"Selamat pagi, Kinanti Alinea N", sapa mbak Risa dengan nama lengkap ku, sambil sibuk dengan beberapa tentengan di kedua tangannya yang membuatku langsung tersadar dari lamunan pagiku.
"Pagi mba, ... yaampun banyak banget ini mba" , balasku sambil membantu mba Risa menaruh tentengan di atas meja pantry.
Mba Risa tersenyum malu, "iyakan hari ini aku ultah loh nan, jadi mau bagi-bagi makanan aja buat temen-temen kantor"
"Wahhhh asik dapet sarapan pagi gratis nih, cihuuuuy", tiba-tiba ada mas Faris yang muncul entah dari mana asalnya itu lalu langsung saja bergabung dengan kami.
"Selamat ulang tahun, mba Risa. Panjang umur, sehat selalu, dan semoga makin sukses dengan karirnya ya. Nanti kadonya nyusul mba hehe", ucapku sambil memeluk mba Risa.
"Makasih ya nan, gausah repot-repot ih", balas mba Risa sambil menempelkan pipinya ke pipiku.
(Re: Cipika -Cipiki)
"Gila lu sa bisa ulang tahun juga ternyata!!", celetuk mas Faris sambil mengecek-ngecek tentengan punya mba Risa yang ada di meja pantry tersebut, berharap mendapat makanan tetapi, malah mendapat ocehan dari mba Risa.
"Bisalah, heh lu ngapain si ngacak-ngacak tentengan gue. Awas... Awas... Gaada jatah buat lu", usir mba Risa kepada mas Faris sambil meneyelamatkan tentengannya dari si pengrusuh itu.
"Yah risa, jangan gitu dooong..
Faris laper nih, belum sarapan tau, tadi nasi uduk langganan Faris tutup, katanya lagi bantuin kucingnya yang mau lahiran", ucap mas Faris memelas kepada mba Risa sambil memegang perutnya.
"Bodo! Kado dulu, baru boleh", ledek mba Risa sambil memberikan sekotak makanan kepadaku.
"Tuh... Kinan aja di kasih, masa Faris enggak sih", ucap mas Faris sambil menunjukku.
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku mas Faris yang memang sangat bar-bar kalau sudah melihat makanan, "Mas Faris... mas Faris, mba Risa ulang tahun tuh di ucapin dulu kali, masa udah nyari makanannya aja"
"Tauuu", balas mba Risa dengan semangat, karena setuju dengan ucapanku barusan.
Mas Faris menggarukan kepala sambil tertawa karena tersadar dengan tingkah lakunya yang sangat bar-bar kalau sudah bahas soal makanan, "Hehehe, selamat ulang tahun ya, Risa. Semoga Faris bisa seperti Risa, punya teman yang baik seperti Peter CS"
"Hihhhhhhh Faris!!!!!", mba Risa memukul pundak mas Faris.
Kalau sudah ngomongin yang kasat mata memang mba Risa paling penakut deh, dan mas Faris itu suka banger jahilin mba Risa.
Mas Faris meringis kesakitan lalu berusaha berlari keluar menghindari pukulan dari mba Risa (lagi), tetapi terhalang oleh seseorang yang mau masuk ke dalam pantry.
Brukkk.... mas Faris tersungkur ke lantai karena tertabrak badan lelaki bertubuh besar dengan tinggi 185 cm itu.
Astaga....
Deg,,
Deg,,
Deg,,
Lelaki itu.....
Tiba-tiba suara jantung ku terus berdegup dengan cepat, ya Tuhan aku takut semua orang yang ada di pantry ini mendengar detak jantungku. Kaki ku juga sudah mulai bergetar dengan hebat, tidak sanggup aku bertemu dengannya sekarang.
Aku harus bagaimana ini......
Laki-laki itu menggulurkan tangannya membantu Mas Faris untuk bangun kembali, "Sorry ya Ris, engga sengaja gua"
"Ah lu, punya badan gede banget si", hardik mas Faris kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya tersenyum membalas perkataan dari mas Faris.
Ya Tuhan senyumannya, ucap batinku sekarang.
Lalu mba Risa dengan cepat mengejar mas Faris yang masih sempoyongan karena tertubruk badan laki-laki itu, "Thank you banget ya Ken, mau kemana lo Faris!!", mba Risa dengan cepatnya langsung menjewer telinga mas Faris.
"Ampunnn sa ... Ampun ...
Sa lepasin dong", ucap mas Faris sambil memegang tangan mba Risa yang sudah menjewernya.
Melihat tingkah laku mereka berdua yang konyol itu cukup menyenangkan, dan ini bisa membuatku untuk melakukan sedemikian cara mengatur detak jantung yang sedang tidak beraturan ini.
"Mau sih gue ampunin, tapi hadiahnya dulu sekarang", ledek mba Risa sambil menggoyang-goyangkan tangan mba Risa yang menjewer mas Faris.
"Ya, ya gimana mau ngasih hadiahnya sekarang, kalau lu nya masih aja jewer gue. Lepasin dulu mangkanya, abis itu baru dah gue kasih", ucap mas Faris yang sepertinya terlihat sedang berfikir untuk melakukan suatu hal.
"Yaudah, tapi janji ya?", ucap mba Risa yang penuh harap.
"I... I... Eh.. Eh sa di bawah lu ada kecoa masa", ucap mas Faris dengan wajah datar sambil menunjuk ke arah bawah mba Risa.
Kecoa????
"Demi?", ucap mba Risa dengan tenang tapi wajanya terlihat sangat ketakutan dengan perkataan mas Faris barusan.
"Iya tuhhh", ucap mas Faris sambil menjuk ke arah bawah mba Risa lalu berusaha kabur keluar pantry dengan berlari.
"Ahhhhhhh, kecoa", teriak mba Risa sambil berlari keluar pantry menyusul mas Faris yang sudah lebih dulu keluar.
Aku yang juga takut dengan kecoa, dan sedang merasakan perasaan yang tidak karuan ini karena keberadaan laki-laki ini pun berusaha ikutan berlari keluar pantry menyusul mereka.
Tapi,
.
.
.
.
.
tapi,
.
.
.
.
.
tapi,
.
.
.
.
.
Tanganku ditahan oleh laki-laki yang ku bilang barusan itu, laki-laki dengan tinggi 185 cm, laki-laki yang biasa ku panggil mas Monas di dalam hati ku ini, astaga, mau apa dia terhadapku.
Kemudian ia berkata "Gaada kecoa kok, si Faris cuma ngerjain Risa doang", dengan ucapan yang terdengar sangat lembut.
Aku yang ketakutan dengan kecoa berbarengan dengan jantungku yang sedang berdegup kencang karena laki-laki ini hanya bisa terdiam, badanku tiba-tiba kaku, pikiranku berlarian kesana-kemari.
Mimpi apa semalam ketemu laki-laki ini, bahkan bisa sedekat ini.
Laki-laki itu memperhatikan ke arah ku, menggoyangkan tangannya ke arah wajahku, dan berkata "Hey, are you okay?", ucapnya yang terlihat khawatir kepadaku.
"E... I...ya ga..papa... kok", ucapku dengan terbata-bata.
"Yaudah duduk dulu sini", laki-laki itu menggandeng tanganku dan menyuruhku untuk duduk, dia berusaha menenangkanku.
Astaga mana bisa tenang, yang ada perasaan ini malah tambah tidak karuan. Tolooooong. Siapa pun tolong aku sekaraaaang.
Laki-laki itu terlihat khawatir kepadaku, dan ia pun segera memberikanku segelas air putih, "Ini diminum dulu".
Aku hanya bisa mengangguk, dan menenggak minuman itu sampai habis. Sambil berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang.
Laki-laki itu tersenyum, dan dia kembali berkata "Mau aku ambilin airnya lagi?".
Aku yang tidak sanggup dengan keberadaan laki-laki ini langsung berlari keluar pantry tanpa lebih dulu pamit kepadanya, bahkan tidak sempat berkata terimakasih.
Maafkan aku mas Monas.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Blue Limerence
RomanceKinanti Alinea N adalah wanita cantik yang sedang magang di suatu perusahaan yang ada di Jakarta untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, tiba-tiba ia tidak sengaja bertemu dengan laki-laki idamannya sejak dulu, yaitu laki-laki tinggi yang membuat pengh...
