Candu

1.2K 18 1
                                        

Perlahan aku mulai membuka mata. Suara berisik didapur seolah menghentikan jatah istirahat ku. Terdengar suara nenek dari dapur, mengisyaratkan agar aku lekas bangun dari tidurku.

Seperti biasa, sebelum aku berangkat ke sekolah, aku terlebih dulu harus membantu nenek mempersiapkan barang dagangannya.

Masih diliputi rasa kantuk, dengan agak malas aku mencoba untuk bangun. Sementara di sampingku seorang laki-laki tengah tertidur pulas, seolah tak terusik dengan kesibukan pagi yang mulai menjelang.

"Santoso, gek ndang tangi yo. Tunggunen disek gorengane mbok'e iki. Aku gek tak siap-siap. Selak kawanen mengko."

( Santoso, cepatlah bangun. Tunggui dulu penggorengan nenek ini. Aku akan bersiap-siap. Keburu kesiangan nanti).

Terdengar lagi suara nenek dari dapur. Aku segera bangkit. Atau nenek akan mengomel lebih panjang lagi andai aku tak segera bangun untuk membantunya.

Hawa dingin masih meliputi meskipun pagi mulai menjelang. Terdengar pula suara orang mengaji dari masjid yang tak jauh dari rumah nenek. Pertanda sebentar lagi adzan subuh akan segera berkumandang.

Dengan langkah agak gontai aku melangkah menuju dapur yang hanya tersekat dinding triplek yang berbatasan dengan ruangan yang menjadi tempat tidurku.

Seperti rutinitas setiap pagi, nenek akan sibuk menyiapkan barang dagangannya. Tangannya dengan sigap menyiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa ke pasar seperti termos air panas, satu bakul berisi kue-kue dagangannya, ada nasi lontong lengkap dengan sayuran hijau untuk bahan nasi pecel, gula, kopi, dan juga teh.

Diatas tungku masih aku jumpai satu wajan berukuran sedang. Didalamnya ada pisang yang masih terendam minyak panas. Aku duduk menghadap wajan panas itu, membolak-balik pisang goreng agar matang dengan baik. Sementara nenek pergi kekamar, berganti baju lalu menyisir rambutnya yang panjang dan memutih lalu menggulungnya membentuk sebuah sanggul sederhana khas wanita Jawa.

Hawa hangat mulai terasa. Kayu yang terbakar dalam tungku menyala berkobar-kobar. Sesekali aku teringat kejadian tadi malam. Masih diliputi rasa percaya dan tidak. Bagaimana pak lek Nur menelanjangiku. Menyetubuhi ku. Meskipun tak sampai merenggut keperjakaanku. Dan tentang cairan itu, aku masih bertanya-tanya dalam hati. Apakah itu yang dinamakan air mani atau air sperma?

Dan sampai pulang sekolah kejadian itu masih membayangi ku. Apakah aku menyesalinya ataukah justru menikmatinya.

Oya, kalian mungkin belum tahu hal ini terjadi di usiaku yang keberapa. Aku menebaknya tepat diusiaku yang berjalan 16 tahun. Saat ini aku tengah duduk di bangku kelas dua MTs (setara SMP).

Iya, dan siang itu, ketika pulang sekolah aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Sepertinya nenek belum pulang dari pasar. Saat aku masuk ke dalam rumah, aku hanya mendapati seseorang yang tengah tertidur pulas diatas ranjang tempat tidur ku. Dialah pak lek Nur.

Aku pikir lelaki itu sedang pergi. Memang tadi pagi ketika aku hendak pergi ke sekolah, pak lek Nur sudah bangun dan berencana untuk pergi. Mungkin dia kembali siang ini dan menumpang istirahat di rumah nenek. Entahlah.

Aku acuh saja, tak berniat mengusiknya yang sedang lelap tertidur. Namun, melihatnya tertidur tampak begitu lelap membuatku sedikit iseng. Muncul sebuah pemikiran dalam benakku. Terlebih melihatnya tidur dalam posisi terlentang tanpa selimut membuat ku agak horni dibuatnya.

Dengan sedikit berjingkat aku mendekati tubuh lelaki itu. Memperhatikannya dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu timbullah keinginan untuk menyentuh sesuatu dari bagian tubuhnya itu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

CanduWhere stories live. Discover now