RESTRAINED

4 0 0
                                        

Jika ada hal yang bisa membuatku bahagia kali ini, adalah berjalan menikmati udara segar di sebuah taman. Sebenarnya tak lebih spesial dari perjalanan ke Hawai dan berjemur di sana, tapi setidaknya aku bisa melangkahkan kakiku setelah kutertidur gelisah selama tujuh hari di kasur ini. Kamar penuh alat medis dan bau yang tidak menyenangkan dari obat-obatannya.

Hari ini Ibu datang mencoba membawaku keliling koridor rumah sakit dengan bantuan kursi roda, mata sayuku terasa silau melihat cahaya hangat yang siap menghilangkan pucatnya kulitku ini. Obrolan kecil meyakinkan Ibu bahwa ingatanku masih baik setelah kecelakaan yang membuat single parent ini bekerja lebih giat untuk membayar semua biaya dan keperluanku di sini. Evelyn, adikku yang masih berumur delapan tahun melambaikan tangannya di taman tersenyum ceria melihat kakaknya hidup kembali.

"Astrid, Ibu akan bertemu dengan Dokter sebentar. Jika butuh sesuatu, kau bisa memanggil suster yang sedang duduk di sana," ucap Ibu menujuk Perawat yang sedang mengajak seorang lansia mengobrol.

Evelyn berlari menghampiriku, tangan lembutnya mengelus bahu yang terhalang baju biru muda ini. Rambut pirang kusamku ia ikat dengan pita cokelat yang sering ia gunakan bahkan sejak terakhir aku melihatnya. Ia mendorong kursi rodaku keliling taman sambil menceritakan petualangannya selama ini tanpaku.

Ia sangat antusias menceritakan semua kisah luka yang tercoret di kaki putihnya, aku setia mendengarkan gadis berlesung pipit ini. Di sekitar taman aku melihat banyak orang berlari dan berolah raga, ada juga pasien yang terpaksa diseret oleh Perawat dan Dokter karena ia berkelahi dengan pasien lainnya.

Tidak terlalu lama kami berkeliling, kami sampai di sebuah danau buatan. Ukurannya tak terlalu luas, dengan berbagai ikan mewarnai air yang berkilau terkena pantulan cahaya matahari. Ada juga kursi untuk bersantai.

Tempat ini cukup sejuk, mungkin karena adanya pohon-pohon besar yang berada di sekitarannya juga. Evelyn menatapku seakan meminta untuk mengambil sebuah ikan , sebuah jaring dengan gagang yang panjang ia raih dari pinggir kolam.

"Aku ingin membawa ikan merah itu pulang," pintanya lirih.

Aku memperhatikan kerumunan ikan hias itu, kucoba berdiri walaupun rasa lemah menahan kakiku.

"Aku tak bisa," gumamku. "Lagipula, ikannya terlalu lincah untuk kutangkap."

Evelyn merengut, sepertinya ia belum mengerti bagaimana keadaanku. Ia membawaku kembali berjalan melihat-lihat danau kecil ini. Tepat tak jauh dari kami berjalan, aku melihat seorang pria tua duduk di pinggir kolam menaruh kakinya di dalam air. Pria tua itu terlihat menangis dengan sapu tangan hitam digenggaman kedua tangannya, ia membuang muka setelahku tersenyum padanya.

"Ia kenapa, Astrid?" tanya Evelyn berbisik.

Ingatanku pada kakek membuatku iba dan mencoba berbicara dengannya, mata penuh tangis amarah menatapku tajam seakan mengusirku pergi.

"Sapu tanganmu jatuh Kek," seru Evelyn. "Astrid, bantu dia!"

Kupaksakan kakiku berdiri, tanpa kata pria tua ini membelalakan matanya ketakutan. Kuyakinkan bahwa aku hanya ingin menolongnya, kubujuk ia untuk bangun dari sisi kolam itu. Heningnya tempat ini terasa mencekik, semakin lama tatapan pria ini semakin menakutkan. Evelyn pergi ketakutan untuk memanggil Ibu, aku terdiam memandang mata yang seakan penuh kata tak terucap ini.

"Astrid!"

Suara Ibu menyentak kesadaranku, suara angin tertiup membawa Dokter dan beberapa Perawat menghampiri kami. Dengan tergopoh-gopoh aku kembali duduk di kursi roda.

"Sedang apa kau di sini, Sayang?" ucap Ibu mengelus rambutku.

Aku mengerang. "Aku hanya ingin membantu Kakek itu."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 29, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RESTRAINEDWhere stories live. Discover now