1.Dark Memories

27 3 0
                                        

Kaki itu rasanya ragu untuk menginjakkan di halaman sekolah baru ini.

Beberapa kajadian yang dulu pernah di alaminya kini seakan-akan di putar kembali seperti mimpi buruk yang selalu menghantui.

Beberapa cacian dan makian yang di lontarkan orang orang di sekitar, kini berdengung kencang di telinganya.

Dan memaksanya untuk mengingat kembali masa kelam saat ia tak melakukan sesuatu yang memang bukan salahnya namun ia yang harus menanggungnya.

Sekejam itukah dunia pada dirinya?

***

"Gak mungkin pak, anak saya melakukan hal sekeji itu!"Ucap seorang wanita paruh baya yang sedang bicara di hadapan kepala sekolah dengan air mata yang di biarkan jatuh begitu saja.
Saat ia mendengar kabar bahwa anak tunggalnya ini di duga telah mencuri uang kas kelas dan menyembunyikannya didalam loker miliknya.

"Baik nyonya huang,saya jelaskan sekali lagi. Renjun ini adalah anak pintar di sekolah ini,namun itu kenyataannya.
CCTV juga sudah menangkapnya jelas hanya renjun yang ada di dalam kelas saat pelajaran olahraga sedang berlangsung."ujar kepala sekolah dengan nada bijak nan elegan dengan balutan jas hitam mewah miliknya.

Namun,itu tak berarti apa apa bagi seorang Huang Renjun,jika orang segagah dan se elegan ini memiliki sikap yang tak manusiawi.

Jelas Renjun tahu,bahwa ada orang di balik ini semua.
Diam diam ada yang memasukan uang itu ke dalam loker miliknya.

Namun apa daya,Siswa yang ingin menghancurkan Renjun ini bukan tandingannya.
Bukan masalah fisik ataupun mental.
Tapi masalah uang.
Jika uang sudah berbicara,apa daya rakyat golongan kita hanya bisa diam dan tertindas.

Kini Renjun hanya mengeratkan genggaman di ujung seragam sekolahnya.
Ingin berteriak pada dunia. Bahwa ini bukan salahnya.
Ingin menjelaskan semuanya,bahwa ini hanyalah fitnah keji dari orang yang membencinya.
Namun apa daya,semuanya hanya sia sia.
Renjun hanya bisa menjerit dalam hati,menyalahkan dunia. Bahwa tuhan itu tak bersikap adil padanya.

"Maaf ya Ny.huang, Renjun terpaksa harus kami keluarkan dari sekolah ini" Tutur kepala sekolah yang kini sedang fokus pada surat pengeluaran paksa untuk Renjun.

"Walaupun Renjun adalah siswa yang mempunyai predikat terbaik di sekolah ini,namun aturan tetaplah aturan.
Kami tak mau sekolah ini tercoreng atas perlakuan Renjun" Kepala sekolahpun menyerahkan surat itu kepada ibu Renjun untuk meminta tanda tangan atas persetujuan yang di ajukan oleh kepala sekolah.

Namun ibunya langsung menyobek dan meremas kertas itu dan berdiri dengan tegak di hadapan kepala sekolah dan guru guru yang berada di ruangan ini.

"Baik,tak usah anda memberikan surat tak berguna ini untuk anak saya.
Saya akan memindahkan Renjun ke sekolah yang lebih baik lagi.
Saya lega,jika anak saya di keluarkan dari sekolah ini,karena itu artinya anak saya bisa bebas dari neraka ini."Tutur ibunya dengan lantang sambil menahan air matanya.

Ibu menarik tangan Renjun dan memaksanya untuk bangkit dari kursi.

"Ayo renjun kita keluar dari tempat haram ini."








"Renjun,kemasi barang barang kamu dari sekolah ini,ibu tunggu di depan gerbang ya."ucapnya mengelus rambut Renjun di hiasi senyuman termanisnya,lalu ibu pergi meninggalkan Renjun sendiri yang masih di lorong sekolah.

"Ibu,maafin renjun."gumamnya,Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan sekarang ini.

Renjun langsung bergegas memasuki kelas dan mengambil beberapa buku dan tas yang masih tertinggal di kelas.

Ketika ia memasuki ruangan kelas,beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan tajam dan tak suka.

Ia tak menggubrisnya.
Renjun hanya menjalankan tujuannya dan mengambil tas.

Di atas mejanya sudah penuh dengan coretan tangan dari teman teman di kelasnya.

Selamat tinggal pencuri

Hanya itu yang bisa ia baca jelas dari banyaknya coretan di atas meja itu.
Tak mau berlama lama lagi,ia langsung bergegas ke arah pintu keluar.

Namun ada yang menghalangi jalannya.
Orang itu berdiri dengan tegap dan bergaya seperti idola di sekolah ini.

"Akhirnya si pencuri keluar juga dari sekolah ini" Tuturnya dengan nada bangga atas kemenangannya.

Renjun tak mau banyak masalah lagi dengan anak si pemilik sekolah ini.
Dirinya yang sejak awal tak suka melihat Renjun,dan tak terima kalah saing dengan prestasinya.
Ia menggunakan berapa macam cara agar Renjun tertindas di sekolah ini.
Bahkan mungkin di dunia ini.

Renjun tak mau banyak basa basi,ia langsung menabraknya dan langsung pergi keluar dari kelas ini.









Orang orang yang melihat pemuda berjalan di lorong sekolah dengan beberapa buku di tangannya ini ,se akan akan jijik melihatnya.

Mereka berbisik satu sama lain.
Apa hebat nya memang berbisik seperti itu,jika mereka ingin mengatakan hal yang memang tak di sukai pada dirinya, katakan saja.
Renjun sudah terbiasa terlahir dengan cacian dan makian.

Menurutnya,itu hanya makanan sehari hari bagi Dirinya.


"Tak di sangka ya,renjun yang selalu juara kelas dan juara umum, bisa berbuat hal se menjijikan itu."

"Hhh-kau ini yeji,seperti tak tahu saja. Gimana si kalau orang sudah kepepet ya seperti renjun. Segala cara ya di lakukan"

"Hahah iya ya ryujin, apakah keluarga renjun se miskin itu? Sampai sampai ia mencuri uang kas kelas."

"Entahlah-sepertinya begitu. Soalnya renjun saja masuk sekolah ini atas bantuan beasiswa."

Renjun pergi begitu saja melewati dua gadis yang tengah asik menggunjingkannya di depan ruang lab.

Dua gadis itu pun langsung terdiam saat menyadari Renjun yang lewat dengan tampang tidak pedulinya itu.













Sesampainya Renjun di rumah,ia langsung pergi ke kamar dan membersihkan diri.
Ia terduduk lesu di atas meja belajar miliknya.
Ia ingin menghindari pikiran yang selalu terlintas pada benaknya atas kejadian yang di alaminya tadi di sekolah.

berniat untuk membaca beberapa buku dan mengerjakan beberapa soal latihan.

Ia membuka tas sekolah miliknya,
Betapa terkejutnya renjun saat sampah berhamburan keluar dari tas sekolah miliknya.

Sampah kertas yang berisikan tulisan tangan yang melontarkan hujatan untuknya.

Rata rata dengan tulisan 'Selamat tinggal pencuri' .

Renjun merasa geram,namun ia sadar semuanya tak bisa di perbaiki kembali.
Semuanya sudah terbutakan oleh uang.

Dengan rasa sesak di dadanya,renjun memunguti satu persatu sampah kertas itu dan menggenggam nya penuh amarah di tangannya.

"Baiklah Lee Felix,kau memang menang hari ini" Gumamnya dengan rasa amarah yang membara di dalam dirinya.


❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌❌

INTROVERT-Huang RenjunWhere stories live. Discover now