Boleh banget baca cerita ini sambil setel lagunya.... STAY TUNE <3
Pagi yang cerah menyelimuti awan. Seseorang yang masih bergelut dengan selimutnya pun terbangun akibat kicauan burung kala itu. Ryan Angkasa Wijaya, anak dari keluarga Wijaya yang identik dengan kekayaan luar biasa yang dimilikinya. Orang nomor 1 di Indonesia. Pemegang prinsip uang dapat menyelesaikan segalanya.
Ryan yang tumbuh bukan dengan kasih sayang orang tuanya akan tetapi dengan kasih sayang pembantunya, sang kutub yang bisa dilelehkan hanya dengan kehangatan seorang Klarina Hana. Anak dari bangsawan Jepang, keluarga Furukawa yang menetap di Indonesia.
Hana Pov.
"Pagi hari yang sangat cerah bukan? Tuhan selalu punya cara untuk menyenangkan hambanya."
"Hana!!!! Mau sampai kapan kamu berdiam diri di balkon seperti itu? Ayo cepat turun, ini sudah siang Hana." Yah, siapa lagi yang akan memanggilku jika bukan mamaku tercinta.
"Iya ma!!!! Ini Hana turun." "Pagi pa, pagi ma."
"Pagi Hana, cepat habiskan sarapanmu nanti kamu bisa telat." Siapa lagi jika bukan papaku yang sangat perfeksionis ini hehe.
Setelah perbincangan itu kami tidak lagi berbicara karena aku yang tidak ingin telat dan ayah yang tidak mau mengganggu. Setelah makan, aku berangkat ke sekolah dengan papaku dan Ckitttttt.........
" Ya ampun papa, siapa yang papa tabrak?" Aku sangat kaget melihat anak kecil terduduk di depan mobil yang sedang kami kendarai.
"Tidak tertabrak Hana. Papa berhasil mengerem." Lalu, papa pun keluar mobil dan menolong anak itu.
"Nak, kamu tidak apa- apa?" Ucap papa khawatir pada anak itu.
"Tidak apa- apa om, maaf saya juga salah. Kalau begitu saya pergi dulu om, nanti saya telat." Ucap anak tersebut.
"Maaf, kamu sekolah dimana. Biar kita antar saja." Ucap papaku dengan wajah yang sangat khawatir.
"Di SMP Bakti Husada om. Tidak apa- apa, saya bisa sendiri terimakasih om." Ucap anak itu.
"Tidak apa- apa, kenalin aku Hana. Aku bersekolah di SD Bakti Husada. Ayo kakak ikut kita aja, nanti telat lhoo." Ucapku memberanikan diri.
"Baiklah, terimakasih om dan Hana. Kenalin nama saya Ryan Angkasa Wijaya. Panggil saja Ryan." Ucap anak itu yang bernama Ryan.
Setelah kami bertiga menaiki mobil, papa pun mengantar kami berdua ke sekolah yang kebetulan sekolah kami masih satu halaman. SD, SMP dan SMA menjadi satu halaman karena sekolah kami adalah sekolah swasta.
Ryan Pov.
Sesampainya di sekolah, saya mengucapkan terima kasih kepada Hana dan papanya yang sudah mau mengantarkan saya. Sesaat setelah mobil papa Hana pergi. Sayapun melangkahkan kaki menuju area SMP Bakti Husada, namun tiba-tiba ada yang memegang tangan saya. Saat saya lihat ternyata Hana.
"Ada apa Hana?" Ucap saya pada Hana.
"Kakak, mau berteman sama Hana? Kapan- kapan kita main boleh?" Ucap Hana. Saya berfikir kenapa ada anak kecil yang sangat polos dan lucu seperti dia, padahal dia anak kelas 6. Terlihat dari bedge yang dia pakai.
" Hana mau berteman dengan saya? Hana yakin? Kalau Hana menganggap saya teman. Maka saya juga akan menganggap Hana teman ya. Sekarang Hana masuk kelas sana." Ucap saya. Pembicaraan terpanjang yang saya miliki dengan orang yang baru saja saya kenal. Kemajuan yang sangat signifikan bukan.
"Okay kak." Ucap Hana sambil tertawa riang dan langsung jalan menuju kelasnya. Begitu manis bukan.
Sepulang sekolah, saya pun berjalan menuju gerbang utama untuk pulang. Jika kalian bertanya dimana teman-teman saya, dan mengapa saya sendiri. Maka,jawabannya saya tidak mempunyai teman satu pun.
Author Pov.
"Kak Ryan!!!" Panggil Hana yang kebetulan melihat Ryan berjalan menuju gerbang utama.
"Oh halo Hana, halo om." Sapa Ryan.
"Ryan mau pulang? ayo om sama Hana antarkan." Ucap papa Hana penuh kasih sayang.
"Oh tidak om, saya tidak pulang. Saya biasanya ke kafe di seberang sana untuk duduk sambil membaca- baca, dan akan pulang sore sekitar jam ." Ucap Ryan malu.
"Loh, kenapa kak Ryan gak pulang?" Ucap Hana penasaran.
"Ah? Dirumah selalu tidak ada orang. Hanya pembantu karena orang tua saya terlalu sibuk Hana." Ucap Ryan sangat malu untuk mengakui hal ini.
"Ryan kerumah Hana mau? Bermain disana. Jangan di kafe lagi. Kalo di rumah kan Ryan bisa makan yang kenyang. Kalo di kafe kan gak ada nasi." Ucap papa Hana sedikit memaksa.
"Tidak apa apa om? nanti takut mengganggu." Ucap Ryan sungkan.
"Tidak apa- apa kak, nanti kita belajar bareng, main sepeda bareng, nonton tv bareng. Nanti kak Ryan aku kasih liat robot- robotan yang aku beli hasil nabung setaun ya." Ucap Hana sangat antusias.
"Ha... Ha... Ha... Baiklah. Saya ikut ya Hana ." Ucap Ryan sambil terkekeh.
Sesampainya di rumah Hana,Ryan tersadar bahwa rumah Hana hanya beda blok dengan rumah nya sendiri. Sebuah kenyataan yang menghangatkan hatinya. Sebuah kehangatan yang dia dapatkan ternyata dapat dia raih kali ini.
BERSAMBUNG.....
Haii gengsss... Panggil aku NANA...
Jadi ini work pertama aku yeyyyy... Setelah mangkrak selama 3 bulan akhirnya aku menyelesaikan lembar pertama heeheee... Smoga sukaa yaaa... Kritik dan saran boleh banget... Tapi yang membangun ya hehe... Kasih tau aja kurangnya dimana... Maap banget kalo ini gagal karena baru pertama kali nulis yang kaya gini.... Love youuuuu <3
Salam hangat N.A.N.A
YOU ARE READING
Semesta
Teen FictionSemesta menjanjikan kita untuk bertemu, tetapi pada nyatanya kita hanya bagian dari permainan semesta. Terima kasih semesta.
