In Another Life

18 2 0
                                        

Di masa kolonial Belanda, ketika Indonesia masih berada dalam masa-masa kelam penjajahan, hiduplah seorang tuan berkebangsaan Belanda bernama Eldrian van Dervin. Ia menetap di Bandung dan dikenal sebagai sosok yang berpengaruh di kota itu. Wajah nya selalu terlihat tegas dan dingin, membuat banyak orang segan kepada nya. Namun di balik sikap nya yang keras, Eldrian justru sangat baik kepada pribumi. Ia sering membantu rakyat kecil, memberi perlindungan, bahkan memperlakukan mereka selayak nya manusia, sesuatu yang jarang di lakukan para bangsawan Belanda saat itu.

Tetapi ada satu rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Eldrian memiliki seorang kekasih bernama Ranu, seorang pemuda pribumi dengan wajah cantik dan senyum manis yang selalu berhasil meluluhkan hati nya. Hubungan mereka adalah sesuatu yang mustahil di terima pada zaman itu, bahkan hubungan antara lelaki Belanda dan perempuan pribumi saja masih sering di pandang rendah oleh banyak orang, apa lagi hubungan sesama pria seperti mereka.

Karena itu lah, cinta mereka hanya hidup di balik pintu-pintu tertutup.

Tidak ada yang tahu bahwa Tuan yang paling di segani di kota itu selalu menyempatkan diri pulang lebih cepat hanya untuk menghabiskan berdua bersama Ranu sang pujaan hati nya. Dan lelaki yang selalu terlihat dingin itu bisa tersenyum begitu lembut hanya karena satu panggilan kecil dari pemuda yang di cintai nya.

"Tuan..."

"Ya?"

"Kenapa tuan melihat ku seperti itu terus?" tanya Ranu pelan sambil tersenyum kecil, merasa malu karena sejak tadi Eldrian terus menatap nya.

Eldrian yang duduk di samping nya hanya tersenyum tipis lalu meraih tangan pemuda itu.

"Karena aku takut suatu hari nanti aku tidak bisa melihat mu."

Ranu mendecih pelan sambil menggoyangkan tangan mereka perlahan.

"Tuan terlalu banyak berpikir, aku akan selalu bersama tuan apa pun yang akan terjadi nanti."

"Aku serius." ucap Eldrian lalu mengecup punggung tangan Ranu lembut. "Hubungan seperti kita tidak akan pernah di terima."

Ranu yang mendengar itu terdiam sesaat.

"Kalau suatu hari orang-orang mengetahui semua ini, mereka akan memisahkan kita, Ranu" lanjut Eldrian lirih sembari mengerat kan genggaman tangan nya.

Ranu menatap lelaki itu lama, lalu tersenyum sambil menyentuh pipi Eldrian dengan lembut.

"kalau begitu, biarkan hubungan kita ini tetap menjadi rahasia tuan dan aku."

Eldrian terkekeh pelan, tatapan dingin nya yang biasa membuat orang takut kini berubah begitu lembut saat memandang Ranu. Jemari nya melepaskan genggaman pada tangan sang kekasih, lalu beralih meraih pinggang pemuda itu dan menarik nya ke dalam pelukan hangat.

"Aku mencintaimu." bisik Eldrian sembari mengecup puncak kepala pemuda manis itu.

Ranu yang mendapatkan perlakuan itu, tersenyum malu di dalam dekapan sang kekasih.

"Aku lebih mencintaimu tuan."

Hari-hari berlalu dan hubungan mereka di penuhi kebahagiaan sederhana. Seperti minum teh bersama di sore hari, berjalan bersama di kebun belakang rumah besar milik Eldrian, atau sekedar berbincang hingga larut malam sambil memeluk satu sama lain di tempat tidur besar milik Eldrian.

Namun, kebahagiaan itu runtuh ketika tentara Jepang mulai memasuki Indonesia.

Kabar mengenai penangkapan dan pembantaian orang-orang Belanda menyebar dengan cepat. Dan Eldrian menjadi salah satu target karena pengaruh besar nya di Bandung serta kedekatan nya dengan pejabat Kolonial.

In Another LifeStories to obsess over. Discover now