We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prologue: Sekolah Impian

38 5 0
                                        

Di sebuah sekolah menengah ke atas yang bernama Alexander High School, di mana hanya orang-orang kaya dan pintar yang bisa bersekolah di sana. Fasilitas yang penuh dengan kemewahan dan juga pengajar-pengajar yang berkualitas tinggi menjadi satu daya tarik tersendiri dari sekolah ini. Banyak orang yang mencoba untuk masuk ke Alexander School tetapi hanya sedikit yang bisa lolos tahap demi tahap. Mulai dari tes kesehatan, wawancara, dan juga tes kejiwaan yang harus dilewati setiap siswa yang mendaftar, tentunya bukan hal yang mudah bagiku melewatinya. Alexander School merupakan sebuah sekolah impian di kota Dunch, semua remaja tentunya mau bersekolah di sana. Selain fasilitas dan pengajar yang berkualitas tinggi sekolah ini menyediakan asrama yang berada di dalam lingkungan sekolah. Keamanan di sekolah maupun di asrama sangat dijaga dengan ketat.

Kebahagiaanku bermula saat aku menerima surat penerimaan yang berasal dari Alexander School. Tanganku gemetar dan seketika berkeringat dingin ketika membuka surat itu. Tak sabar aku menunggu hari di mana aku pergi ke sekolah idamanku. Akhirnya hari itu telah tiba, aku memasuki gerbang sekolah gerbang yang menjulang tinggi ke langit serta kokoh terbuat dari perak. Di depan sekolah ada sebuah taman yang sangat indah dan menawan, berbagai jenis bunga tertanam di taman itu. Saat aku melewati taman itu, ku lihat di arah yang berlawanan ada seorang lelaki berambut cokelat menawan dan berkaca mata yang sedang membaca buku. Sungguh pemadangan yang sangat tak terlupakan ketika disambut dengan pemandangan seperti ini. Aku berharap kami bisa bertemu kembali dan mengenal satu sama lain.

Di sekolah ini aku memiliki seorang sahabat yang bernama Valerie, dia sangat cantik, pintar, rambutnya ikal, panjang, berwarna hitam, dan seorang yang populer. Anehnya, orang yang paling populer, cantik, dan bahkan disukai oleh banyak pria mau berteman denganku, yang cantik standar, pintar pas-pas saja, pendiam, dan tidak populer sama sekali. Walaupun kami memiliki kepribadian yang berbeda tetapi kami bisa bersahabat dekat. Persahabatan kami berjalan dengan baik sampai suatu hari Valerie memutuskan untuk berpacaran dengan Vander seorang kakak kelas yang berada di tingkat 2 SMA, padahal mereka belum lama kenal namun Valerie mau menerimanya begitu saja.

Persahabatan kami pun semakin merenggang dan seperti tidak saling mengenal. Valerie hanya memikirkan Vander dan juga menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya. Namun disaat yang bersamaan ketika Valerie sudah mulai meninggalkan aku, aku dekat dengan seseorang yang sangat istimewa. Sejak pertama kali melihatnya aku tertarik dan sepertinya aku jatuh cinta kepadanya. Tak pernah kusangka kami bisa dekat karena dia kakak kelas di kelas 12 SMA di Alexander School. Perpustakaan adalah sebuah tempat yang mempertemukan kami berdua, tempat yang kurang menarik bagi sebagian orang. Namun bagiku perpustakaan adalah tempat yang luar biasa, buku-buku yang menjadi jendela dunia serta tempat pertemuan yang sempurna bagiku.

Waktu itu aku ingin mencari buku lalu pulang ke asrama untuk mengerjakan tugas, itulah tujuan awalku ke perpustakan sekolah. Sore itu aku pergi ke perpustakaan sekolah sekitar jam 4 sore. Aku mencari buku yang kubutuhkan untuk mengerjakan tugasku, tetapi saat itu tidak kutemukan juga. Dari kejauhan aku melihat buku yang aku butuhkan yaitu di atas meja perpustakan yang terletak di ujung perpustakaan. Banyak buku yang berserakan di atas meja tersebut, namun tidak ada satu orangpun di meja itu.

"Buku itu harus dijaga. Udah dibaca malah dibiarkan begitu saja sih," gumamku.

Lalu kuambil semua buku itu lalu kuberikan ke petugas perpustakaan, lalu ku ambil buku yang kubutuhkan. Sesaat setelah aku mau pergi buku itu dan ingin pulang ada seseorang menepuk pundakku dan berkata, "Apa yang sudah kamu lakukan?"

"Apa? Memangnya aku sudah berbuat tindak kriminal apa?" tanyaku

"Kamu tahu bahwa semua buku yang berserakan di atas meja dan juga buku yang kamu pegang adalah buku yang sedang ingin aku pinjam," jawabnya.

Lalu dia bertanya kepadaku, "Kamu anak baru di sekolah ini ya?"

"Iya ka aku murid baru di sekolah ini, jadi belum terlalu kenal dengan semua kakak kelas. Maaf ya ka untuk kebodohan yang kuperbuat," jawabku.

Namun dia tidak mengejek atau menghinaku karena aku telah berbuat salah kepadanya dia malah berkata," Kenalkan namaku Maxx Stewart panggil saja Maxx dari kelas 11.1." "Kenalkan aku Milie dari kelas 10.2 ka," kataku. Setelah itu kami berdua pulang ke asrama bersama dan aku senang karena setiap kali aku kesulitan Maxx mau membantuku mengerjakannya di perpustakaan sekolah tiap pulang kelas. Namun ada satu hal yang baru kuketahui setelah mengenalnya, Maxx bukan hanya pendiam, kutu buku, pintar, baik, ternyata dia seorang lelaki yang dapat meretas sistem apapun. Keren bukan?

Sudah 2 bulan berlalu semenjak Valerie tidak lagi bercerita denganku. Pernah suatu kali ketika Valerie memainkan ponselnya seketika itu dia langsung bertengkar dengan teman kelas kami karena tersebar rumor bahwa Valerie merebut Vander dari teman kami. Anehnya tidak hanya sekali atau dua kali rumor beredar di sekolah kami. Pernah suatu kali tersebar rumor mengenai teman sekelasku yang bernama James, seorang yang sok tahu, nakal, suka menggoda, dan juga kaya tersebar kabar bahwa dia tidak berasal dari keluarga kaya tetapi dia anak pungut dari sebuah panti asuhan. Banyak rumor yang beredar di Alexander School namun pembuat onar itu yang menyebarkannya belum dapat ditemukan.

Setiap 3 minggu sekali akan ada rumor yang beredar. Hari ini ada rumor bahwa diriku pernah mencuri uang dari Valerie dan dengan begitu cepat Valerie mempercayai rumor itu. Memang sebelum rumor itu beredar, uang Valerie pernah hilang dalam jumlah yang besar sekitar 15 juta. Semenjak rumor itu beredar aku dan Valerie sudah benar-benar meninggalkan dan membenciku. Lalu aku bercerita kepada Maxx yang di mana hanya dia saja yang mau mendengarkan keluh kesahku dan sangat nyaman untuk bercerita dengannya.

Aku sangat curiga bahwa Vander memberikan dampak yang buruk kepada Valerie. Terkadang aku merasa iri dengan hubungan persahabatan lainnya yang bertahan lama. Baru saja aku bersahabat dengannya sekitar 10 bulan namun persahabatan kami pupus karena rumor bahwa aku mencuri uangnya. Satu minggu kemudian tersebar rumor bahwa Valerie sudah putus dengan Vander. Senang pastinya, namun aku tahu hati sahabatku terluka ketika mendengar rumor itu. Lalu kuputuskan untuk meminta bantuan dari Maxx untuk membantu mencari siapa pelaku penyebar rumor dan pembuat onar di Alexander School ini. Kami bertekad untuk menemukan pembuat onar dan juga penyebar rumor di sekolah. Kami juga akan membongkar pelaku sebenarnya serta meminta pertanggung jawabannya atas segala kekacauan yang dilakukannya di Alexander School. Sungguh aku menantikan sampai kami menyelesaikan semua tugas kami di dalam mengungkap pelaku kriminal di sekolah kami.

Rahasia KitaStories to obsess over. Discover now