1. Tuan Juna

3 1 0
                                        

Hujan semakin deras. Membuat jalan semakin licin. Dengan kecepatan di atas rata-rata, ia terus mengemudi. Berusaha fokus, walaupun gadis di belakangnya terus mengganggu konsentrasinya.

"Saya peringatkan sekali lagi. Jika kamu tidak bisa diam, akan saya turunkan," ucap pria berjas hitam itu. Matanya menatap tajam.

Gadis itu pun hanya menurut. Dari matanya yang bening, terlihat jelas bahwa ia sangat jengkel. Akhirnya kaki jenjangnya menendang keras jok di hadapannya.

---

Tidak terasa gadis berambut sebahu itu sudah tertidur sejak lama. Dan kini, matanya menyapu ruangan yang begitu luas dengan cat putih juga beberapa barang yang sangat mewah.

"Lah, kok bisa di sini? Yang tadi mimpi atau apa sih," gumamnya.

Tiba-tiba pintu besar bercat coklat dengan ukiran yang sangat indah terbuka di hadapannya, menampilkan seorang pria dengan jas hitam yang begitu elegan, potongan rambut yang keren, dan wajahnya sangat tampan.

"Mimpi apa gue semalem, bisa ketemu cowok ganteng," ucap si gadis histeris. Dan tanpa berkata apapun pria itu membawa gadis itu dengan paksa.

"Woi, gak usah kasar juga kali!"

"Jangan banyak bicara!" sentak pemuda itu.

"Ish, percuma ganteng. Kasar," gumamnya.

Melewati beberapa ruangan yang besar, juga lorong-lorong yang panjang. Begitu luas seperti istana. Mewah. Namun, kesannya menyeramkan. Mungkin karena suasananya begitu sepi.

Sampailah kedua orang tersebut di ruangan yang begitu besar. Terlihat meja makan yang panjang juga besar. Ruangannya begitu luas dan disinari cahaya matahari yang cukup.

Dan ... pria itu.

Berusaha melepas cengkraman dari pria berjas hitam, ia berlari mendekati pria berjas abu-abu yang kini tengah menatap keluar lewat jendela-jendela lebar yang berjajar.

"Hei tuan, apa maksudmu membawaku kesini?" gertak sang gadis.

Pria itu pun menoleh, memperlihatkan wajahnya yang datar dan dingin. Namun, begitu tampan. Hingga membuat si gadis sempat terdiam, menatap ciptaan Tuhan yang begitu indah ini.

"Mengapa melihat saya seperti itu?" Si gadis yang sempat melamun pun sadar kembali.

"Ish, apa maksud tuan membawa saya kesini? Mau culik saya? Kan saya udah bilang saya ini bukan orang kaya."

"Sekarang tidak perlu berpura-pura lagi. Tidak akan ada yang melihatmu."

"Ngomong apa sih? Saya gak ngerti. Pura-pura apa?"

Pria berjas hitam tadi pun mendekat, lalu saling menatap dengan pria berjas abu-abu. Seolah ada percakapan rahasia yang mereka ucapkan lewat tatapan mata.

"Tuan Juna, apakah kita tidak salah orang?"

Pria berjas abu-abu yang dipanggil tuan Juna itu pun menatap lekat gadis di hadapannya."Kurasa tidak."

"Apa yang kalian bicarakan? Lepaskan aku. Aku ingin pulang, kejam sekali menculik anak SMA seperti aku."

Namun, percuma kedua pria itu seolah tak peduli dengan ucapan gadis yang kini menatap tajam pada mereka. Seolah seperti singa yang akan menerkam.

"Yuninta Kesya Haura." Pria itu membaca tag name yang melekat di seragam putih gadis itu.

Tangannya refleks menutup tag name nya."Jangan sebut-sebut nama aku! Aku mau pulang, nanti nenek aku nyariin," ucap gadis itu memohon.

"Baik. Tapi, setelah aku memeriksamu."

"Periksa apa? Aku gak sakit, Tuan. Kalian ini benar-benar orang aneh. Lihat saja, akan aku laporkan kalian pada polisi," ucap si gadis menggebu-gebu.

Tanpa diduga, kedua pria itu melenggang pergi tanpa mempedulikan si gadis SMA yang tengah berteriak.

Lalu tuan Juna duduk di kursi paling ujung di meja makan, menatap gadis yang tengah menatap tajam dengan wajah merah padam.

"Duduk! Setelah itu akan kupikirkan lagi." Ninta pun hanya pasrah lalu ikut duduk tak jauh dari tuan Juna. Hanya dengan sekali tepukan tangannya, belasan wanita dengan pakaian pelayan keluar dari pintu besar membawa wadah-wadah besar juga makanan yang mengundang selera.

"Mendengarmu terus mengoceh, membuat saya kelaparan."

Ninta tersenyum sinis."Dan melihat Tuan, membuatku mual." Tidak ingin lagi mengubris ucapan gadis aneh di dekatnya, tuan Juna mulai acuh.

Dilihatnya Ninta makan begitu lahap, bahkan menggunakan tangannya. Padahal garpu dan sendok sudah tersedia rapi di depannya.

"Apa kau makan sejorok itu?"

"What! Jorok? Ini adalah cara makan paling nikmat," ucapnya sambil menggigit daging sapi.

"Kau membuatku mual, Nona. Berhenti makan seperti itu."

"Jangan mengaturku, Om."

"Jangan memanggilku dengan sebutan 'Om'. Saya tidak setua itu!"

Ninta menaik turunkan alisnya. Merasa terhibur, sepertinya tuan penculik ini tengah kesal. Baiklah ini harus dilanjutkan.

"Sudahlah, Om. Saya tahu kebenarannya. Jangan berpura-pura muda," ucap Ninta dengan serius. Semoga pria di hadapannya semakin panas.

Wajahnya berubah menjadi begitu dingin. Bahkan suhu di ruangan ini seolah juga berubah dingin. Ia pun mengambil sesuatu dari balik jasnya.

"Lihat saja umur saya," ucapnya sambil memperlihatkan sebuah kartu.

"Hmm ... Ternyata penculik juga punya KTP ya, Om?" Ninta pun mengambil alih dari tangan tuan Juna dengan tangan kotornya yang bercampur kecap.

"Hei, kembalikan!"

"Sebentar, Om. Aku belum baca semua." Ninta berharap KTP ini nantinya bisa menjadi barang bukti untuk laporannya pada polisi.

Sepanjang ruangan Ninta terus berlari, berharap tuan Juna tak dapat mengejarnya. Ia harus mencari jalan keluar. Harus!

Brak!

Ninta pun tersungkur hingga KTP di tangannya berhasil direbut tuan Juna.

"Jangan kamu pikir bisa lari dari sini."

"Hahaha ...." Tawa Ninta meledak. Bagai orang yang kesurupan ia terus terbahak-bahak membuat tuan Juna dan beberapa pelayan tercengang.

"Tuan, mungkin dia kerasukan," ucap pria berjas hitam, yang sepertinya adalah asistennya.

"Dengan berlari-lari membuatnya kerasukan? Cih! Gadis aneh."

Seketika tawa Ninta berhenti, lalu berdiri di hadapan tuan Juna dengan tatapan tajam, sesekali menyeka air matanya yang keluar karena tak kuat menahan tawa."

"Iya, saya tahu kalau saya gadis aneh. Tapi, lebih aneh lagi profil KTP, Om."

"Apa maksud kamu?"

Dengan polosnya Ninta bertanya,"Nama Om, beneran Junaedi?"

Seketika wajah tuan Juna merah padam. Pelayan-pelayan pun hanya tersenyum berusaha menahan tawa. Setelah itu ia pergi begitu saja.

"Aw, sakit!" ucap Ninta ketika mendapat jeweran dari pria berjas hitam.

"Jangan membuatnya malu," bisik pria berjas hitam sambil terkekeh.

MR. ENGLISHWhere stories live. Discover now