01 : Awal

5 3 2
                                        

   Apa kau menyukai film romansa?


   Jika iya, maka kita memang tidak sejalan.


   Bagiku film seperti itu hanya memberi efek buruk pada orang-orang. Membuat mereka berharap bahwa mereka juga bisa memiliki kehidupan asmara yang sama seperti di film. Bukankah lebih baik film action? Banyak pelajaran hidup yang bisa kau ambil disana, dan lagi cara bertarungnya bisa di aplikasikan ke dunia nyata.


   Hidup seorang lelaki adalah kekuatan! Seberapa jantannya kau hanya bisa di ukur dengan bertarung!


   Maka dari itu aku belajar banyak bela diri dan bertarung dengan orang-orang yang meremehkanku. Bukankah aku sangat jantan? Semua orang bahkan tunduk padaku.


   Sayangnya… itu adalah cara berfikirku dua bulan lalu


   Aku benci mengakuinya, tapi kehidupanku sekarang telah menjadi film romansa yang selama ini kubenci dengan sepenuh hati.


   Aku terkena karma. Sial.


000



   “Terluka lagi?! Bukankah panitia sudah mengatakan bahwa harus memakai sepatu saat lomba?! Kau pasti tidak mengikutinya!” Teriakku dengan kesal pada Baskara yang kini hanya memberikan cengiran menyebalkannya.


   “Ayolah~ Berlari memakai sepatu itu sangat tidak enak. Kau juga pasti tahu kan?”


   “Dan lihatlah siapa yang mengobatinya sekarang? Siapa yang susah? Kau mau mengganti waktuku yang terbuang idiot?!”


   Aku menekan kapas yang sudah di olesi alkohol pada luka di kaki Baskara. Anak ini memang tidak tahu kapan harus berhenti dari keberanian tololnya itu. Padahal ia kemarin baru saja sembuh dari demam setelah tiba-tiba berendam di kolam ikan sekolah dengan alasan kepanasan.


   Yah walau dengan kegilaannya itulah kenapa hanya dia yang bisa seakrab ini denganku.


   “Kau ini! pelan-pelan! Bukankah ini bulan keduamu menjadi anggota komite kesehatan?! Kau payah Dirga! Benar-benar payah sialan!”


   “Diamlah atau aku akan membuat lukamu makin parah.”


   “Aku tidak mau di obati olehmu! Panggil komite kesehatan yang lain! Panggil!~ aku tidak mau di obati oleh Dirga sialan!”Rengek Baskara yang bahkan sekarang sudah berguling di kesana kemari di atas kasur UKS.


   “Diam saja kau breng—“


   “Kukira ada apa ribut-ribut. Ternyata kalian.”


   Jantungku seolah melompat dari tempatnya saat mendengar suara tersebut. Seluruh tubuhku mendadak kaku dan tidak bisa di gerakkan kecuali pupil mataku yang kini perlahan melirik ke arah pintu. Dimana si pemilik suara tersebut tengah berdiri dengan kotak p3k besar di tangannya.


   Itu dia.


   Itu benar-benar dia!


   Kenapa dia bisa ada disini?!


   “Riri!! Penyelamatku! Minggir kau babi! Aku mau di obati Riri saja!”


   Meski Baskara menendang perutku, entah kenapa tidak terasa sakit. Kedua mataku tidak bisa lepas dari gadis itu. Bahkan sekarang kurasakan telingaku memanas entah karena apa.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 29, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PERTAMAStories to obsess over. Discover now