Mereka tersenyum dalam setiap tatapan, membuat rasa baik-baik saja, dengan kesekian agenda saya menganggap menjadi diri sendiri adalah sebuah keharusan, mengapa harus memperdulikan mereka yang hanya bisa melirik tapi tak menyapa?
Dalam setiap pertemuan saya selalu berusaha agar bisa diterima tentunya dengan cara saya sendiri, dengan kepercayaan diri yang maksimum tidak memandang mereka cantik, jelek, pinter, biasa aja, semuanya saya anggap sama, tetapi mengapa saya mendengar desas desus bahwa "saya adalah perempuan yang berperilaku bar-bar" katanya.
Heran bukan, niat hati ingin menjadi manusia paripurna tapi jatuh pada perspektif lain yang tidak bisa kita terima, ah masa bodoh pikir saya di dalam hati.
Saya biarkan saja mereka berpikir apapun, mencoba menggunakan logika dan meyakinkan diri "saya telah melakukan hal yang benar, kenapa saya terus kepikiran?"
Lalu sebagai usaha mencari solusi, saya ajak bertemu salah satu diantara mereka dengan nada roman palsu agar mereka mau, kutanyai dengan penuh semangat "apa yang membuat kamu berpikir bahwa saya adalah perempuan yang bar-bar?" lalu dia menjawab "karena kamu tidak pernah berpikir ketika bertindak, karena kamu hanya menganggap kamu adalah orang yang asik, dan karena caramu tidak bisa saya terima".
Percakapan demi percakapan telah terjalin, saya tidak marah saya hanya mencoba meresapi apa yang dia lontarkan, dan coba jelaskan, saya bisa menerima beberapa dan saya tidak sepakat dengan beberapa, tapi saya memilih untuk tetap diam.
Hanya setelah percakapan itu usai saya mencoba menyimpulkan apakah yang dia sampaikan suatu kebenaran atau hanya sebuah alasan karena dia tidak menyukai saya karena perspektif mereka sendiri, iri misalnya.
Wah, sejujurnya tidak ada yang salah bersikap bar-bar juga, karena tidak ada yang mutlak dalam kebenaran, bisa jadi dia benar saya salah, dan saya salah dia benar, tetapi kembali lagi bukankah kita hidup harus dengan kenyamanan masing-masing?
Pelik memang ketika sifat saya yang saya anggap baik-baik saja disangka bar-bar, dan bukan keharusan juga saya harus merubahnya, karena semua bisa di gapapain, dan di bodoh amatin, semua karakter baik dan tidak ada yang salah ketika kita bisa.merawatnya.
YOU ARE READING
I am Ekstrovert
Short StorySeorang perempuan ekstrovert yang hidup dalam keluarga cemara, ingin menjadi seorang novelis tapi tidak bisa meresapi setiap tulisannya, sehingga akhirnya memutuskan untuk merubah haluan untuk menjadi penulis motivasi islami dan ia berhasil menerbit...
