Part 1

3 0 0
                                        

19 Desember 2015

"Aku gabisa Sof!" Ucap Ditto sembari menutup percakapan kami via suara. Yaa, hatiku mulai kacau, mulai risau.
Ku kirimkan pesan singkat kepada Ditto yang berbunyi
'Aku ingin ketemu nanti jam 4 sore selepas kamu ngajar'
Aku tidak peduli apakah dia membaca ataupun bahwa mengabaikan pesan itu.

Hari itu tepat jam 15.30 aku sudah berada di tempat yang biasa kami datangi. Dengan mengenakan sweater warna pastel aku menunggu kekasihmu sambil sesekali melihat layar ponsel. Yash! Pukul 16.15 Ditto datang dengan tergopoh-gopoh membawa tas laptop dan seantero perlengkapan mengajarnya. Hujan rintik-rintik membuat rambut rapinya basah.

"Udah lama?" Tanya dia sambil menatapku
Hatiku seketika luluh, ingin rasanya aku mendekapnya sekarang. Namun keadaan kami sedang tidak baik.
"Udah kok, mau minum apa?"
"Gausah aku enggak lama"
Mendengar jawabannya, semangatku untuk membahas acara penting kami menjadi pudar. Aku hanya membalasnya dengan anggukan tanpa berkata.
"Kalo kamu belom siap tahun depan? Mau tahun kapan?" Tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sedang tertunduk.

"Kalau tahun depan, aku belom siap Sof. Aku baru saja bekerja kemarin, aku belum membahagiakan orangtuaku, membahagiakan diriku sendiri, mencukupi segala kebutuhan. Menikah membutuhkan modal yang tidak kecil" jawab Ditto sambil membuka laptopnya
"Bukannya melihat anaknya menikah itu termasuk membahagiakan mereka?"
"Tapi aku belom siap Sof! Aku belom punya rumah, belom punya apa-apa"
Aku terdiam ketika Ditto sudah agak meninggi nada bicaranya.

"Yasudah, aku tunggu sampai kamu siap Mas" ucapku sambil tersenyum kearahnya.
Dia terdiam, tidak membalas bahkan melihat wajahku sama sekali.

Ditto menutup laptopnya, memasukkannya kedalam tas yang sudah agak basah. Sambil mengeluarkan uang 50.000 dari dalam dompetnya dan meletakannya diatas meja , dia beranjak pergi tanpa bertutur kata apapun.
Aku memandanginya yang sedang berjalan terburu-buru menuju motor Scoopy yang kami gunakan dulu waktu pacaran. Yah, harapanku untuk menjadi seorang istri tahun depan harus kandas begitu saja. :)

.........

Aku berbaring memandangi kaca kamar tidurku. Aku melihat samar-samar foto kami yang sengaja aku tempelkan disetiap sudut ruangan. Aku teringat 5 tahun yang lalu, yang ketika kami harus menjalankan hubungan jarak jauh Bekasi-Jogja. Yash! Aku bekerja di Bekasi waktu itu, selama 5 tahun. Dan sekarang aku kembali ke kampung halamanku, Jogjakarta. Kembali untuk memulai kehidupan yang baru, dengan Ditto tentunya.
Aku teringat perkataanku tadi sore, bahwa aku akan menunggunya sampai dia benar-benar siap. Apakah akan 5 tahun lagi? 7 tahun lagi? Atau bahkan 10 tahun lagi? . Aku bertanya pada diriku lagi Apakah aku sanggup? Entahlah.
Apakah aku bisa menghadapi cacian perawan tua oleh para tetanggaku? Ahh sudahlah itu semua tidak penting.

.......

Ditto semakin hari semakin sibuk dengan pekerjaannya. Yahh, dia adalah guru muda honorer, tepatnya guru bahasa inggris. Sejak dia awal kuliah sampai dengan lulus, aku tak pernah ketinggalan dengan berita ter-updatenya. Tapi sekarang, untuk menghubungiku saja seperti tak ada waktu. Aku memaklumi semua ini. Aku berusaha mencari kegiatan lain yang bisa mengalihkan rasa kesepianku saat itu. Hingga pada suatu hari, aku menyempatkan diri hanya sekedar menjemputnya dari sekolah tempatnya mengajar. Aku menghubungi Ditto berkali-kali, tapi tidak ada respon satu pesan bahkan satu panggilan balik pun. Akhirnya ku kirimkan pesan yang berbunyi
Mas, nanti aku jemput yaa aku kangen

Tepat pukul 16.00 WIB, aku sudah berada di depan salah satu sekolah menengah pertama di Yogyakarta. Aku menantikan kedatangan Ditto, sambil melirik ponsel yang diam seribu bahasa sedari tadi. Aku menunggunya didepan gerbang, bersama dengan anak anak yang sedang menunggu orangtuanya. Setelah 15 menit berlalu, aku melihat Ditto tergopoh-gopoh menuju motornya. Aku senang sekali bisa melihatnya, walaupun dia sudah tidak seperti dulu.
"Mas Dittoooo!!" Panggilku sambil melambaikan tangan kepadanya.
Dia hanya melirik sebentar, dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk berkata 'Kangen', dan aku sadar sepertinya Ditto kurang menyukai keberadaanku disini. Aku hanya menunduk dan menghela nafas panjang, hatiku bergetar seperti akan ada air mata yang terjatuh. Aku masih melihatnya, yang sekarang sudah berjalan mendekatiku.
"Kamu ngapain disini?" Tanya dia dengan muka datarnya.
"Tadi kan aku udah wa kamu Mas, kalo aku mau jemput kamu"
"Kan aku bawa motor sendiri, ngapain dijemput. Aku kan bukan anak SD lagi"
Aku terdiam, tak membalas kata-katanya yang menusuk hati.
Kami terdiam sekitar 20 detik, hingga akhirnya dia memulai berbicara kembali
"Aku mau kerumah Suryo. Kamu pulang aja, besok gausah dijemput." ucap Ditto sambil menarik gas motornya keluar dari area sekolah.

Aku pun akhirnya pulang dengan tangan kosong, hati kosong, dan pikiran kosong. Aku tidak habis fikir dengan sikap Ditto akhir-akhir ini. Dia begitu jijik melihatku, bahkan memegang tanganku saja dia enggan. Setiap kali aku berusaha menyenderkan kepalaku di pundaknya, pasti dia selalu menghindar. Apa salahku?, Entah.

Hari itu, temanku bekerja di Bekasi dulu ingin berlibur ke Jogja, yaa dia adalah Mita dan suaminya tentunya. Aku menyambut baik berita itu, aku kirimkan persetujuanku untuk memandu mereka berkeliling jogja.
"Mau kemana ajaa emangnya pengantin baruu?" Ucapku sambil tertawa di telepon sore itu
"Kemana ajadeh yang penting enggak rame trus seger, pengantin baru apaan kamu tuh yang pengantin baru" balasnya sambil meledek
"Hettt yaudah besok aku pikirin ya tujuan wisatanya kemana aja, aku ajakin Ditto yaa biar bisa nyupirin boleh?"
"Boleh banget dongg biar bisa doubledate kitaa haha"
"Emm okeeydehh nanti aku kabarin lagi yaa"
"Okeey makasih ya Sof"
"Sama sama"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 06, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SOFIAAA..Where stories live. Discover now