Sooyoung tidak ada sekalipun mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang sedang tertidur di sampingnya sejak dua jam yang lalu.
Merekam sebanyak-banyaknya yang dapat ia lihat, rambut kecoklatan yang berantakan, garis wajah yang tegas dengan rahang yang terlihat sangat sempurna, mata yang saat sedang terbuka memiliki tatapan yang begitu tajam namun melembut ketika lelaki itu menatapnya kini sedang menutup dengan bulu mata yang terlalu indah untuk dimiliki seorang lelakiㅡmenurut Sooyoung, hidung bangirnya yang selalu ia gunakan untuk menghirup feromon yang menguar dari tubuhnya, pipi yang halus tanpa cela, lalu bibirnya yang sedikit terbuka dan mengeluarkan dengkuran halus. Bibir yang selama ini selalu digunakan untuk mengucapkan kata-kata menyenangkan kepadanya, yang selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan pula untuk dirinya.
Berbagai memori pun terputar dalam benak Sooyoung saat ini, pertemuan pertama mereka hingga akhirnya ia bisa berada di sebelah pria ini saat ini. Akhirnya Sooyoung melepaskan pandangan dari laki-laki tersebut untuk melirik jam yang terletak pada dinding dihadapannya.
15 menit lagi sebelum tengah malam
Sooyoung menghela napas panjang kemudian kembali menatap pria itu dan mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah wajah pria itu. Diusapnya perlahan, mulai dari matanya, turun ke pipi, bibirnya, dan berakhir pada pipinya lagi. Tatapan Sooyoung saat ini benar-benar tidak bisa dibaca.
Perlu ditegaskan, Sooyoung bukanlah istri dari pria ituㅡYook Sungjae, pewaris utama dari Sechs Blolanden Ltd., perusahaan multinasional yang bergerak dibidang konstruksi dan alat berat yang paling besar di Korea Selatan, setidaknya untuk saat ini begitu. Bukan hanya sekali lelaki tampan itu meminta Sooyoung menjadi istrinya, namun Sooyoung menolak dengan alasan belum siap. Sungguh, entah terbuat dari apa hati lelaki itu sehingga ia dapat terus menerima alasan Sooyoung walau dengan syarat wanita itu harus tinggal bersamanya.
Lucunya, lima menit sebelum tengah malam, hujan mulai turun cukup lebat, seolah-olah menemani kegelisahan hati Sooyoung saat itu. Malam itu kepalanya dipenuhi dengan keraguan, tidak dapat disangkal, tetapi ia tahu persis tujuan utamanya mendekati si bungsu dari keluarga Yook ini sejak empat tahun terakhir. Ia sendiri pula yang meyakinkan dirinya ini semua demi membantu kakaknya, membantu keluarganya, maka ia tidak boleh jatuh hati dengan lelaki itu agar tujuannya tercapai, namun sungguh sebuah kebohongan apabila ia mengatakan tidak merasakan hal lain pada lelaki dihadapannya saat ini.
Sooyoung kembali menatap sayangㅡwalau nampak sinar matanya memancarkan kekalutan yang luar biasa, dan mengelus pucuk kepala laki-laki yang sedang tertidur itu, atau lebih tepatnya dipaksa tidur karena obat tidur yang dicampurkan Sooyoung di makan malamnya tadi. Sebentar lagi orang suruhan kakaknya akan tiba di mansion milik Sungjae ini dan melancarkan aksinya. Sooyoung sendiri bertugas untuk menghabisi tuan muda Yook ini, pisau lipat kecil terlihat dari gaun tidurnya yang tersingkap.
Ini sudah sepuluh menit lewat tengah malam, lalu tidak lama kemudian Sooyoung mendengar deru mesin mobil yang disusul dengan suara tembakan.
Ya inilah saatnya.
Ia benar benar menangis menatap laki-laki yang selama empat tahun terakhir ini selalu bersamanya, membantunya, menyayanginya, dan berat untuk dikatakan tapi benar adanyaㅡmencintainya. Kini bulir air mata Sooyoung semakin tumpah ruah saat orang suruhan kakaknya telah tiba di depan pintu kamar yang ditempatinya dan menyuruh Sooyoung untuk segera melancarkan aksinya.
Sooyoung sangat bimbang, tentu saja, ia juga manusia yang punya perasaan, sebagaimanapun kerasnya ia berusaha untuk tidak jatuh pada sesosok Yook Sungjae pasti ada sedikit remahan hatinya yang telah terperangkap bersama lelaki itu. Namun pikiran Sooyoung kembali melayang pada ucapan kakak laki-lakinya yang sedari awal berpesan, mengatakan ini semua demi pembalasan dendam akan keluarga Yook yang menghancurkan perusahaan ayahnya hingga ayahnya sakit dan meninggal tidak lama setelah kejadian itu. Belum lagi kondisi ibunya yang jelas sangat menurun karena ditinggal oleh suami tercintanya dengan keadaan yang buruk.
Sooyoung menutup matanya sebentar, menarik napas dalam-dalam mencari kekuatan. Kemudian Sooyoung mulai bangkit dari tidurnya, ia mulai mencium kasar lelakinya itu, air matanya membasahi kedua pipi Sungjae. Sembari mengucapkan 'aku mencintaimu, maafkan aku' secara lirih, Sooyoung mengeluarkan pisau kecil dari balik gaun tidurnya dan ia arahkan pada nadi di tangan kanan si bungsu Yook. Satu goresan yang pelan namun dalam, seketika itu pula darah memancar dari sana. Kini tangan Sooyoung dan tempat tidurnya juga sudah dipenuhi darah dari laki-laki dihadapannya itu.
Dengan segera ia melepaskan ciuman itu dengan napas yang terengah-engah, tangisannya pula menjadi semakin menjadi. Ia mengelus sayang kepala laki-laki itu untuk terakhir kalinya sebagai salam perpisahan.
Saat ia beranjak untuk pergi secepatnya dari tempat itu, dengan tiba-tiba lengan kirinya dihentikan oleh genggaman tangan kiri Yook Sungjae. Sooyoung jelas kaget setengah mati dan langsung menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya, namun lelaki itu hanya menampilkan ekspresi datar, tetapi matanya dipenuhi dengan emosi yang bercampurㅡsedih, marah, mungkin juga sakit? Entahlah, terlalu banyak emosi yang dipancarkan mata lelaki itu untuk Sooyoung perhatikan. Namun yang paling mengejutkan Sooyoung adalah ucapan laki-laki itu selanjutnya,
Pergilah dari dunia ini sebelum aku yang akan mengirimkanmu ke neraka paling bawah dengan tanganku sendiri.
Ucapan itu sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar, namun Sooyoung bisa dengan sangat jelas mendengar hal itu meski keadaan di luar yang sangat tidak kondusif akibat serangan dari orang suruhan kakaknya. Namun setelahnya pegangan pada lengan Sooyoung segera mengendur dan kesempatan itu yang digunakan Sooyoung untuk segera pergi dari tempat itu.
Begitu ia melangkahkan kaki keluar kamar, keadaan yang dapat ia lihat dari lantai dua mansion tersebut tidak lebih baik dari kondisi setelah perang seperti di film-film yang selalu ia tonton. Ia terpaku menatap banyaknya genangan darah pada meja makan yang baru lima jam yang lalu ia gunakan untuk makan malam, lalu matanya menyusuri ruang keluarga tempat ia bersantai sehari-hari yang kini dipenuhi dengan beberapa mayat yang ia ketahui merupakan penjaga dan butler dari mansion itu.
Pikirannya yang melayang-layang segera terhentikan ketika melihat Kim Jongdaeㅡorang kepercayaan kakaknya, menghampirinya. Ketika Jongdae melihat tangannya yang bergetar berlumuran darah, ia tersenyum padanya, dan mengatakan apa yang telah ia lakukan sudah sangat baik.
Namun senyuman Jongdae segera luntur ketika ia mendengar suara mobil lain yang datang dan disusul dengan tembakan. Wajah Jongdae berubah pias kemudian ia segera menarik lengan Sooyoung dan mengajaknya masuk ke mobil yang terparkir di depan mansion itu kemudian langsung melesat cepat menjauhi mansion yang kini dipenuhi dengan peluru, mayat, dan darah. Mobil itupun tidak luput dari hujanan tembakan dari orang-orang yang baru saja sampai ke mansion itu.
"Nampaknya anjing-anjing si Yook bajingan itu telah datang, kasihan sekali mereka hanya jadi pahlawan kesiangan." ujar Jongdae sambil terkekeh pelan. Sooyoung hanya bisa menatap sendu keluar jendela mobil yang kini sedang melaju menuju kediaman kakaknya. Pikirannya kembali melayang pada saat-saat ia menjadi algojo bagi si bungsu dari keluarga Yook itu. Namun seketika itu juga badannya mengeras mengingat ucapan terakhir Yook Sungjae padanya. Entah kenapa saat ini Sooyoung menjadi ketakutan, badannya menjadi semakin bergetar.
Nampaknya Jongdae menyadari perubahan air muka Sooyoung yang terlihat terkejut dan ketakutan.
"Ada apa Sooyoung-ah?" Jongdae bertanya sambil melirik Sooyoung sebentar. Sooyoung tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala perlahan lalu menutup mata dan menghela napas panjang. Ia kembali bersandar pada jendela dan berharap dapat segera terlelap, setidaknya pikiran-pikirannya akan hilang untuk sementara.
To Be Continued.
a/n;
mungkin sangat tertebak alur cerita ini ya, hehe, semoga kalian menikmati. terima kasih sudah membaca!
YOU ARE READING
Epoch
Fanfiction(n); sebuah masa dalam hidup seseorang. Pertentangan antara kenyataan dengan dusta yang terperangkap dalam kepalanya, Sooyoung sama sekali tidak tahu mana yang benar, mana yang harus ia percayai, mana yang harus ia pilih. Tidak seharusnya ia memerca...
