Prolog: Matamu

576 105 132
                                        

Bu Yanti mengakhiri pelajaran IPA nya setelah bel istirahat pertama mulai berirama. Adi masih sibuk dengan buku pelajarannya, tertarik sekali dengan bagian mata. Apakah bentuk mata memang terlihat bulat seperti bola? Adi masih tak percaya.

"Woi, Di. Jajan yuk!" Arum tiba-tiba muncul di depan meja tempat duduk Adi dengan punggung tangannya menutupi tulisan yang sedang dibaca Adi.

"Oh, ayo." Adi bergegas berdiri berjalan beriringan bersama Arum.

Mereka berdua berjalan beriringan keluar kelas. Apakah mereka berpacaran? Tidak tidak, mereka masih duduk di bangku kelas 4 SD. Mereka hanya sebatas teman. Lagipula mereka masih hijau, belum paham apa itu rindu, persetan dengan candu. Yang mereka tahu hanyalah kasih seorang ibu.

"Oi Rum, mau sekali kamu digandeng sama laki-laki jelek kayak Adi ini." Nizar mencegat di depan pintu.

Nizar adalah orang yang paling membenci Adi karena Adi adalah murid paling pintar di kelas ini, ditambah lagi Adi tak pernah mau saat disuruh Nizar untuk mengerjakan tugasnya. Adi juga tak pernah mau jika disuruh memberi contekan pada Nizar saat ulangan dadakan.

Pernah suatu ketika, Adi dipukuli Nizar dan teman - temannya gara-gara dia bilang pada bu Yanti kalau hari ini ada PR sedangkan Nizar belum mengerjakannya. Pulang sekolah dia dicegat di pertigaan depan sekolah, jauh dari jalan raya. Tempat yang cukup sepi untuk melakukan eksekusi. Dipukulilah perut Adi oleh tangan - tangan besi. Hingga dia pingsan tak sadarkan diri.

Dia baru ditemukan oleh seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat di pertigaan itu menjelang sore, yang kebetulan juga adalah tetangga Adi sendiri. Dibawalah Adi pulang dengan luka yang membuat ngeri semua orang yang melihat.

Sesampainya di rumah, Nenek Adi hanya bisa bersabar dengan nasib yang menimpa cucu satu-satunya itu. Cucu yang sudah ditinggalkan oleh menantunya sendiri termasuk juga anaknya sendiri. Mereka berpisah di tahun ini. Entah apa masalahnya. Sekarang mereka semua berbahagia dengan keluarga baru mereka sendiri-sendiri. Hanya sebagian kecil penghasilan mereka yang disumbangkan kepada anaknya, tak ada sisa untuk orang tua mereka. Apakah aku bisa menyebutnya anak durhaka? Jikalaupun bisa aku tak akan mengucapkannya, mungkin mereka hanya sedang khilaf.

Satu Minggu Adi tak masuk sekolah, bu Yanti yang merupakan orang yang paling menyayangi Adi di sekolahan pun resah menanyai kabarnya. Hingga akhirnya dia sendiri memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Di temui Adi dengan tubuhnya yang penuh luka. Bu Yanti hanya bisa menganga, semua guru kenal betul perangai anak kepala sekolah mereka. Nizar yang suka bertingkah sekenanya dengan ayahnya memanfaatkan jabatan kepala sekolahnya untuk menutupi perilaku anaknya. Dunia ini memang penuh dengan diskriminasi.

Saat Nizar melakukan kesalahan kepada siswa lain, ayah Nizar hanya menyuruh Nizar untuk meminta maaf lantas semua masalah itu musnah, menguap seperti air. Sedangkan saat orang lain membuat kesalahan pada Nizar, ayah Nizar akan menghukumnya berdiri di lapangan, kadang juga tak ragu memberikan nilai jelek.

Tapi tunggu dulu, apakah kalian tahu betul apa hakikat menguap? Ya, menguap adalah proses perubahan zat cair menjadi gas. Itulah yang dinamakan evaporasi dalam proses pembuatan hujan. Terkadang hanya menjadi hujan yang sifatnya dingin dan menyejukkan, namun tak jarang berubah menjadi badai yang menakutkan, dengan surara guntur yang memekakkan telinga.

Itu jugalah yang selama ini dirasakan oleh Adi, masalahnya yang kian hari terus menguap. Tersimpan rapat di puncak ingatan Adi, menjelma menjadi badai. Menunggu waktu yang tepat untuk meluapkannya.

"Oi, Rum. Diajak ngomong nggak jawab." Nizar masih sibuk mengurusi mereka berdua.

"Ya suka - suka aku lah." Arum terlihat acuh, namun tidak dengan Adi. Amarahnya segera meninggi begitu sadar kalau dirinya sedang dibully.

Adi berangsek maju hendak menjatuhkan tubuh Nizar di halaman sekolah, ingin membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang yang lemah. Namun ternyata dugaannya salah, justru tubuh Nizar yang lebih gagah lah yang berangsek maju mendorong tubuh Adi masuk ke dalam kelas, agar tak ada satu guru pun yang melihat kalau mereka berdua sedang berkelahi.

Suara sorakan gaduh mulai terdengar riuh di dalam kelas. Teman - teman Nizar mendukung Nizar, sedangkan para murid yang merasa menjadi korban diskriminasi menyemangati Adi. Sepuluh menit berlalu, Nizar berhasil mengunci tubuh Adi dengan memegangi tangan kirinya dan menempelkan wajah sebelah kanan Adi di atas mejanya sendiri. Adi tak mampu berkutik, tangan kanannya mencoba mencari-cari sesuatu untuk melakukan serangan balik. Bolpoin berhasil dia genggam dengan baik. Adi memulai serangan balik.

Digerak-gerakkannya bolpoin sembarangan di depan wajah Nizar, Nizar mencoba menghindar, namun salah satu usaha Adi berhasil mengenai mata Nizar. Nizar berteriak kalap.

Darah mulai mengalir, mengucur deras tak terbendung. Sementara tubuh gagah Nizar limbung, Adi mengambil untung dengan menendang lambung Nizar. Nizar tumbang. Didudukinya tubuh Nizar sambil mengacak-acak matanya menggunakan ujung bolpin yang ada di genggamannya. Nizar menangis, Adi meringis.

Setelah beberapa detik Adi berkutik dengan serangan baliknya, tubuh Nizar tak lagi bergerak. Sementara Adi masih menduduki tubuh Nizar yang sudah mulai tak sadarkan diri dengan matanya yang bersimbah darah. Dilihatnya bolpoin yang ada di genggamannya yang baru saja dia gunakan untuk melakukan serangan balik pada Nizar tadi. Ada banyak darah berlumuran disana. Adi mencoba mendekatkan bolpoin itu ke hidungnya, mulai penasaran dengan baunya. Ini adalah kali pertamanya Adi bermain-main dengan menggunakan darah. Ada sedikit aroma aneh yang menyeruak masuk melalui lubang hidung Adi, menelisik melalui rambut - rambut hidung. Apakah rasanya akan sama anehnya dengan baunya? Adi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dan ditambah lagi satu hal yang sedari dulu membuat Adi penasaran dan selalu saja ingin tahu. Apakah bentuk mata itu benar-benar bulat seperti bola?

Adi tertawa bahagia, bisa melakukan penelitian tanpa biaya. Sedangkan teman - teman satu kelasnya sudah menangis, tak tega melihatnya. Arum bergegas keluar menuju kantor guru, berlari secepat yang ia bisa sebelum Adi benar-benar melakukan hal yang gila. Sedangkan di dalam kelas, bercak darah ada dimana-mana. Satu bola mata menggelinding keluar dari tempat seharusnya benda itu berada, yang satunya lagi sedang dicoba dikeluarkan oleh Adi dari tempatnya. Tentunya menggunakan bolpoin yang ada di genggamannya. Adi sangat bahagia bisa melakukan hal itu.

"Ini sangat menyenangkan sekali, suatu saat nanti aku harus mengulanginya lagi. Entah siapa yang akan aku jadikan kelinci percobaan." Adi masih belum selesai dengan proyeknya.

Bu Yanti tiba di kelas setelah Adi berhasil mengeluarkan bola mata yang satunya, satunya lagi menggelinding tepat di depan bu Yanti. Bu Yanti berteriak histeris, tak percaya terhadap apa yang telah dilakukan oleh murid yang paling dia sayangi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 04, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BengisWhere stories live. Discover now