Rambutnya yang terurai ikut berterbangan saat ia berlari menyusuri koridor. Sesekali ia berhenti karena kelelahan, lalu berlari lagi mengejar sahabatnya yang sudah hampir sampai.
Tadi mereka sedang berada dikelas. Tiba-tiba ada pengumuman tentang hasil ujian sekolah minggu lalu. Katanya sudah ditempel di papan pengumuman dan para siswa bisa melihatnya langsung. Hal itu membuat Alisya langsung beranjak dari duduknya dan pergi keluar kelas begitu saja tanpa berpamitan dan meninggalkan sahabatnya yang asyik bermain ponsel. Namun, sedetik kemudian Ira tersadar dan langsung ikut keluar kelas.
"Cepetan dong Ra, lelet banget sih lo." Alisya berlari dengan tergesa gesa menuju papan pengumuman. Letaknya ada di depan Ruang Kepala Sekolah. Cukup jauh dari ruang kelasnya yang berada di ujung.
Akhirnya kini Alisya sampai. Ia pun berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Ia sempat kesal karena sudah banyak yang mengerubungi papan itu. Namun, dengan segala usaha akhirnya ia bisa menerobos masuk dan melihat hasil ujiannya.
Setelah menemukan namanya yang ternyata berada di urutan kedua, Alisya merasa geram bukan main. Itu karena perbedaan nilainya dengan urutan pertama hanya satu angka. Urutan pertamanya sendiri orang yang ia anggap musuh sejak dikelas tujuh.
"Gimana, Sya?" Tanya Ira yang baru saja berada di samping Alisya. Ia tampak masih kelelahan dengan nafas yang tak beraturan.
"Lihat aja sendiri!" Alisya menjawabnya dengan ketus. Lalu tanpa berpamitan dirinya keluar dari kerumunan yang pengap itu.
"Frizal Nugraha Pratama sembilan ratus delapan puluh dua. Alisya Putri Dewanto sembilan ratus delapan puluh satu. GILA BEDA SATU!" Ira berteriak heboh setelah membaca apa yang ditemukannya. Hal itu membuat sebagian siswa yang berada di dekatnya menutup telinga.
"Sya, eh..."
Ira baru menyadari bahwa Alisya sudah tak ada disampingnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung bergegas keluar dari kerumunan dan mencari Alisya.
Setelah menemukan sahabatnya yang ternyata sudah berjalan menuju kelas, Ira dibuat melongo sendiri. Bagaimana tidak, Alisya yang katanya benci dengan Frizal Nugraha Pratama sekarang hampir menabraknya karena tidak memperhatikan jalan.
brugh!
Wajah Alisya tepat mengenai dada bidang Frizal. Wajar saja, tinggi Alisya hanya sebatas dagu Frizal.
"Kalo jalan matanya dipakai buat ngeliat, jangan kakinya doang yang gerak."
Wajah Alisya sudah merah padam. Ia malu sekaligus kesal, bagaimana bisa ia menabrak orang yang dianggapnya seperti musuh.
"Iya. Maaf," cicit Alisya pelan. Kemudian ia mendongak dan menemukan wajah tampan Frizal yang juga tengah menatapnya. Jantungnya tiba tiba berdegub kencang.
"Santai aja kali liatinnya," sindir Ira yang kini sedang lewat disebelah keduanya. Ia sudah tidak tahan melihat tingkah keduanya yang kelewat romantis dan menjadi tontonan beberapa siswa.
"Apaansih Ra!"
Langsung saja Alisya beranjak pergi sambil berlari kecil menuju kelasnya, meninggalkan Ira yang terkekeh lalu berlalu dan memilih kembali ke papan pengumuman. Ira lupa, ia belum mencari namanya disana.
***
Ceritanya sudah aku un publish. Ada beberapa alasan yang nggak bisa dijelasin disini. Maaf dan terimakasih buat yang udah ngikutin ceritanya. Padahal udah 26 bagian kalau nggak salah ya. Tapi ya mau gimana lagi?. Keputusan aku udah bulat dan nggak bisa di ganggu gugat.
See you dari Frizal sama Alisya.
Telah diedit pada tanggal 9 Juli 2020
inestiaaaw_
YOU ARE READING
FRIZALISYA
Teen FictionMenceritakan tentang seorang siswi bernama Alisya. Terlahir pintar membuatnya seringkali mendapat peringkat umum saat bersekolah. Namun bertemu dengan Frizal adalah hal yang paling dibencinya. Lelaki itu adalah saingannya dalam mendapat peringkat um...
