Nak, karena Mae harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Mae tidak bisa kan memaksa orang yang sedang sakit bekerja," Earth mendesah pelan.
Bibi Nak adalah asisten rumah tangga mereka, tapi wanita paruh baya itu tidak tinggal bersama mereka. Ia akan datang pagi-pagi sekali untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Biasanya bibi Nak akan pulang ke rumahnya saat menjelang sore, kecuali bila Earth memintanya untuk tinggal lebih lama untuk membantunya mengurus beberapa hal.
Hari ini seharusnya bibi Nak membantu Earth menyiapkan makan malam untuk merayakan lolosnya Fluke masuk Dhurakij Pundit University sebagai penerima beasiswa penuh.
"Tahu begitu aku tadi pulang lebih awal kan, jadi aku bisa membantu Mae."
Earth terkikik geli, tanpa melihat pun ia tahu putra semata wayangnya sekarang ini pasti sedang memanyunkan bibirnya lucu. Itu kebiasaan Fluke dari kecil, dia sangat pintar bertingkah lucu dan imut. Dan favoritnya adalah memajukan bibirnya ke depan saat sedang kesal atau merasa bersalah.
"Kau masih bisa membantu Mae kalau mau. Mae masih belum selesai kok. Tapi sebelum itu, sebaiknya Fluke mandi dulu ya?"
"Baiklah! Tunggu Fluke, Mae. Aku akan mandi dengan cepat!" serunya bersemangat, ia segera melesat lari dengan cepat ke lantai atas.
"Jangan berlari Fluke, nanti kau jatuh!" Earth memperingatkan.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan tersandung kakiku sendiri!"
Baru saja ia mendengar Fluke berteriak seperti itu, detik berikutnya giliran suara gedebug cukup keras yang terdengar.
"Aku baik-baik saja Mae!" teriakan Fluke terdengar lagi.
Earth menangkup wajahnya dengan sebelah tangan, "Anak itu, sudah 18 tahun tapi tetap saja seperti anak kecil. Benar-benar membuat orang khawatir."
Selang beberapa saat, Fluke kembali masuk dapur dengan kaos dan celana selututnya. Dia terlihat lebih segar setelah mandi.
