Rinjani Jingga

12 0 0
                                        

Tok tok tok ...

Ketukan pintu itu dibunyikan oleh tangan wanita paruh baya yang berada di depan kamar putrinya dan terdengar jelas oleh telinga Jani.

"Jani sayang, ayo kita sarapan dahulu" Ucap bu Winda mama Jani, dari luar pintu.

"Iya ma, sebentar!" Teriak Jani dari dalam kamar dan langsung membuka pintu kamarnya.

Jani tersenyum manis pada mamanya dan merangkul sang mama menuju ruang makan untuk sarapan pagi ini.

"Sudah cantik aja kamu, Jani" lontar bu Winda melihat putrinya sangat cantik pagi ini dengan seragam SMA nya walau dengan dandanan seperti anak tomboi.

"Ma, Jani kan memang sudah cantik dari lahir," cerocos Jani merasa tidak terima atas pernyataan mamanya yang seakan tidak menyadari anaknya ini cewek yang pastinya cantik bukan ganteng.

****
Hari ini Jani akan mempersiapkan jiwa dan raganya untuk mengikuti MOS di sekolahnya-SMA Tunas Bangsa. Jiwanya ia persiapkan untuk menghadapi beberapa kakak seniornya yang mungkin akan menguras jiwanya untuk mengumpat dalam batinnya dan raganya ia persiapkan untuk melakukan tugas dari kakak seniornya.

"KAK DANIA!!! AKU SUDAH SIAP!!!" Jani meneriaki kakaknya dengan suara lantangnya.

"Kedua mata kamu mines kah? atau rabun? Kakaknya sudah jelas lewat, pakai teriak segala itu mulut!" sahut Dania sedikit emosi melihat kelakuan adiknya itu.

Rindania Arum-kakak pertama Jani dengan selisih umur 4 tahun dengan Jani. Walau kadang Dania hampir tidak menyangka Jani adalah adiknya.

"Tau ini mulut! pagi-pagi sudah teriak-teriak" jawab Jani dengan tangan menunjuk mulutnya, sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil.

Dania yang tidak menggubris ucapan Jani itu pun sudah masuk duluan dan duduk bersiap untuk menyetir.

Selama di perjalanan Jani selalu saja mengganggu jakaknya, entah dengan meniru gaya kakaknya menyetir atau mengulangi yang diucapkan kakaknya.

Sampai Dania muak melihat kelakuan adiknya yang sudah tidak beres pagi-pagi begini.

Cletakkkk

Toyoran jari telunjuk melesat di dahi Jani sampai membuat kepala Jani terdorong juga.

"Aduh sakit, kakakku!!!" ringis Jani, sambil memegangi dahinya yang memerah dengan gaya bicara yang dilembut-lembutkan.

Dwimei

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 16, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Cakrawala-RinjaniWhere stories live. Discover now