Aku dalam perjalanan pulang dengan mobil yang disopiri Pak Rahman. Malam sudah mulai gelap. Jam 8. Kemacetan Jakarta membuatku melamun sesaat. Mobil bergerak pelan, namun dalam jarak yang tidak terlalu jauh.
Aku menatap nanar pada hiruk pikuk kota yang tidak pernah tidur. Lelah dan rasa pusing membuatku menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil. Ku dengar suara bip pelan, menyadarkanku dari lamunan. Ku lihat Pak Rahman mengotak-atik handphonenya, dan menoleh padaku.
"Nona, Tuan Gabriel mencari Anda dari tadi. Beliau minta Anda meneleponnya."
Pasti dia marah. Aku memang tidak menghubungi dia seharian ini, lantaran insiden dengan Michelle. Dulunya, Michelle adalah sahabat baikku. Ia adalah gadis periang yang mengajakku berteman meskipun aku menutup diri dan tak seorang pun di kelas yang menyapaku. Ia adalah satu-satunya temanku, namun hal itu tentu tidak berlaku sebaliknya.
Michelle yang ramah berteman dengan semua orang, namun ia hanya dekat denganku. Ia bilang bahwa aku lebih mengerti dirinya, dan ia lebih senang jika mengobrol denganku. Persahabatan kami berlangsung hingga tiga tahun, dan berakhir begitu saja saat pria yang disukainya akhirnya menikah denganku.
Gabriel.
Michelle telah mengenal dan menyukai Gabriel sejak kecil. Gadis itu terang-terangan mengatakan padaku, menceritakan semua hal tentang Gabriel, dan tiada hari tanpa menceritakan apa yang dilakukan Gabriel hari ini. Hal itu membuatku hafal beberapa kebiasaan Gabriel.
Pada saat menjelang ujian akhir, siapa yang menyangka bahwa Gabriel akan berakhir denganku. Kami dijodohkan oleh orang tua kami. Cerita klise tentang cinta segitiga, dimana aku harus mengkhianati sahabatku sendiri. Sejak saat itu Michelle menjauhiku, bahkan bersikap memusuhiku ketika ia tahu bahwa kami kuliah di jurusan yang sama.
Ia sering bersikap jahat padaku, mengetahui bahwa tidak akan ada orang yang membelaku. Ia pernah membuang bukuku, menyobek tugasku sebelum aku berhasil mengumpulkannya - hingga aku mendapatkan nilai C, karena aku akhirnya mengerjakan ulang dan mengumpulkannya melebihi batas waktu yang telah ditentukan.
Puncaknya, ketika pagi ini ia mendengarkanku saat Gabriel meneleponku untuk menanyakan letak dvd game yang baru saja dibelinya. Pada saat aku menutup telepon, Michelle merampas handphoneku. Gadis itu membuang handphoneku entah kemana hingga aku menghabiskan waktu seharian untuk menemukannya. Nihil, handphone itu sudah raib entah kemana.
Aku memutuskan untuk menelepon Gabriel sebelum ia menjadi semakin marah.
"Emmm, saya boleh pinjam handphone Bapak sebentar?"
Pak Rahman mengulurkan handphonenya padaku dan aku menerimanya. Ku dekatkan ke arah telinga dan menunggu panggilan tersambung. Gabriel mengangkat dalam beberapa detik.
"Halo"
"Hai ..." bisikku pelan
"Mia? Kau dari mana saja? Kenapa handphonemu tidak aktif?" Kalau saja yang ku dengar bukan suara Gabriel, pasti aku menyangka bahwa dia mencemaskanku. Sayangnya, ini adalah Gabriel, pria pemarah yang tak segan membentakku ketika aku membuat kesalahan.
"..." Aku terdiam sesaat.
"Mia ..."
"Handphoneku ... hilang"
"Hilang? Bagaimana bisa?" Ku dengar Gabriel menghela nafas pelan. "Mia, kau sudah dalam perjalanan pulang?"
"I, iya" Ujarku sedikit takut. Gabriel bisa menjadi sangat menyeramkan jika sedang marah.
"Nanti kita bicara"
"Hmm"
Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Aku segera mengembalikannya pada Pak Rahman seraya mengucapkan terima kasih. Dalam mobil aku berusaha memikirkan apa yang akan ku katakan pada Gabriel. Ia tidak boleh tahu tentang apa yang dilakukan Michelle padaku. Ia bisa semakin marah, dan bisa jadi ia tidak akan memperbolehkanku kuliah. Bahkan mungkin ia akan mengurungku di rumah. Gabriel memang sedikit posesif - selain pemarah tentunya, hal yang mengherankan mengingat kami tidak memiliki perasaan apapun, selain kami terikat pada perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua kami.
Usia pernikahan kami baru satu bulan, dan kami masih tidak bisa mendeskripsikan kata yang tepat untuk hubungan kami.
