Bunyi persegamaan terdengar nyaring memenuhi ruangan kerja milik sang bos perusahaan, andai saja ruangan itu tidak kedap suara. Pekerja yang lain pasti sudah bisa mendengar kegaduhan dari kegiatan tak senonoh itu.
Drttt... Drttt....
"Shh.. Sayang tunggu sebentar" Arkana mencengkram pinggang sang kekasih yang masih aktif turun naik, padahal ia sudah memintanya memberi jeda. Agar ia bisa mengangkat telpon yang terus berdering sendari tadi.
"Hei sayang, setidaknya biarkan aku mengangkat telpon sebentar" Chandra, pemuda manis yang menjabat sebagai sekretaris sekaligus selingkuhan Arkana itu mencebikkan bibirnya kesal ketika mendengar ucapannya barusan.
"Tidak perlu di angkat, itu pasti dari istri kamu. Biarkan saja dia menunggu sampai permainan kita selesai" Chandra kembali menggerakkan pinggulnya, ia tidak ingin kegiatan menyenangkan ini terganggu hanya karena seseorang yang tidak penting.
"Akuhh, tahu sayang. Tapi jika aku tidak mengangkat telponnya dia pasti akan curiga" sebelah tangannya Arkana gunakan untuk meraba ponselnya yang masih saja berdering, sedangkan sebelah tangannya lagi memeluk pinggang sang kekasih yang masih bergerak dengan semangat.
'Kau di mana?' nada ketus langsung terdengar begitu telpon tersambung.
"Tentu saja di kantor, memangnya di mana lagi?" Arkana mengkode sang kekasih untuk berhenti bergerak, namun pemuda manis itu mana mau menurut. Karena bukannya berhenti Chandra malah semakin menjadi.
'Lalu kenapa kau baru mengangkat telpon?, aku sudah menelpon mu dari tadi!!' Rakiel, istri dari Arkana itu berteriak marah di seberang sana.
"Aku sibuk sayang- nghh" Arkana menengguk ludahnya kasar ketika ia malah kelepasan mendesah.
'Kau sedang apa hah?!, apa kau sedang selingkuh dari ku?!!' Rakiel semakin berteriak marah ketika menyadari ada yang aneh dari nada bicara sang suami.
"Ma-mana mungkin sayang, aku tidak berani" Ucap Arkana sedikit tergagap.
'Huh! Baiklah, tapi jika kau sampai ketahuan selingkuh. Kau akan tahu akibatnya'
Bip!
Arkana sudah akan membuka mulut untuk membela diri namun sambungan telepon sudah di tutup begitu saja.
Grep!.
Dengan satu tangan Arkana mendudukkan tubuh Chandra ke atas meja.
"Maaf sayang, tapi aku harus pergi sekarang agar istriku tidak curiga" ucap Arkana sembari menatap kekasih gembulnya itu.
"Apa kamu bercanda?, kita saja bahkan baru mulai" Chandra menatap kesal Arkana yang kini sedang merapihkan pakaiannya, padahal permainan mereka baru saja di mulai. Tapi pemuda tampan itu malah berniat untuk pergi.
"Aku tidak punya pilihan lain sayang, kamu mengerti kan?" Arkana mencium kening Chandra sekilas, lalu kembali sibuk merapihkan barang-barangnya yang berserakan di atas lantai.
"Yah, mau bagaimana lagi. Lagipula Apapun yang aku katakan kamu pasti akan tetap pergi kan?" Chandra ingat betul Jika selama mereka menjalin hubungan, entah sudah berapa kali ia di tinggalkan di tengah permainan.
Padahal yang memulai hubungan ini adalah Arkana sendiri, saat pemuda tampan itu sering kali mengeluh kepada Chandra tentang istrinya yang sudah tidak cantik lagi di matanya. Apalagi setelah lima tahun menikah Rakiel kini menjadi sangat cerewet. Dia akan selalu bertanya tentang semua kegiatannya di kantor, Arkana juga harus mengangkat telpon dari Rakiel tepat waktu. Jika telat sedikit saja istrinya itu pasti akan mengomel.
Arkana tidak tahu kenapa Rakiel menjadi sangat protektif sekarang, padahal saat awal pernikahan dia tak semengesalkan itu.
"Sayang-"
