Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

chapter-1

24 5 8
                                        


Seorang gadis tengah duduk di halte bus sambil sesekali menyesap echoco tiramissu untuk menghangatkan tubuh. Hujan turun dengan tenang, tidak melumpuhkan kegiatan kota Seoul. Ibu kota negara canggih, Korea selatan.

Sesekali ia memejamkan mata, menikmati angin malam dan suara indah hujan. Ada beberapa mobil berlalu lalang di hadapan gadis itu. Namun kenapa tak ada satupun bus yang lewat?

Gadis dengan nama Kim Minju dengan kecantikan yang luar biasa. Senyum di bibirnya jarang sekali terlepas. Rambut panjang indah, tergerai menutupi mantel yang ia kenakan.

Lama menunggu bus yang tak kunjung datang, Minju berfikiran untuk menghubungi oppanya. Dan sialnya, ponselnya lowbat.

Minju ingin menangis saat ini juga. Ia merutuki kebodohannya karena sekarang jam sudah menunjukan pukul 20.15. Mana mungkin ada bus lewat.

Tin...tin...

Saat tengah asyik merutuki kebodohannya, Minju mendengar suara klakson mobil. Ia mendongak menemukan seorang pria tengah menatapnya datar dari dalam mobil lamborghini berwarna hitam.

"Mwo, Jeno? Kamu ngapain di sini?"

"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain di sini?" pria bermarga Lee itu masih menatap Minju datar.

"Aku? Aku nungguin angkutan umum lewat," jawab Minju sedikit bertriak agar Jeno mendengarnya. Jangan lupakan senyum yang selalu terpancar dari wajah cantiknya.

"Ck! Kamu, bego di pelihara! Naik!"
Minju tercengang. Apa katanya tadi? Bego? Enak aja. Terus terus tadi suruh naik. Naik apa coba.

"Eishhh.... malah bengong! Cepet masuk sini!" Jeno kesal sendiri mengurusi perempuan yang menurutnya IQnya di bawah rata-rata  itu.

"Hujan Jeno, kamu nggak liat?"

"Bawel!! Cepetan naik atau aku tinggal?!" dengan cepat Minju berdiri dan berlari kecil memasuki mobil Jeno. Tas jinjing yang sedari tadi di pegangnya, ia gunakan untuk menutupi kepala.

Selama perjalanan, hanya ada keheningan. Minju tertidur karena saking nyamannya berada di mobil Jeno. Jeno melirik saat Minju tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jeno hanya menghela nafas sambil menggeleng melihat Minju yang sudah pulas.

'Segitu capeknya anak kedokteran?' tanya Jeno dalam hati.

Jeno tidak kerepotan mencari rumah Minju. Toh mereka tetanggaan. Apa lagi, rumah mereka bersebelahan. Sekitar 20 menit perjalanan, Jeno berhenti di depan rumah mewah megah dengan gerbang berwarna putih yang menjulang setinggi 7 meter.

Jeno menepuk pelan bahu Minju agar terbangun. Untung Minju bukan tipe orang yang sulit dibangunkan.

Minju membuka matanya, mengerjap beberapa kali. Ia duduk diam sebentar membiarkan nyawanya kumpul terlebih dahulu. Minju menengok ke samping kirinya yang terdapat Jeno yang juga melihatnya dengan wajah datar.

Minju tersenyum hangat, kemudian mengecup singkat pipi Jeno. "Kamsahamnida tetangga baik,," Jeno sudah terbiasa mendapat kecupan, pukulan, tangisan, dan bahkan perhatian dari Minju. Mereka sudah bersahabat sedari kecil.

Setelahnya, Minju keluar dari mobil Jeno dan melambaikan tangan. Berbalik, ia memanggil satpam yang berada di posnya untuk membukakan gerbang.

                               ***

Jeno memasuki rumah dengan langkah gontai. Hari yang begitu melelahkan, menjadi psikolog ternyata bukanlah hal yang mudah untuk di raih.

"Kok baru pulang Jen?" suara berat itu mengejutkan Jeno. Jeno segera menengok dan menemukan Lee Min Ho-ayah Jeno tengah memegang cangkir dengan asap mengepul indah.

Hello Mr. LeeHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora