✖ Rush

358 66 21
                                                  

Beomgyu menatap bocah blasteran itu duduk di kursi — kursi satu-satunya yang ada di motel murah nan lembab itu. "Kau boleh tidur di kasur." ucapnya, dan Kai menoleh secepat kilat, sampai-sampai membuat Beomgyu khawatir lelaki itu akan memelintir lehernya sendiri tanpa sengaja, "Hah? Lalu hyung?" tanyanya.

"Aku akan ke bawah sebentar." Beomgyu berbalik, belum juga ia melepas mantel coklatnya, ia sudah bersiap pergi lagi. Tapi tiba-tiba lelaki bermarga Choi itu merasakan genggaman erat di lengan yang menahan kepergiannya. Ya itu tangan Kai, kedua mata bulatnya menyiratkan permohonan untuk tidak ditinggal.

"Kau takut sendirian?" tanya Beomgyu, agak terkekeh. Tapi rupanya apa yang keluar dari mulut Kai bersebrangan dengan apa yang Beomgyu pikirkan. "Kau tidak berencana membunuhku, kan?" Sorot mata lembut itu mendadak jadi lebih gelap dan tajam.

"Hah?"

"Ini bukan jebakan dan tidak akan ada siapapun yang datang untuk membunuhku selama kau pergi, kan?"

Beomgyu tertawa, dan hanya membuat Huening Kai semakin awas. "Tentu saja tidak, jika aku membunuhmu, maka aku akan mati juga, kan?" ia menunjukkan gelang besi di pergelangan tangannya lagi, dan Kai mengangguk-angguk, berpikir kembali kenapa ia bisa begitu bodoh sampai berpikir demikian.

Mungkin karena ini pertama kalinya Huening Kai mendapatkan seorang rekan.

"Lalu untuk apa kau ke bawah?" lelaki blasteran itu kembali duduk tenang di kursi, (uh.. tidak begitu tenang tapi setidaknya lebih tenang). "Mau beli ramyeon, memangnya kau ga lapar?"

Sepersekian detik setelah itu, perut Kai berbunyi, tak kooperatif dengannya. "Oke..."

✖✖✖

Bukan hanya lapar, lelaki muda itu sangat, sangat, lapar. Huening Kai memakan mi instannya tanpa jeda.

Beomgyu tidak perlu makan banyak. Sejujurnya, ia tidak bisa makan terlalu banyak, dan kini bahkan ia merasa kenyang dari memperhatikan Kai saja.

"Kapan terakhir kali kau makan?" tanyanya, setelah Kai selesai menghabiskan ramyeon tersebut dan tengah mengelap mulutnya. "Tadi pagi," balas Kai.

"Seharusnya tadi malam aku sudah makan mewah! Tapi polisi itu mengambil uangku.." lanjutnya, sedikit mencebikkan bibirnya, "Uang yang kau copet?" Beomgyu menyodorkan sebotol air mineral untungnya.

Tanpa pikir panjang Kai menyambar dan segera meneguk setengah botolnya.

Lelaki bermarga Choi itu tersenyum tipis, entahlah, ia merasa takjub dengan bagaimana bocah ini makan begitu cepat dan lahap. Ia tak gagal pula menangkap sinyal Kai saat lelaki blasteran itu menatap mi kedelai hitam miliknya yang belum habis.

"Jika kau masih lapar, boleh dihabiskan." Beomgyu menggeser kemasan itu ke arah Kai sementara anak itu terperangah tidak percaya, "Tapi kau makan sedikit sekali, hyung.."

"Aku sudah kenyang," dibalasnya.

Dibawah plafon abu-abu dengan noda gelap — karena jamur lembab berkat air yang dulu pernah merembes — kedua lelaki asing itu berbagi makan malam di dini hari.

✖✖✖

"Jadi siapa target kita yang pertama?" Kai bertanya untuk keempat kalinya pagi ini, mungkin kesadarannya baru saja kembali penuh.

"Seorang tukang pukul yang terkenal, aku pernah beberapa kali melihatnya tapi aku tidak mengenalnya." Beomgyu mengecek kembali isi tasnya — perban, vitamin, obat bius, dan oh, pistol.

"Shall we go, now?" lelaki itu menyelendangkan tasnya, ia siap. "Oke.. Kemana?" Kai melompat turun dari ranjangnya dan ia sudah tampak siap di mata Beomgyu.

Four Aces and The Joker || TXTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang