2-TAMA???

54 13 30
                                        

~ Deg... Deg...

Mendengar nama itu, Bri langsung terdiam, bibirnya terkatup, sementara tubuhnya seketika membeku ditempat.

Mendengar nama itu, ingatan Bri seakan tertarik ke suatu masa dimana kenyataan berkhianat pada keinginan.

Bri mengulangi nama itu dalam hati, Gentamadia Kido. Kenapa bisa?
**

"Bri, lo inget gue kan?" Tama bertanya sekali lagi melihat wajah Bri yang diliputi kebingungan. Bukan, bukan bingung tapi takjub karena dipertemukan dengan Tama.

--

Tahun 2000

Suasana kelas seketika tenang setelah salah satu guru berusia awal empat puluhan membawa seorang bocah laki-laki masuk ke dalam kelas.

"Anak-anak, perkenalkan teman baru kalian. Silakan." Guru itu memulai pembicaraan, lalu melempar penjelasan selanjutnya pada bocah laki-laki di depannya.

Bocah lelaki itu melepaskan tudung Hoodie di kepalanya, memulai memperkenalkan diri.

"Pagi teman-teman. Perkenalkan saya Gentamadia Kido, panggil aja Tama. Anak ketiga dari tiga bersaudara, lahir 19 Maret 1991, hobi main tenis, tinggal di Cimanggis, tapi gak suka bikin orang nangis." Ujar Tama panjang lebar tanpa kenal titik dan koma yang langsung meledakkan gelak tawa seantero kelas, yang ditertawakan juga tidak kalah keras suara tawanya.

Terkecuali... Seorang gadis kecil yang duduk pada barisan ketiga dari depan yang tengah sibuk pada pensil dan buku menggambarnya. Menggambar karakter lalu mengisahkan kisah mereka. Ia tak acuh pada keadaan sekitar sampai... Pensil yang berada di dalam genggamannya tiba-tiba saja jatuh lalu bergulir ke lantai, lalu berhenti tepat di depan sebuah sepatu hitam bertali yang lewat di sampingnya.

Gadis itu mendesah. Ia berusaha membungkukkan badannya untuk menjangkau pensil itu, tetapi sebuah tangan lain yang berbalut kain tebal berwarna abu-abu berhasil mengambilnya lebih dulu. Gadis itu terdiam saat mendapati tangan itu terjulur kepadanya. Kepalanya seketika terdongak ke arah sang pemilik tangan.

"Ini..." Kata pemilik tangan itu

Gadis itu mengerjap menatap sang empunya. Senyum terukir bersisian dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Senyum itu, wajah itu, entah kenapa berhasil mempercepat ritme jantung dalam tubuh yang perlahan ia tegakkan kembali.

"Ini pensil kamu, kan?" Tanya pemilik tangan itu lagi. Sejurus dengan itu, tangan Bri mengambil pensil miliknya.

"Makasih...." Ucap gadis itu pelan seakan menggantungkan kalimat yang kemudian diperjelas oleh pemilik tangan itu. Pandangannya ia alihkan kembali pada buku gambar didepannya.

"Tama... Saya Tama, kamu?"

"Bria." Sahut suara lain yang berasal dari sebelah bangku yang diduduki anak perempuan bernama Bria itu. Dari namebadge tertera tulisan HANI.

"Oke Bria, salam kenal." Akhir Tama yang perlahan menjauh dari bangku Bria, berjalan menuju ke bangkunya yang berada dua baris di belakang Bria. Langkah kaki Tama yang semakin menjauh seiring dengan irama jantung Bria yang kembali normal.

"Bri, kalo orang kenalan tuh ya dijawab." Hani menggerutu sebab teman sebangkunya itu tidak mengindahkan perkenalan Tama-si murid baru itu. "Gak sopan." Tambahnya lagi, membuat Bria menoleh padanya dengan tatapan bersalah.

"Maaf Han."

Hani hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Pasrah karena teman sebangkunya sekaligus sahabat yang telah dikenalnya sejak 2 tahun lalu bersikap acuh tak acuh pada orang lain, terlebih pada anak lelaki. Sahabatnya itu terlalu pendiam, kelewat pendiam jika tak ada hal penting yang memang pantas untuk diucapkannya, seperti menjawab soal yang ditanyakan guru di depan kelas.

Di lain pihak, Bria memasukkan buku gambar ke dalam tas ransel besarnya, berganti dengan buku pelajaran dan buku tulis yang akan dipergunakan selama pelajaran berlangsung.

"Tama...." Gumam Bria dengan senyum tipis, setipis kertas yang hanya bisa terlihat oleh semut-semut kecil yang berbaris di dinding. Seakan ada sesuatu yang salah dengan nama itu, bukan, bukan, tapi pada orangnya. Sepertinya ia sudah mendapatkan karakter baru pada cerita bergambar yang ia ciptakan. Ya... pangeran Tama.
--

Tama, lelaki yang mengisi masa kecilnya dengan berbagai kegilaan yang tidak biasa. Lelaki yang juga menjadi pemeran utama pada karangan pertamanya. Lelaki yang... Ahh...Bri kebanyakan berpikir sampai mengabaikan pertanyaan Tama yang seperti sudah menunggu untuk dijawab.

Perlahan, Bri membuka pagar, membiarkan tubuh Tama untuk melewatinya.

Sudut bibir Bri mulai tertarik sedikit, "Gue ingat." Jujur Bri. Buat apa dia berbohong hanya untuk menutupi kenyataan yang seharusnya tetap menjadi kenangan di hidupnya.

Tama menghembuskan napas lega. Wajahnya yang telah ditumbuhi kumis tipis terlihat lega. "Lama ya kita gak ketemu, hampir delapan tahun kayanya." Tama mengingat-ingat.

Kepala Bri mengangguk. "Gak kerasa selama itu, ya." Gumam Bri yang membuat Tama bertanya apa yang baru saja dikatakan oleh wanita di depannya. Bri segera menggeleng, "Gak... Gak nyangka aja kita ketemu di Jakarta. Bukannya Lo tinggal di Makassar ya?"

"Gue baru pindah sekitar setahunan disini. Lo sendiri kok di Jakarta?" Tama balik bertanya, kali ini Bri malah terdiam. Ragu untuk menjawab jujur atau tidak.

"Ehmmm..." Bri baru saja mau membuka mulut, ketika suara Tamara sampai ke telinganya.

"TANTE BRIII..."

Bri menghela napas, lalu menyahut dengan suara lantangnya, "Iya sebentar Cantik..."

"Tam, gue masuk dulu ya, udah dipanggil si Cantik ke dalam." Pamit Bri pada Tama yang berdiri di depannya.

"Kalo gitu gue pamit pulang. Salam buat Tamara." Tama pun melangkah mundur, melambaikan tangan pada Bri mengakhiri perjumpaan mereka pada hari itu, "Sampai ketemu lagi, Bri." Ujarnya.

Lambaian tangan Bri mengantarkan hilangnya sosok Tama di balik tembok pembatas rumah, "Bye, Tam."

*** Next chapter-->

Gimana sejauh ini dengan ceritanya, masih nyambung?
Ditunggu komen and votenya...

Selamat menikmati...

30 April 2020

Tianaqila's story

BRI&TAMAOù les histoires vivent. Découvrez maintenant