1

19 2 0
                                        

Namaku hwang hyunjin, aku dipanggil hyunjin oleh orang sekitarku. Namun kini, embel-embel sajang-nim melekat pada namaku setelah aku menjabat menjadi CEO perusahaan ayahku.

Hidupku tak jauh-jauh dari drama jaman kekinian, maupun cerita romantis Cool boy dari wattpad dan situs cerita lainnya.

Biasanya diceritakan bahwa terlahir seorang babyboy berparas tampan, serta memiliki kehidupan sempurna. Kekayaan yang berlimpah, wanita dimana-mana hingga perjodohan keluarga.

Ah kupikir aku sudah gila. Kini keluargaku tengah duduk tenang menunggu keluarga lain yang akan datang pada makan malam kali ini.

Bukankah sudah kukatakan hidupku seperti film yang tertebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Halo tuan hwang"

Kudengar sapaan manis seorang wanita paruh baya memasuki ruang VIP restoran, menyapa keluargaku hangat saling melempar pujian satu sama lain. Mereka duduk dibangku kosong, tepat dihadapanku, gadis cantik putri tunggal pemilik perusahaan Hweji corp. Hwang yeji. Marga kami sama, tapi kami bukanlah keluarga.

"Bagaimana kabarmu hyun?" Tanya mama yeji padaku

"Tentu baik" ucapku

"Baguslah, yeji baru datang dari jepang. Dia membelikanmu oleh-oleh" ucap mama yeji

Aku hanya tersenyum manis menunggu gadis itu memberikan oleh-oleh murahannya dari dalam paperbag.

"Terima kasih" ucapku

Aku mengintip sedikit isinya, hanya sebuah piring sejarah yang antik. Sudah berapa piring yang ia berikan padaku? Aku saja tak bisa menghitung berapa kali gadis itu menghadiahkanku barang antik seperti ini.

"Jadi, apa kita akan membicarakannya sekarang?" Tanya ayah yeji

"Tentu saja, untuk membersihkan citra hyunjin di kantor, yang kini di cap sebagai gay. Kita adakan saja pernikahan antara yeji dan hyunjin" ucap ayahku

Sudah kukatakan, ini lebih mudah tertebak dibanding drama romansa jaman dulu. Aku terdiam sesaat, ingin mengubah sedikit saja takdir hidupku.

"Aku sudah punya pacar ayah" ucapku

Ayah menatapku konyol, aku tak pernah membantahnya seperti ini. Mungkin ia merasa sangat kesal, perusahaan hweji tentu akan ada ditanganku jika saja aku menikahi yeji.

"Apa maksudmu hyun?" Tanya mama yeji

"Maaf, tapi aku punya pacar. Seorang perempuan hebat, dan aku akan menikahinya" ucapku

Faktanya kini aku tengah single. Aku tak tau, wanita hebat mana yang kukatakan. Aku hanya perlu meyakinkan mereka, agar perjodohan ini dibatalkan begitu saja.

"Kau bercanda bukan?" Ucap ayah sedikit menekankan kata-katanya

"Tidak ayah" ucapku serius

Tatapan ayah menjadi lebih serius, bahkan suasana didalam ruangan menjadi lebih gelap.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan di kantor" ucapku

Aku menunduk memberi salam lalu keluar dari ruangan. Lelah rasanya harus mengikuti segala perintah si tua mata duitan itu.

Aku sampai di kantorku, memeriksa email yang masuk. Mengecheck beberapa berkas, dan menandatangani berkas lainnya. Aku melonggarkan dasiku, kuharap perjodohan gila itu terhentikan.

Bagiku, menghandel 1 perusahaan besar ini saja sudah membuatku kewalahan, apalagi jika 2 perusahaan besar yang digabung. Bisa-bisa aku yang mati karna lelah. Aku tak ingin mati muda.

"...3...2....1" hitungku

Sebuah gebrakan pintu membuatku tersenyum, ayah datang dengan kemarahannya. Mendatangiku dengan cepat lalu menamparku keras.

"Bukankah aku menyuruhmu untuk bersikap baik dihadapan mereka?!" Bentak ayah

Aku hanya diam, tak ingin sedikitpun melawan perkataannya. Ia sangat marah, bahkan kini menamparku untuk kedua kalinya.

"Hentikan yah" ucapku pelan

"Apa kau bilang?! Hentikan?! Kau membuatku malu hyun! Kau membuatku ingin membuangmu jauh, rasanya aku salah mendidik anakku sendiri" ucap ayah marah

Aku tersenyum miring, tentu saja ini salah ayah. Sikap pembangkang ku tentu menurun dari ayah.

"Tentu saja, ayah salah mendidikku. Sikapku yang begini, cerminan dari ayah bukan?" Ucapku tersenyum

Ayah menamparku kembali, kali ini kurasa pipiku sudah sangat memerah bahkan lecet.

"Aku tak mau tau, bulan depan kau harus menikah. Mau dengan pacarmu, atau yeji. Pokoknya kau menikah" ucap ayah kesal

Ia meninggalkanku. Sial. Ini benar-benar sakit. Aku berjalan menuju minimarket dekat kantorku. Berjalan gontai sambil menahan rasa perih dipipiku.

Kurasakan kepalaku mulai sakit, rasanya bumi berguncang dengan keras. Berputar melawan gravitasi, membuatku terhuyung dan menabrak salah satu tiang dipinggir jalan. Semuanya terasa ringan, rasanya aku tengah berada diatas kasur empuk hingga berjam-jam lamanya. Tentu saja hal itu mustahil terjadi pada hidupku.

"D---dia sudah sadar seonbae"

Aku mengerang kesakitan, guncangan bumi masih belum reda. Kurasa aku terlalu mual jika membuka mataku lagi.

"Pasien, anda mendengarku?"

Aku mengangguk, membalas pertanyaannya.

"Apa yang kau rasakan? Apa sangat pusing?" Tanyanya lagi

Aku mengangguk lagi untuk jawaban. Aku merasakan tusukan suntik pada kulitku, sedikit perih. Aku membuka mataku, menatap gadis yang tengah memeriksa keadaanku. Seorang dokter wanita pertama yang merawatku. Terlihat cantik dan imut diwaktu yang sama.

"Pipimu sudah diberi salep, dan juga luka di dahimu sudah diobati. Setelah ini, akan diberikan obat tablet. Kuharap, obatnya diminum ya" ucapnya ramah

Aku memegang pergelangan tangannya, menahannya yang akan pergi.

"Maukah kau menikah denganku?" Tanyaku serius

MY TIMEWhere stories live. Discover now