Angin sepoi- sepoi berhembus lembut memainkan dedaunan dan rumput liar di pinggir jalan, menggugurkan dedaunan kering yang enggan untuk tetap berada di atas pohon, berjatuhan satu persatu dan mulai mengotori jalan setapak menuju sebuah rumah duka yang begitu ramai di datangi orang- orang berpakaian serba hitam. Bau dupa yang khas langsung menguar semerbak begitu melewati gerbang masuk, tak luput pula oleh pendengaran lantunan- lantunan doa yang terus bergema dari area altar. Secara bergilir orang- orang maju kedepan altar, memberikan penghormatan kepada kerabat yang ditinggalkan lalu melanjutkannya dengan memberikan penghormatan terakhir mereka kepada dua buah peti mati yang terdapat foto seorang laki laki dan seorang perempuan paruh baya.
Dua sosok anak laki- laki yang berada di depan altar melayani tamu yang terus berdatangan silih berganti tanpa menunjukan ekspresi apapun. Mereka hanya diam menanggapi tamu yang sesekali menangis seraya memeluk mereka sembari mengucapkan berbagai kata penguat dan ucapan bela sungkawa, sebenarnya hal itu kini masih sangat tabu didengar oleh dua sosok yang hanya menatap lawan bicara mereka dengan tatapan kosong. Bukannya mereka tidak mengerti apa yang mereka ucapkan hanya saja mereka masih belum mempercayai semua yang telah terjadi, ahh tidak, lebih tepatnya mereka berdua tidak ingin mempercayai semuanya kini.
"Eve, Sou, bibi harap kalian berdua bisa tetap tegar ya?" Ucap salah seorang perempuan paruh baya seraya memeluk kedua anak itu dengan erat setelah beberapa rangkaian upacara pemakaman yang memakan banyak waktu itu berakhir. Kini mereka berada disebuah rumah abu yang tak jauh dari rumah duka, yang menjadi akhir prosesi pemakaman yang memakan waktu hingga tujuh hari itu.
"Jika kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk bicara pada kami" Ucap seorang pria paruh baya yang berada di belakang kedua anak laki laki itu seraya memegang pundak mereka erat.
"Terima kasih, paman, bibi" Jawab anak berkacamata yang sedikit lebih tinggi dari yang satunya dengan tenang tanpa merubah ekspresi datarnya sedikitpun.
"Sekarang ayo kita pulang, kalian harus mengemasi barang kalian, karena lusa kalian kan harus pindah ke rumah nenek." Ucap perempuan yang merupakan adik ipar dari ayah kedua anak itu seraya menatap mata mereka dengan teduh.
"Tidak bisakah kami disini sedikit lebih lama lagi?" ucap anak berkacamata masih tidak mengalihkan pandangannya pada dua buah guci yang berada dalam etalase didepannya.
"Kami bisa pulang sendiri" timpal anak yang lebih kecil akhirnya bersuara, dia mengalihkan pandangannya sejenak menghadap perempuan yang dipanggilnya bibi itu, lalu memberikannya sebuah senyum untuk meyakinkan pasangan itu walau harus dipaksakan.
"Hahhh, baiklah kalau begitu, kami pulang lebih dulu. Kalian berdua hati- hati pulangnya" ucap paman mereka seraya mengacak lembut rambut keduanya secara perlahan, tak lama pasangan itu pun menghilang di persimpangan jalan meninggalkan kedua anak laki laki itu yang masih lekat memandangi guci yang terdapat foto kedua orang tua mereka.
"Hiks.. hiks.." suara isakan tertahan memecahkan keheningan diantara mereka berdua setelah beberapa lama. Eve, sang anak berkacamata itu pun sontak menoleh dan mendapati Sou, sang adik semata wayangnya sudah menangis entah sejak kapan. Menyadari hal itu Eve pun langsung menarik sang adik kedalam pelukannya, sejenak dia dapat merasakan bahwa adiknya sedikit terkejut dengan tindakan tersebut.
"Daijobu, jika kau ingin menangis, menangislah" Ucap Eve seraya mengelus pundak adiknya itu perlahan, tentu saja hal itu mengundang tangis yang lebih kencang dari Sou yang memang sudah menahan semuanya sejak berita kematian orang tua mereka sampai ketelinga mereka. Raungan kepiluan itu berulang kali lepas dari bibir Sou yang hanya ditanggapi dengan bertambah eratnya pelukan sang kakak seakan takut kehilangan satu satunya alasan dia bertahan hingga kini.
'Aku tidak boleh terlihat lemah, aku harus bisa menguatkan Sou. Aku tidak boleh lemah' berulang kali kata itu terus Eve putar dalam otaknya, dan karena hal itu pulalah hingga detik ini, dia masih memasang wajah tegarnya di depan sang adik.
ESTÁS LEYENDO
HYACINTHUM
FanfictionAku mengerti, jika ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini Aku yang tidak tahu bagaimana dengan nasibku dimasa depan Aku juga tidak tahu pasti bagaimana cara melanjutkan hidup Dan aku, bahkan tidak tahu untuk apa aku dilahirkan ke dunia i...
