Ia bukan gay, ia juga tidak menyukai makhluk bernama wanita, hingga usianya yang ke 26 tahun ini ia tak pernah berkencan dengan wanita manapun. Bukan tidak laku, justru ia menjadi incaran para gadis sejak highschool hingga saat ini namun tak ada satu wanita yang berhasil mendekatinya.
Ia Uchiha Sasuke, seorang CEO muda yang tak perlu diragukan lagi tingkat ketampanannya. Tak akan ada satu wanitapun yang tak berdebar saat melihat mata hitamnya yang tajam. Hidung mancung, rahang tegas serta sorot mata tajam nan menggairahkan membuat wanita manapun meleleh.
"Haah....haah...."
Keringat mengucur dari pelipisnya menikmati sensasi nikmat dibawah sana hingga ia mencapai pelepasannya. Mengatur nafas dan berbaring menatap langit-langit kamar dan menoleh pada benda mati disampingnya.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi Uchiha-sama." Para karyawan berbaris dan membungkuk hormat saat bungsu Uchiha berjalan didepan mereka. Namun tak ada balasan seakan ia tak mendengar apapun.
Ia tetap berjalan menuju ruangannya, matanya memincing kala mendengar salah seorang karyawan tengah menggerutu tentangnya.
"Jika kau sudah bosan bekerja disini, keluar!" Tatapnya tajam pada salah satu karyawan yang kini tertunduk dengan tubuh gemetar.
Ini lah dia, Uchiha Sasuke pria dingin berbalut wajah bak dewa Yunani. Ia tak peduli pada siapapun dan tak peduli apapun selain tugasnya sebagai pemimpin perusahaan warisan ayahnya.
.
.
.
.
"Hn."
"Ayolah Sasuke, kita bisa bersenang-senang." Saat ini seorang pria berambut kuning tengah membujuk Uchiha Sasuke dengan kekeuh.
"Aku sibuk." Jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar notebook yang ia pegang.
"Aku tak mau tahu kau harus datang jika tidak pertemanan kita berakhir." Ancam pria itu percaya diri.
Sebenarnya Sasuke tak begitu peduli namun faktanya justru kebalikan dari yang pria itu katakan. Setelahnya orang itu pasti akan menerornya setiap hari dengan kata-kata menjijikan nan dramatis dan Sasuke sudah jengah dan bosan dengan sifat sahabatnya itu. Tapi mau seperti apapun hubungan pertemanan mereka tidak bisa putus.
Setelah mengatakan itu pria itu melenggang keluar ruangan Uchiha bungsu itu dengan menyeringai.
"Akhirnya kau datang juga." Pria yang tadi pagi memaksa Sasuke telah menyambutnya diruang vvip sebuah club malam.
"Hn."
"Kemari Sasuke, kita nikmati malam ini." Pria itu merangkul dan menuju tengah ruangan. "Woy..., teman-teman, pentraktir kita sudah datang jadi nikmati pesta sesuka kalian." Teriak pria berambut kuning itu dengan bersemangat.
"Apa maksudmu?" Alis Sasuke mengernyit.
"Ahahahaha, hari ini kau kan ulang tahun. Jadi kau harus mentraktir kami." Pria itu hanya nyengir seolah tak peduli akan tatapan tajam bungsu Uchiha tersebut.
Sasuke bahkan tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Tuan~~~" Segerombolan wanita menghampiri Sasuke saat pria itu baru saja mendudukkan bokongnya di sofa disudut ruangan. Ia sengaja menepi dan tidak ingin bergabung dengan teman-temannya.
YOU ARE READING
The doll
FanfictionIa bukan gay, tapi ia juga tidak tertarik dengan makhluk bernama wanita. Karena suatu alasan ia lebih memilih sebuah boneka untuk menghangatkan ranjangnya. "Siapa kau?" Ia tidak gila, dan tidak ada yang namanya keajaiban tak masuk akal, lalu bagaima...
